<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138</id><updated>2012-02-17T09:25:27.619+07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Produk Olahan'/><category term='Budidaya Ikan'/><category term='Pakan'/><title type='text'>Mina Lestari</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3562509257226892097</id><published>2010-09-30T13:50:00.006+07:00</published><updated>2010-09-30T14:06:14.229+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BAGAIMANA CARA BERTELUR IKAN AIR TAWAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQ2v05zvyI/AAAAAAAAAN0/zXf5_8K3M-k/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 196px; height: 189px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQ2v05zvyI/AAAAAAAAAN0/zXf5_8K3M-k/s320/index.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522599238345932578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA REPRODUKSI IKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum diketahui bahwa ikan memperbanyak diri secara seksual dengan bertelur. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri, dijumpai beberapa variasi dari cara bertelur ikan tersebut. Apakah itu suatu penyimpangan?? Tentunya bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reproduksi ikan diawali dengan bercampurnya spermatozoid dari ikan jantan dengan telur (ovum) dari ikan betina sehingga menghasilkan telur yang dibuahi. Selanjutnya telur ini akan mengalami pembelahan sel berulang-ulang, berkembang dan akhirnya membentuk individu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebagian besar ikan, betina dan jantan merupakan individu terpisah. Akan tetapi pada beberapa fimili, seperti Sparidae dan Serranidae, jantan dan betinanya bisa terdapat pada satu invidu sehingga mereka dapat melakukan pembuahan sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai hermaphroditik (Dalam mitologi Yunani Hermaphrodite adalah anak Mercurius (Hermes) dengan Venus (Aphrodite) yang mempunyai perpaduan pria dan wanita dalam dirinya). Pada hermaphroditik, telur dan sperma sama-sama dihasilkan (baik pada waktu bersamaan, maupun berbeda), selanjutnya mereka “kimpoi” dengan jenis hermaprodit lainnya. Pembuahan sendiri secara eksternal bisa terjadi pada ikan hermaphrodit yang akan mengeluarkan telur dan sperma secara simultan. Pada jenis hermaphrodit yang lain pembuahan internal sendiri juga dapat berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Mollie Amazon dijumpai pula keunikan lain dalam cara reproduksinya. Yaitu, Mollie Amazon betina akan kimpoi dengan jenis Mollinesia lainnya, akan tetapi spermanya tidak sampai bercampur dengan sel telur. Uniknya, telur yang tidak dibuahi ini akan tetap mampu berkembang dan membelah diri serta menghasilkan individu baru. Fenomena ini dikenal sebagai gynogenesis atau pseudogamy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya individu baru ikan melalui proses tanpa pembuahan, atau dikenal sebagai parthenogenesis, juga dilaporkan berlangsung pada spesies Poecilia formosa .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses reproduksi pada sebagian besar ikan hias, pada umumnya berlangsung melalui pembuahan telur yang terjadi di luar tubuh ikan. Dalam hal ini, ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain kemudian si betina akan mengeluarkan telur. Selanjutnya si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur ini bercampur di dalam air. Cara reproduksi demikian dikenal sebagai oviparus, yaitu telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh induk ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain oviparus, dikenal pula cara reproduksi lain, yaitu ovoviviparus dan viviparus. Ovoviviparus merupakan suatu cara reproduksi dimana embrio ikan berkembang di dalam tumbuh induk betina akan tetapi tidak mendapatkan suplai makanan dari induk tersebut. Dalam hal ini tidak ada transfer makanan dari induk ke embrio. Dengan kata lain induk hanya memberi perlindungan saja, tapi tidak memberi makan. Cara reproduksi demikian dijumpai misalnya pada beberapa jenis Charasin seperti Corynopoma riisei . Pada saat kimpoi si jantan akan mendekatkan diri pada si betina selama beberapa saat kemudian akan melepaskan paket-paket sperma kedalam saluran telur (oviduct) si betina. Si betina selanjutnya akan dapat menghasilkan telur-telur yang dibuahi selama beberapa bulan, tanpa perlu kimpoi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQ1ATTdXpI/AAAAAAAAANc/pP-Rp5icD5E/s1600/TELUR+IKAN+TAWAR.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 133px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQ1ATTdXpI/AAAAAAAAANc/pP-Rp5icD5E/s320/TELUR+IKAN+TAWAR.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522597322361233042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viviparus adalah suatu cara reproduksi yang kurang lebih mirip dengan proses reproduksi yang terjadi pada mamalia. Dalam proses ini struktur menyerupai plasenta (ari-ari) akan terbentuk dan telur yang dibuahi selanjutnya akan mendapatkan makanan dari induk ikan melalui plasenta tersebut. Pada famili Enbitocidae, misalnya, embrio ikan akan mendapatkan makanan dari induknya hingga tumbuh dan mencapai ukuran 1.75 inchi. Baru kemudian dilahirkan. Ikan jantan yang dilahirkan biasanya akan sudah dalam keadaan matang seksual. Pada Heterandria formosa dapat dijumpai sejumlah embrio dengan usia berbeda dalam rongga ovarianya. Prosesnya didahului dengan lepasnya telur matang dari ovari kedalam rongga ovaria secara bertahap, kemudian dibuahi oleh paket sperma yang sudah ada disana. Bayi-bayi ikan kemudian akan dilahirkan 2 – 3 ekor setiap hari, selama periode 1- 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus ovoviviparus dan viviparus, ikan betina dapat menyimpan paket sperma hingga selama 8 – 10 bulan. Selain itu pada beberapa kasus, seekor ikan betina bisa juga menyimpan sperma dari beberapa jantan sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari cara reproduksinya ikan dapat dibagi menjadi golongan bertelur (egg layer) atau oviparus dan golongan “melahirkan” (live bearer). Golongan “melahirkan” ini terdiri dari ovoviviparus dan viviparus. Sedangkan dari proses reproduksinya dapat digolongkan menjadi heteroseksual, hermaphroditik, dan parthenogenetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;br /&gt;http://all-mistery.blogspot.com/2010/06/bagaimana-cara-bertelur-ikan-tawar.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3562509257226892097?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3562509257226892097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/bagaimana-cara-bertelur-ikan-air-tawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3562509257226892097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3562509257226892097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/bagaimana-cara-bertelur-ikan-air-tawar.html' title='BAGAIMANA CARA BERTELUR IKAN AIR TAWAR'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQ2v05zvyI/AAAAAAAAAN0/zXf5_8K3M-k/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-1288630121568635530</id><published>2010-09-30T13:33:00.002+07:00</published><updated>2010-09-30T13:46:12.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BETERNAK IKAN LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQyA0l7kwI/AAAAAAAAANU/6ebUbHiNUqk/s1600/LELE3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQyA0l7kwI/AAAAAAAAANU/6ebUbHiNUqk/s320/LELE3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522594032762196738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTIMBANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan ini cukup banyak penggemarnya di masyarakat (coba saja lihat warung-warung pecel lele, ramai terus kan). Sekarang ini, ekspor lele sudah dilakukan oleh perusahaan&lt;br /&gt;dari Belanda. Mereka sudah bisa mengekspor 20 ton lele per hari. vietnam mengekspor 70.000 ton lele pd tahun 2005 untuk pasar amerika dan eropa dengan kisaran harga $ 2,8/kg Dan untuk pasar local bekisar Rp.6.000 s/d Rp.10.000 /kg&lt;br /&gt;Modal yang dibutuhkan tidak besar berkisar 300 – 500 ribuan.&lt;br /&gt;Syaratnya punya tanah/lahan yang kosong agak cukup luas, minimal 3 x 6 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, coba ukur tanah samping/depan/belakang rumah anda atau bisa menyewa&lt;br /&gt;tempat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Hewan yang di Amerika Serikat disebut Cat Fish ini benar-benar berpotensi memuaskan hobi memelihara binatang dan mendatangkan pemasukan tambahan bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat 1 kolam ukuran kecil 2m x 3m, gali tanah sedalam 30 cm, tanah galian lalu urug-kan saja ke sekitar pinggir calon kolam. Terus beli terpal plastik yang banyak dijual di toko, seharga 50 ribuan (yang lebih mahal juga ada), tapi ini kualitasnya sudah cukup bagus. Pasang terpal plastik ke lubang kolam yang telah digali, kedalaman tanah 30 cm, tinggi permukaan tanah (dengan tanah urug sebelumnya) naik kan jadi 20-30 cm lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Sebagian di atas kolam dibuat atap pelindung, juga bagus. Sebagian terkena cahaya langsung matahari.&lt;br /&gt;info: Kalau air terlalu dangkal ukuran lele menjadi terlalu pendek karena ikan kurang bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kolam kita yang berbiaya murah. hemat biaya pasir dan semen, serta ongkos tukang bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi kolam dengan air bebas pencemaran bisa berasal dari air sungai, sumur, PAM yg sudah diendapkan. kolam sebaiknya diberi pupuk kandang,urea,tsp dan didiamkan minimal 1 minggu agar terbentuk pakan alami berupa plankton, kolam harus dlm kondisi air tdk jalan krn lele rentan terhadap perubahan air yg terus menerus dan lele akan selalu meloncat kearah sumber air mengalir. kedalaman kolam sebaiknya 120 cm dgn ketinggian air 80 cm. Air kondisikan alami seperti di rawa/sungai, perbanyak tanaman air. Beri tanam-tanaman air juga bagus, semisal teratai, ganggang air, kangkung, dsb.&lt;br /&gt;sampai satu minggu jgn dulu kasih pakan (biarkan lele makan pakan alami tadi)&lt;br /&gt;Berikutnya, beli benih ikan lele, dengan ukuran sebesar ibu jari orang dewasa, harganya sekitar 200-300 rupiah per ekor. (terkadang kalo beli bibit ada minimal order)&lt;br /&gt;Coba isi kolam tadi dengan 300-400 ekor benih ikan lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/M2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan pakan dua kali dalam sehari. Pakannya adalah pelet dan menu tambahan cacahan jeroan ayam. Menu tambahan ini ikan bisa cepat besar. Menu tambahan ini juga meningkatkan pertumbuhan lele. “Kalau biasanya sekilo ada tujuh ekor, setelah diberi pakan tambahan sekilo cuma enam ekor,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada sisa nasi makan malam/siang, masukkan saja ke kolam, biar nambah-nambah zat makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau bisa juga pakan utama menggunakan pakan pabrik dgn kandungan protein &gt;32% dan dpt diberi pakan tambahan berupa limbah peternakan ayam spt bangkai ayam,usus,telur yg gagal tetas dng terlebih dahulu dibakar/direbus. atau dengan jeroan ikan,atau ikan-ikan buangan(dipasar bnyk koq).&lt;br /&gt;–tidak wajib—&lt;br /&gt;Untuk tambahan Pakannya sediakan seperti dibawah ini;&lt;br /&gt;1. Ampas tahu&lt;br /&gt;2. Katul (dedek halus) dari padi&lt;br /&gt;3. Ikan Asin BS(dihaluskan)lbh bgs di rebus dgn perbandingan 10:5:1 jd setiap 10 kg ampas tahu,+5kg katul,+ 1kg ikan asin bs aduk jd satu, berikan sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(warning) : piara lele bau (bagi yang sensitif bau) lho… harus tahan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di awal-awal menabur benih, sebagian ikan mati, jangan panik, ambil saja, buang.&lt;br /&gt;1 minggu mungkin sekitar 20-30 ekor.&lt;br /&gt;3-4 hari berikutnya ikan akan bertahan hidup normal koq. Nah, tinggal menunggu sekitar 3 bulan, ikan sudah cukup besar untuk bisa dipanen, dijual dengan harga sekitar 1000 rupiah per ekor. (asumsi sekilo Rp.7000, biasanya ada 7 ekor lele)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit lele biasanya dibeli dari pasar atau peternak lele (yang memproduksi benih).&lt;br /&gt;hati-hati dengan bibit yang kuntet (tidak bisa gede) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau kalau kita sendiri punya lahan sangat luas, bisa membeli 3-4 pasang induk yang siap bertelur (harga mungkin sekitar 100 ribu per pasang), sekali bertelur jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu tuh, kalau cara merawatnya berhasil banyak yang berhasil hidup dan tumbuh besar, mungkin butuh kolam ukuran 3×4 m sebanyak 3-4 buah kolam untuk menampung telur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMASARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa di lingkungan kita sendiri, tawarkan ke pengumpul benih, atau yang sudah besar tawarkan ke warung-warung makan lele atau jual ke pasar, ke tukang sayur keliling, pemancingan2 ikan lele, dll harganya mungkin +/- Rp. 7000/kg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya jangan jual lele pada bulan-bulan yang tidak ada huruf ‘r’-nya (mei, juni, juli,agustus ?) Mengapa? Pada bulan-bulan itu banyak petani lele mengobral lelenya dengan harga murah karena mereka butuh biaya sekolah anak-anaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bikin saja tulisan di depan rumah “JUAL IKAN LELE KONSUMSI, SEGAR, GURIH”&lt;br /&gt;Kalau tanah cukup luas, berarti bisa bikin 2-3 kolam lagi yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga jual lele mencapai puncak paling mahal pada Januari. Pada bulan Januari pasokan lele berkurang karena pembibitan lele banyak yang gagal. Banyak telur gagal menetas lantaran pengaruh musim hujan. Berdasarkan pengalaman Vian, air hujan bisa menurunkan derajat keasaman (pH) air kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGI TEKNIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya budi daya lele tidak terlalu direpotkan dengan masalah air. Daya tahan&lt;br /&gt;lele sangat tinggi. “Asalkan air selalu penuh dan cukup pakan,” kata semua pakar lele,&lt;br /&gt;lebih jauh lagi kalo mau tahu Syarat Teknis-nya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Budidaya lele dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m – 800 m dpl&lt;br /&gt;2) Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) pH air yang ideal berkisar antara 6 – 9.&lt;br /&gt;4) Oksigen terlarut di dalam air harus &gt; 1 mg/l.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan setelah bibit dilepas, kolam dijarangkan, lele disortir lele yang besar-besar sebesar batu baterai. Sekitar empat kwintal lele sebesar batu baterai itu dipindahkan ke kolam lain. Tujuannya supaya dalam satu kolam ukuran ikan lele seragam. Kalau tidak seragam lele yang kecil dimakan lele yang lebih besar. sortir secara kontinue (2 atau 3minggu sekali) untuk memisahkan ukuran yang besar dan yang kecil untuk mencegah kanibalisme dan kerugian panen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tehniknya: mungkin perlu punya lebih dari satu kolam, atau ada yang disekat dengan jaring.&lt;br /&gt;Seandainya pakan tidak dikombinasi dengan jeroan ayam, satu periode panen memerlukan 30 karung pelet. Jika ditambah jeroan ayam sebanyak 50 kg dalam satu periode pemeliharaan, pelet bisa dikurangi separuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, masa panen (ukuran konsumsi) lele relatif lebih cepat daripada ikan konsumsi lainnya. “Kalau gurami baru bisa dipanen sekitar delapan bulan. Lele sekitar 50 hari,” kata seorang peternak lele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. jadi pikirkan trick-tricknya biar tidak di PATIL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau stress, coba ambil pakan ikan, malam-malam menjelang maghrib, taburkan ke atas kolam, lihat betapa asyiknya melihat ikan-ikan berlomba memangsa makanan&lt;br /&gt;Jangan lupa, perdalam ilmu memelihara ikan dengan menggali ilmu dari buku-buku di toko buku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-1288630121568635530?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/1288630121568635530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/beternak-ikan-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1288630121568635530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1288630121568635530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/beternak-ikan-lele.html' title='BETERNAK IKAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQyA0l7kwI/AAAAAAAAANU/6ebUbHiNUqk/s72-c/LELE3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-2317711269617095677</id><published>2010-09-30T13:27:00.002+07:00</published><updated>2010-09-30T13:33:15.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>RAHASIA MEMBUAT KOLAM IKAN HIAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQvBPShcFI/AAAAAAAAANM/Y6vwtoOpu2Q/s1600/KOLAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 178px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQvBPShcFI/AAAAAAAAANM/Y6vwtoOpu2Q/s320/KOLAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522590741393666130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGHADIRKAN kolam ikan di pekarangan menjadi salah satu cara jitu untuk memunculkan hawa sejuk di sekitar hunian. Tak perlu dana besar untuk membuat "rumah" bagi hewan air itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemericik air akan membuat suasana rumah dan pekarangan yang gersang menjadi lebih sejuk dan dingin. Apalagi jika kolam itu berisi ikan-ikan cantik beraneka warna. Kepenatan Anda akan hilang seketika. Air memang dipercaya membawa unsur kedamaian serta ketenangan. Air juga bisa menjadi terapi pikiran dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemajuan teknologi saat ini, tidak sulit bagi Anda membuat kolam ikan sendiri. Anda tidak perlu membayar mahal untuk mendatangkan ahlinya. Cukup dengan desain simpel dan Anda tinggal menyuruh tukang kepercayaan Anda untuk membangunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap pertama pembangunan kolam taman adalah dengan merencanakan lokasi. Pilih tempat yang sesuai dengan interior hunian, sehingga kolam bisa terlihat bahkan gemericik airnya terdengar sampai ke dalam rumah. Perhatikan pula ketersediaan sinar matahari terhadap tumbuhan air. Aksesibilitas pada pasokan air dan listrik juga jangan diabaikan bila kolam Anda memerlukan pompa, lampu, dan aksesori lainnya. Penentuan lokasi kolam disesuaikan dengan tujuan serta kebutuhan pembuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, tentukan metode pembuatannya. Apakah Anda akan menggunakan beton sebagai bahan dasar kolam? Kolam dari bahan dasar beton memang tahan lama. Namun, bila tidak tahu bagaimana mencampuradukkan "adonan" beton dengan tepat, kolam tersebut nanti malah akan retak dan pecah-pecah.Kolam dari beton hanya bisa dikerjakan oleh ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran kolam tidak perlu dipermasalahkan. Kolam kecil juga bisa jadi secantik kolam besar. Hanya, perhatikan bila Anda ingin mengisi kolam tersebut dengan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pencinta ikan koi, sebaiknya memiliki kolam yang cenderung luas. Perhatikan juga kedalamannya. Jangan sampai terlalu dangkal karena bisa-bisa saat hujan, air kolam menjadi penuh dan ikan Anda meluncur ke luar. Belum lagi ancaman dari predator seperti kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh memasang keramik atau batu alam sebagai pelapis dinding kolam. Namun, kata Diana, dua material tersebut berpotensi menjadi tempat tumbuh lumut apabila tidak dijaga dan dirawat secara baik.Lumut yang tebal membuat kolam jadi terlihat hijau keruh. Belum lagi nyamuk akan senang bertelur di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dana Anda terbatas, detail kolam tidak perlu terlalu rumit. Agar tetap terlihat cantik, Anda bisa menambahkan hiasan air mancur atau water fountain. Water fountain akan menambah daya tarik kolam. Selain itu, air yang diputar terus-menerus oleh mesin penggerak air akan mengganti oksigen yang berguna bagi kelangsungan hidup ikan yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya aliran pembuangan air kolam dibuat di dasar kolam, dengan tutupan yang mudah dibuka dan tutup kembali. Tutupan ini bisa menggunakan karet atau besi yang tidak mudah berkarat. Fungsinya agar ketika dibersihkan air dan kotoran dapat terbuang secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam ikan yang indah tak selalu memerlukan dana mahal. Dengan Rp1.000.000-an, Anda sudah bisa memiliki kolam dengan konsep standar. Namun, bila ingin menggunakan relief serta water fountain, setidaknya Anda harus menyediakan dana minimal Rp3 juta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-2317711269617095677?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/2317711269617095677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/rahasia-membuat-kolam-ikan-hias.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/2317711269617095677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/2317711269617095677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/rahasia-membuat-kolam-ikan-hias.html' title='RAHASIA MEMBUAT KOLAM IKAN HIAS'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQvBPShcFI/AAAAAAAAANM/Y6vwtoOpu2Q/s72-c/KOLAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-13160251437963478</id><published>2010-09-30T12:54:00.005+07:00</published><updated>2010-09-30T13:27:43.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>KELAYAKAN INVESTASI USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQtb3q5HLI/AAAAAAAAANE/XujU7G1o7tk/s1600/BANDENG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 164px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQtb3q5HLI/AAAAAAAAANE/XujU7G1o7tk/s320/BANDENG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522588999886642354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelayakan Investasi: Untuk menentukan kelayakan finansial dari usaha budidaya ikan bandeng dengan jaring apung dilakukan analisis dalam beberapa kriteria meliputi periode pengembalian (pay-back periods, PBP), rasio manfaat biaya (benefit cost ratio, BCR), nilai tunai neto (net present value, NPV), tingkat penghasilan internal (internal rate of return, IRR), dan titik impas (break-event point, BEP). Hasil analisis kelayakan usaha pembesaran bandeng dengan petak tambak dan dengan jaring apung dapat dilihat pada tabel berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil analisis pada Tabel menunjukkan, usaha pembesaran bandeng dalam tambak mampu mengembalikan seluruh modal investasi dalam waktu 2.4 tahun. Sementara itu, budidaya bandeng dengan jaring apung mampu mengembalikan seluruh modal investasi dan modal kerja baik komponen kredit maupun modal sendiri dalam waktu kurang dari dua tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Analisis Budidaya Pembesaran Ikan Bandeng dengan Petak Tambak dan Jaring Apung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CABUGAZ%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: 1pt solid windowtext;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;Petak Tambak 1 ha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;(1 musim = 5 bulan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;Jaring Apung 2 Unit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;(1 musim = 4 bulan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;PBP (tahun)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2,40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;BCR (DF = 19% pa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,59&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2,15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;NPV (DF = 19% pa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;12.419.691&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;118.648.777&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;IRR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;33%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;51%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;BEP Vol (Kg)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2294,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;8923,40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasio manfaat biaya neto (BCR) pada usaha pembesaran dengan tambak dan jaring apung, masing-masing adalah 1.59 dan 2.15. Sementara itu, nilai tunai neto (NPV), IRR, dan BEP investasi usaha pembesaran dengan tambak masing-masing adalah sebesar Rp 12.419.691,-, 33 %, dan 2.294.19 kg. Sedangkan untuk jaring apung bandeng, ketiga nilai tersebut masing-masing Rp, 118.648.777-, 62%, dan 8923.4 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Sensitivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sensitivitas tiap-tiap kriteria kelayakan dilakukan untuk mengetahui perubahan nilai kelayakan yang terjadi dalam merespon perubahan dalam harga jual ikan per kilogram, serta perubahan dalam biaya operasional. BCR dan NPV dihitung pada tingkat diskonto (discount rate) 19 persen per tahun atau masing-masing 7.9 persen per musim untuk usaha tambak dan 6.3 persen per musim untuk usaha jaring apung bandeng. Hasil analisis sensitivitas dapat dilihat pada .&lt;br /&gt;Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Tambak Ikan Bandeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Skala 1 ha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CABUGAZ%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: 1pt solid windowtext;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="2" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Uraian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="4" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;4)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;PBP (musim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;BCR (DF = 19% pa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,18&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;NPV (Rp 000)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;539.542&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;831.391&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;284.166&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;211.343&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;IRR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;BEP Vol (Kg)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2.493,67&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2.294,17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2.294,16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;2.294,17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CABUGAZ%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: 1pt solid windowtext;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas 1 : Penurunan harga jual sebesar 12 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas 2 Kenaikan Biaya Operasional sebesar 15 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas 3 Kenaikan Harga Pakan 24 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas 4 Tingkat kematian ikan naik 12 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Ikan Bandeng Jaring Apung Skala 2 Unit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CABUGAZ%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: 1pt solid windowtext;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="2" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="4" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;"&gt;   &lt;p&gt;4)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;PBP (musim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,39&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,38&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;3,36&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;BCR (DF = 19% pa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1,14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;NPV (Rp 000)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1.379.166&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;463.544&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;1.266.968&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;615.535&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;IRR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;0,19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;BEP Vol (Kg)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;8.923,25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;8.923,24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;8.923,24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;8.923,25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CABUGAZ%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: 1pt solid windowtext;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas 1 ; Penurunan harga jual 8 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sensitivitas 2 , Kenaikan Biaya Operasional % 10 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Sinsitivitas 3 ;Kenaikan Harga Pakan 18%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in;" valign="bottom"&gt;   &lt;p&gt;Hasil Panen Turun 9 %&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perhitungan uji sensitivitas seperti yang diperlihatkan pada Tabel diketahui bahwa baik budidaya bandeng dengan tambak maupun dengan jaring apung mempunyai kondisi finansial yang cukup baik. Beberapa perubahan yang dilakukan dalam perhitungan tersebut menunjukkan bahwa usaha budidaya bandeng tersebut tetap layak. Produktivitas per kolam yang sangat tinggi membuat usaha budidaya bandeng di jaring apung relatif lebih sensitif dibanding budidaya di kolam tambak. Demikian juga dengan adanya perubahan (kenaikan) biaya operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;http://binaukm.com/2010/04/kelayakan-investasi-dalam-usaha-budidaya-ikan-bandeng... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-13160251437963478?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/13160251437963478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/kelayakan-investasi-usaha-budidaya-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/13160251437963478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/13160251437963478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/kelayakan-investasi-usaha-budidaya-ikan.html' title='KELAYAKAN INVESTASI USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQtb3q5HLI/AAAAAAAAANE/XujU7G1o7tk/s72-c/BANDENG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5754986059384489238</id><published>2010-09-30T12:46:00.002+07:00</published><updated>2010-09-30T12:49:53.717+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>TEKNIK BUDIDAYA IKAN ARWANA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQk80_5WvI/AAAAAAAAAM8/298aJ1oas-Q/s1600/ARWANA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQk80_5WvI/AAAAAAAAAM8/298aJ1oas-Q/s320/ARWANA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522579670500465394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya Ikan arwana bukanlah sesuatu yang mudah anda harus mempelajari beberapa tehik atau cara untuk membudidayakan Ikan arwana ini,saya sech ga tau yang profesional tapi kalau cara budidaya ikan arwana yang dasar adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemeliharaan Induk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Induk dipelihara dalam kolam berukuran 5 x 5 m dengan kedalaman air 0,5-0,75 m. Kolam ditutup plastik setinggi 0,75 m untuk mencegah lompatan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan pemijahan dibangun di pojok perkolaman dan ditambah dengan beberapa kayu gelondongan untuk memberikan kesan alami. Batu dan kerikil dihindari karena dapat melukai ikan atau dapat tercampur pakan secara tidak sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam pembesaran dibangun di area tenang dan ditutup sebagian, dan dijauhkan dari sinar matahari langsung. Induk dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai matang gonad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengelolaan Kualitas Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas air dijaga agar mendekati lingkungan alami arwana yaitu pH 6,8-7,5 dan suhu 27-29 C. Penggantian air dilakukan sebanyak 30-34% dari total volume dengan air deklorinisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemberian Pakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan gizi sangat penting bagi kematangan gonad dan pemijahan. Induk diberikan pakan bervariasi yang mengandung kadar protein tinggi. Pakan diberikan setiap hari dalam bentuk ikan/udang hidup atau runcah, dan ditambah pelet dengan kadar protein 32 %. Jumlah pemberian pakan per hari adalah 2 % dari bobot total tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kematangan gonad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matang gonad terjadi pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh 45-60cm.&lt;br /&gt;Pemijahan terjadi sepanjang tahun, dan mencapai puncaknya antara bulan Juli dan Desember. Induk jantan di alam akan menjaga telur yang sudah dibuahi dalam mulutnya hingga 2 bulan ketika larva mulai dapat berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arwana betina mempunyai ovarium tunggal yang mengandung 20-30 ova besar dengan diameter rata-rata 1,9 cm dengan kematangan berbeda-beda. Induk jantan dewasa juga mempunyai sebuah organ vital menyerupai testis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembedaan Kelamin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juvenil sulit dibedakan jenis kelaminnya. Perbedaan akan muncul setelah ikan berukur 3-4 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembedaan jenis kelamin diketahui melalui bentuk tubuh dan lebar mulut. Arwana jantan mempunyai tubuh lebih langsing dan sempit, mulut lebih besar dan warna lebih mencolok daripada betina. Mulut yang melebar dengan rongga besar digunakan untuk tujuan inkubasi telur. Perbedaan lain adalah ukuran kepala jantan relatif lebih besar, sifat lebih agresif termasuk dalam perebutan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebiasaan Pemijahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku arwana sangat unik selama masa pengenalan lain jenis. Masa ini berlangsung selama beberapa minggu atau bulan sebelum mereka mulai menjadi pasangan. Hal ini dapat diamati pada waktu malam, ketika ikan berenang mendekati permukaan air. Arwana jantan mengejar betina sekeliling kolam, terkadang pasangan membentuk lingkaran (hidung menghadap ke ekor pasangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1-2 minggu sebelum pemijahan, ikan berenang bersisian dengan tubuh seling menempel. Terjadilah pelepasan sejumlah telur berwarna jingga kemerahan, Jantan membuahi telur dan kemudian mengumpulkan telurdi mulitnya untuk diinkubasi sampai larva dapat berenang dan bertahan sendiri. Diameter telur 8-10 mm dan kaya akan kuning telur dan menetas sekitar seminggu setelah pembuahan. Setelah penetasan, larva muda hidup dalam mulut jantan hingga 7-8 minggu sampai kuning telur diserap total. Larva lepas dari mulut dan menjadi mandiri setelah ukuran tubuh 45-50 mm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Panen Larva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inkubasi telur secara normal adalah membutuhkan 8 minggu. Untuk memperpendek waktu, telur yang sudah dibuahi dapat dikeluarkan dari mulut pejantan 1 bulan setelah pemijahan. Induk jantan ditangkap dengan sangat hati-hati dengan jaring halus lalu diselimuti dengan handuk katun yang basah untuk menghindari ikan memberontak dan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melepaskan larva dari mulut induk jantan, tarik perlahan bagian bawah mulut dan tubuh ditekan ringan. Larva dikumpulkan dalam wadah plastik dan diinkubasikan dalam akuarium. Jumlah larva yang dapat mencapai 25-30 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Pembenihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dikeluarkan dari mulut pejantan, larva diinkubasikan dalam akuarium berukuran 45×45x90 cm. Temperatur air 27-29 °C menggunakan pemanas thermostat. Oksigen terlarut 5 ppm (mg/ I) menggunakan aerator bukaan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah infeksi akibat penanganan larva, dalam air dilarutkan Acriflavine 2 ppm. Menggunakan teknik pembenihan in vitro ini, Survival Rate (SR) yang didapat sampai tahap ikan dapat berenang adalah 90-100 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama periode inkubasi, larva tidak perlu diberikan pakan. Beberapa minggu pertama selama kuning telur belum habis, biasanya larva hampir selalu berada pada dasar akuarium. Larva mulai berenang ke atas bertahap ketika ukuran kuning telur mengecil. Pada minggu ke delapan, kuning telur hampir terserap habis sehingga larva mulai berenang ke arah horizontal. Pada tahap ini, pakan hidup pertama harus mulai diberikan untuk mencegah larva saling Ketika ukuran larva mencapai 8,5 cm atau berumur 7 minggu, kuning telur terserap secara penuh dan larva dapat berenang bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemeliharaan Larva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan pakan hidup yang dapat diberikan seperti cacing darah atau anak ikan yang ukurannya sesuai bukaan mulut arwana.&lt;br /&gt;Larva yang telah mencapai panjang 10-12 cm dapat diberikan pakan seperti udang air tawar kecil atau runcah untuk mengimbangi kecepatan tumbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:Buu Budidaya Ikan Arwana &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;http://shaqlord.blogspot.com/2010/05/tehnik-budidaya-ikan-arwana.html &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5754986059384489238?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5754986059384489238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/teknik-budidaya-ikan-arwana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5754986059384489238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5754986059384489238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/teknik-budidaya-ikan-arwana.html' title='TEKNIK BUDIDAYA IKAN ARWANA'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQk80_5WvI/AAAAAAAAAM8/298aJ1oas-Q/s72-c/ARWANA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3793929105393013922</id><published>2010-09-30T12:41:00.001+07:00</published><updated>2010-09-30T12:44:14.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>TRIK DASAR PALING GAMPANG BUDIDAYA IKAN LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQjlYe3ptI/AAAAAAAAAM0/gfjvMAdCeX8/s1600/LELE2jpg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQjlYe3ptI/AAAAAAAAAM0/gfjvMAdCeX8/s320/LELE2jpg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522578168197129938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalo menurut saya pribadi, ikan lele merupakan salah satu jenis hewan air yang banyak di konsumsi oleh orang. Dan itu berimbas dengan adanya sebuah peluang bagi pembisnis untuk budidaya ikan lele. Untuk itu disini ada beberapa hal yang mungkin harus anda ketahui apabila ingin terjun ke bisnis Budidaya Ikan lele.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, lele bisa bertahan hidup dalam air yang kadar oksigennya sangat rendah, (lele bisa mengambil O2 langsung dari udara, itu sebabnya lele bisa bertahan hidup agak lama walau diluar air). Hanya saja ketika lele masih kecil-kecil, rentan terhadap penyakit ikan, yg salahsatunya di sebabkan krn kwalitas air kurang bagus. Kualitas air dapat dilihat dari warnanya, jika warna-nya keruh coklat, bisa dibilang agak jelek, tapi kalau hijau=berarti kandungan O2 cukup bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persiapan kolam Budidaya Ikan Lele:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;isi kolam dengan air sdikit saja (jangan penuh), jngan langsung di isi lele (nanti lele stres terus mati) tetapi biarkan 2-3 hari. tambahkan tanaman air juga bagus, kasih suplemen untuk meningkatkan kwalitas air biar tambah OK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tebar benih :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau dah beli/cari benih lele. Jgn langsung di tebar kekolam, masukkan bersamaan dgn plastik pembungkus benihnya dan biarkan -+ 1/2jam sampai suhu air dalam plastik = suhu air kolam, telah itu baru ditebar secara perlahan2 (biar tdk kaget)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pakan.. beli saja yang sudah jadi.. (males repot kalo kudu buat sendiri) tapi sesuaikan dengan usia dan ukuran lele anda (ukuran mulut lele).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3793929105393013922?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3793929105393013922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/trik-dasar-paling-gampang-budidaya-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3793929105393013922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3793929105393013922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/trik-dasar-paling-gampang-budidaya-ikan.html' title='TRIK DASAR PALING GAMPANG BUDIDAYA IKAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQjlYe3ptI/AAAAAAAAAM0/gfjvMAdCeX8/s72-c/LELE2jpg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-1512315953746327560</id><published>2010-09-30T12:28:00.002+07:00</published><updated>2010-09-30T12:32:31.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produk Olahan'/><title type='text'>MERAMU PAKAN UNTUK PEMBESARAN LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQgz8lHKqI/AAAAAAAAAMs/TOd6NL9A1EY/s1600/PAKAN.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQgz8lHKqI/AAAAAAAAAMs/TOd6NL9A1EY/s320/PAKAN.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522575119870274210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak krisis ekonomi tahun 1998, kebutuhan ikan lele meningkat dengan cukup pesat. Sebab konsumen daging sapi banyak yang baralih ke daging ayam, sementara konsumen daging ayam banyak yang pindah ke ikan. Dan ikan yang paling banyak diminta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;konsumen adalah lele. Sebab dibanding dengan ikan mas, nila dan patin, maka harga lele termasuk paling rendah. Lebih-lebih dengan gurami. Harga per kg. ikan mas saat ini Rp 15.000,- ditingkat konsumen. Sementara hargalele hanya Rp 9.000,- dan gurami &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencapai Rp 25.000,- per kg. Produksi ikan lele, sebagimana halnya ikan mas, sudah merupakan agroindustri. Pola spesifikasi hulu tengah hilir sudah berjalan cukup baik. Pada bagian hulu ada industri pakan dan pembenihan. Di bagian tengah pembesaran ikan konsumsi dan pemeliharaan calon induk, serta di bagian hilir hanyalah sebatas distribusi dan perdagangan. Sebab daging ikan lele tidak lazim diolah dan diawetkan. Konsumsi ikan lele hanyalah sebatas segar (hidup) untuk digoreng (termasuk pecel lele) atau dimasak basah (mangut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri hulu pembenihan lele, dibagi menjadi tiga spesifikasi. Pertama produsen burayak, yakni anak ikan ukuran di bawah 1 cm. Pada bagian ini, peternak akan melakukan pemijahan induk secara buatan, menetaskan telur di akuarium, kemudian membesarkan anak ikan dalam bak-bak pembesaran sampai mencapai ukuran sekitar 1 cm. Burayak ini selanjutnya akan dibesarkan dalam bak-bak berukuran lebih besar sampai mencapai ukuran kebul, yakni benih ikan berukuran antara 1 sd. 3 cm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kebul akan dibesarkan lagi dalam kolam atau bak yang berukuran lebih besar lagi, hingga mencapai ukuran antara 3 sd 5 cm. yang disebut sebagai putihan. Saat ini putihan lele banyak yang berukuran 7,5 sd. 10 cm. Hingga pembesaran lele konsumsi bisa dipersingkat antara 1 sd. 3 bulan saja. Yang dimaksud sebagai bak pembesaran, bukanlah bak permanen dari batu bata dan semen atau beton. Bak tersebut hanya berupa batu bata yang ditata membujur sebagai dinding setinggi 50 cm, hingga membentuk segi empat dengan ukuran sesuai volume benih yang akan dibesarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang dinding bak tersebut hanya berupa papan yang diperkuat kaso. Sebagai dasar bak, dihamparkan pasir yang kemudian diratakan serta dipadatkan. Bak darurat itu lalu dilapis plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang digunakan hanyalah air sumur biasa, air dari kali atau sumber air lainnya. Peralatan yang sangat penting adalah pompa sedot yang dihubungkan dengan filter. Air dalam bak darurat itu harus bersirkulasi dengan bantuan pompa, masuk ke dalam filter untuk menyaring kotoran lalu dikembalikan ke dalam bak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi ini sudah biasa dipergunakan oleh penangkar benih ikan dalam menangani air akuarium. Juga digunakan dalam kolam-kolam taman di perumahan. Praktis, investasi bak demikian sangat murah. Nilai paling tinggi hanyalah pada plastik dan pompa. Satu petak bak ukuran 3 X 5 m. misalnya, hanya akan menghabiskan biaya sekitar Rp 50.000,- apabila kita membangun minimal 5 petakan. Pompa berikut filternya sekitar Rp 250.000,- yang bisa digunakan untuk sirkulasi bagi 5 petak kolam tersebut. Hingga investasi tiap petaknya hanya sekitar Rp 100.000,- Komponen biaya paling tinggi dalam industri peternakan dan perikanan adalah pakan. Apabila peternak menggunakan pakan buatan dari toko, nilainya bisa mencapai 70% dari seluruh komponen biaya. Saat ini harga pakan buatan sudah sekitar Rp 2.500,- per kg. Karenanya, para peternak lele biasanya memilih menggunakan pakan ramuan sendiri hingga marjin yang diperoleh bisa lebih besar dibanding penggunaan pakan buatan pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, para peternak akan meramu pakan yang terdiri dari dedak halus (bekatul) 20%, ampas tahu 20%, menir atau jagung giling 20%, dan ayam broiller mati yang dibeli borongan di peternakan ayam atau ikan rucah yang dibeli di TempatPelelangan Ikan (TPI) sebanyak 35%, tepung tapioka 5% dan vitamin C serta B Complex. Ayam broiller atau ikan tadi dibersihkan dan hanya diambil dagingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang, jeroan serta kulit dibuang. Selanjutnya bahan-bahan itu digiling menggunakan gilingan daging manual. Hasilnya berupa adonan yang liat. Adonan dibentuk lempengan seperti pempek Palembang lalu dikukus sampai benar-benar masak. Tanda kemasakan adalah,apabila ditusuk, sudah tidak ada bagian yang berwarna keputih-putihan. Pakan ramuan sendiri inilah yang dijadikan menu sehari-hari lele tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik yang masih berupa burayak, kebul, putihan maupun lele konsumsi. Bedanya, pada pakan burayak, komposisi protein hewaninya diperbesar menjadi 50% dengan ditambah kuning telur. Telur-telur ini pun merupakan telur afkir yang kondisinya masih bagus, yang dibeli di pengusaha penetasan telur ayam maupun itik. Dedak halus, ampas tahu dan menir atau jagungnya dikurangi hingga masing-masing tinggal 15%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan berupa "kue kukus" tersebut bisa tahan disimpan di kulkas sampai dengan 1 minggu. Hingga produksi pakan yang sangat merepotkan ini bisa dilakukan selang 1 minggu sekali, 3 hari sekali atau sesuai dengan kesempatan dan kebutuhan. Cara pemberian pakan cukup dengan ditaruh dalam tampah, nyiru atau nampan kayu dan dimasukkan ke dalam bak atau kolam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampah, nyiru atau kotak kayu ini dibuat tiga susun. Tampah paling bawah berukuran paling besar, yang ditengah tanggung dan yang di atas paling kecil. Tiga tampah ini diikat kawat dengan jarak sekitar 15 cm. dan diberi gantungan untuk mengikatkannya di tiang pancang, hingga tampah paling atas hanya masuk ke dalam air sebatas 10 sd. 20 cm. Pakan hanya ditaruh pada tampah bagian atas. Tetapi karena lele itu akan makan secara berebutan, maka pakan akan berhamburan dan jatuh pada tampah kedua. Di sini pun pakan diperebutkan dan kembali berhamburan. Tetapi karena pakan di tampah kedua hanya merupakan ceceran dari tampah diatasnya, maka yang jatuh ke tampah ketiga pun volumenya terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara tersebut, pakan yang jatuh dan masuk ke dalam kolam bisa diminimalkan. Burayak, kebul, putihan atau lele di kolam pembesaran itu akan langsung berebutan setiapkali pakan disajikan. Porsi pemberiannya harus pas. Cara untuk mengukur kebutuhan pakan adalah dengan menaruh pakan sedikit demi sedikit. Kalau pakan yang ditaruh habis, berarti perlu ditaruh sedikit lagi. Demikian seterusnya sampai anak lele atau lele konsumsi di kolam pembesaran itu tidak mau makan lagi. Setelah lele kenyang, maka tempat pakan itu diangkat agar pakan yang tersisa tidak mencemari kolam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian pakan harus dilakukan sesering mungkin. Dalam sehari, pemberian pakan bisa berlangsung empat sampai lima kali. Keterlambatan pemberian pakan, juga pemberian pakan dengan frekuansi hanya dua sampai tiga kali, akan mengakibatkan sebagian lele mengalami kelambatan pertumbuhan, sementara sebagian lain akan tumbuh dengan sangat pesat. Akibatnya akan terjadi kanibalisme. Lele yang kontet menjadi mangsa lele yang pertumbuhannya sangat pesat. Individu lele yang sering melakukan kanibal, akan tumbuh lebih pesat lagi hingga potensial untuk memangsa teman-temannya lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga dedak halus, saat ini Rp 800,- per kg. (kering). Harga ampas tahu sekitar Rp 150,- (basah). Harga ayam mati Rp 1.000,- per ekor bobot 1,5 kg. kotor atau 0,75 kg.daging. Menir atau jagung giling Rp 1.500,- per kg. Tepung tapioka Rp 2.000,- per kg. Vitamin-vitamin senilai Rp 50,- per kg. ramuan. Dengan komposisi dedak halus, ampas tahu dan menir 20%, ayam 35% dan tepung tapioka 5%, maka nilai pakan dengan bobot 10 kg adalah Rp 10.900,- atau per kg. basah Rp 1.140,- Biaya produksi (tenaga kerja + bahan bakar) sekitar Rp 200,- per kg. Hingga total nilai pakan Rp 1.340,- bobot basah atau bobot kering Rp 2 000,- Dengan asumsi harga pakan pabrik Rp 2.500,- per kg, maka harga pakan ramuan sendiri ini lebih murah Rp 500,- per kg. Harga lele di tingkat peternak, saat ini Rp 5.500,- dari harga tersebut, peternak mengambil marjin sekitar 20%, hingga harga pokoknya Rp 4.400,- Dari harga pokok tersebut, sekitar 70% atau Rp 3.080,- merupakan nilai pakan. Harga ini menggunakan patokan perhitungan pakan pabrik dengan bobot 1,232 kg. Apabila menggunakan pakan ramuan sendiri dengan nilai Rp 2.000,-per kg, maka nilai pakan itu hanya Rp 2.464,- Berarti, dari tiap kg. ikan lele yang diproduksi menggunakan pakan ramuan sendiri, peternak memperloleh tambahan marjin Rp 616,- Dengan volume pembesaran lele 10 ton dalam jangka waktu 3 bulan, maka marjin tambahan yang bisa diperoleh peternak dari penggunaan pakan tambahan adalah Rp 6.160.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan ramuan pkan dengan konversinya pasti akan sangat bervariasi, tergantung lokasi peternakan dan kejelian peternak untuk memperolehbahan pakan yang berkualitas sama baik tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Kelebihan penggunaan pakan buatan sendiri adalah, peternak bisa mengatur komposisi protein hewani maupun nabatinya, sesuai dengan ketersediaan bahan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peternak juga bisa mempertinggi prosentase protein hewaninya agar pertumbuhan lele bisa dipercepat, namun tanpa terlalu besar menambah beban biaya pakan akibat pembengkakan nilai protein hewani terebut. Ini semua memerlukan kejelian yang luarbiasa, hingga keong sawah atau darat, kepompong ulat sutera dan cacing tanah misalnya, akan mampu memperbesar marjin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan cacing tanah, paling tinggi hanya boleh menghabiskan biaya produksi Rp 2.000 per kg. Ini dimungkinkan sebab komponen pakan cacing adalah limbah organik. Meskipun nilai gizi cacing tanah terlalu tinggi untuk dimanfaatkan bagi pembesaran lele. Cacing tanah lebih cocok untuk pakan pembesaran ikan yang nilai ekonomisnya juga lebih tinggi dari lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;http://foragri.blogsome.com &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-1512315953746327560?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/1512315953746327560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/meramu-pakan-untuk-pembesaran-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1512315953746327560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1512315953746327560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/meramu-pakan-untuk-pembesaran-lele.html' title='MERAMU PAKAN UNTUK PEMBESARAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQgz8lHKqI/AAAAAAAAAMs/TOd6NL9A1EY/s72-c/PAKAN.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-8074161867717929303</id><published>2010-09-30T12:14:00.010+07:00</published><updated>2010-09-30T12:28:00.188+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>SELEKSI BIBIT LELE (GRADING)</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pentingnya Seleksi Bibit Lele (grading)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQd-JqVcJI/AAAAAAAAALs/TJhMu_l15QU/s1600/04-IMG_0039-proses+seleksi+bibit+lele+size+2-3.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 104px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQd-JqVcJI/AAAAAAAAALs/TJhMu_l15QU/s320/04-IMG_0039-proses+seleksi+bibit+lele+size+2-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522571996645650578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pemeliharaan bibit ikan gurame, pada usaha pembibitan lele pun diperlukan adanya tahapan seleksi bibit pada setiap interval waktu tertentu. Di kalangan para pembudidaya ikan, aktifitas ini dikenal dengan istilah 'grading'. Prakteknya adalah dengan memisahkan bibit ikan menjadi beberapa golongan berdasarkan ukurannya. Pada dasarnya seleksi bibit memang perlu dilakukan agar tercapai tingkat keseragaman ukuran (sesuai umur ikan) sekaligus untuk mendapatkan bibit yang berkualitas  ; sehat, tidak cacat dan memiliki laju pertumbuhan yang baik. Alasan rasional lainnya adalah bahwa lele tergolong ikan yang bersifat...&lt;br /&gt;kanibal sehingga jika tidak segera diseleksi dan dipisahkan ruang pemeliharaannya maka lele yang tumbuh lebih cepat (lebih besar) cenderung akan memangsa lele-lele lainnya yang berukuran lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQeQfruBrI/AAAAAAAAAL0/EPIgRm30drs/s1600/05-IMG_0025-Hasil+seleksi+bibit+lele+size+2-2+dan+2-3.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 105px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQeQfruBrI/AAAAAAAAAL0/EPIgRm30drs/s320/05-IMG_0025-Hasil+seleksi+bibit+lele+size+2-2+dan+2-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522572311794681522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seleksi bibit lele dapat dilakukan dengan beberapa cara. Umumnya para pembudidaya memilih cara manual yang cukup praktis menggunakan peralatan sederhana yakni berupa susunan saringan benih lele yang terbuat dari ember plastik berlubang-lubang (perforated). Ember jenis ini biasanya banyak tersedia di pasar-pasar ikan tradisional ataupun di beberapa poultry yang menyediakan peralatan dan perlengkapan budidaya perikanan. Diameter lubang-lubang penyaring pada setiap ember biasanya telah dibuat seragam, sesuai dengan ukuran standar benih lele. Dalam prakteknya terkadang diperlukan 2 sampai 3 susunan ember yang berbeda dalam satu kali proses penyaringan terutama jika ukuran bibit lele yang dikehendaki ternyata cukup bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dilakukan proses seleksi bibit, ember-ember penyaring ini disusun berdasarkan ukuran diameter lubang-lubang penyaringnya. Ember dengan ukuran diameter lubang-lubang penyaring terbesar berada pada urutan teratas dan ember dengan ukuran lubang-lubang penyaring yang lebih kecil berada pada urutan berikutnya. Demikian seterusnya hingga ember dengan diameter lubang penyaring paling kecil yang sesuai dengan kebutuhan dan variasi ukuran bibit yang dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQeZDWhsbI/AAAAAAAAAL8/FONUCoMEA14/s1600/06a-IMG_0158-bibit+lele+longgoran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 105px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQeZDWhsbI/AAAAAAAAAL8/FONUCoMEA14/s320/06a-IMG_0158-bibit+lele+longgoran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522572458808422834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal seleksi bibit lele biasanya dimulai pada rentang waktu 12 hingga 17 hari setelah fase penetasan telur. Telur-telur yang gagal menetas dan benih yang mati hendaknya dipisahkan sesegera mungkin dari lingkungan bak tetas agar tidak menjadi sumber penyakit bagi benih-benih lainnya. Setelah 4 - 6 hari kemudian atau setelah kantung kuning telur (yolksack) pada setiap larva lele habis terserap maka benih akan terlihat lincah bergerak mencari makanan alami yang ada di sekitarnya. Selama 12-17 hari berikutnya benih lele ini telah dapat diberi makanan alami berupa cacing sutera (tubifex) dan pakan buatan (pellet) yang berbentuk serbuk (halus) yang diberikan secara berangsur-angsur hingga benih lele mencapai ukuran standar 2/2 dan 2/3. Pada saat inilah pertama kalinya seleksi (grading) bibit lele mulai dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQeqECT2UI/AAAAAAAAAME/kJ6tIqARH4g/s1600/07-IMG_0159-bibit+lele+size+3-5.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 104px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQeqECT2UI/AAAAAAAAAME/kJ6tIqARH4g/s320/07-IMG_0159-bibit+lele+size+3-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522572751049840962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses seleksi, bibit lele yang berukuran lebih kecil (kerdil atau 'krucilan') disisihkan dan dipelihara di tempat terpisah, demikian pula halnya dengan bibit yang berukuran lebih besar ('bongsor' atau 'longgoran'), bibit yang terserang penyakit atau bahkan bibit yang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQe45XnbuI/AAAAAAAAAMM/FgDZT7DIYJo/s1600/08-IMG_0163-bibit+lele+size+4-6.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 105px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQe45XnbuI/AAAAAAAAAMM/FgDZT7DIYJo/s320/08-IMG_0163-bibit+lele+size+4-6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522573005884452578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikehendaki, bibit lele hasil seleksi pertama ini sebenarnya telah dapat dijual namun jika tidak maka bibit lele dapat dipelihara lagi selama lebih kurang 21 hari untuk kemudian dilakukan seleksi (grading) kembali. Seleksi bibit lele pada tahap kedua ini akan menghasilkan dua ukuran standar yakni 3/5 dan 4/6. Sama halnya dengan proses seleksi pertama, masing-masing ukuran standar 3/5 dan 4/6 ini dipisahkan demikian pula dengan bibit yang berukuran 'krucilan' maupun 'longgoran'. Bagi pembudidaya ikan di Kulon Progo yang menekuni segmen pembibitan, seleksi bibit (grading) pada ukuran 3/5 atau 4/6 ini merupakan saat panen karena ukuran bibit inilah yang paling banyak diminati oleh pembudidaya pada segmen pembesaran atau yang menekuni pemeliharaan lele hingga mencapai ukuran konsumsi (8-12 ekor/ kilogram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQfK-7PTiI/AAAAAAAAAMU/EOOFxCdRA2o/s1600/09-IMG_0057-segmen+pembesaran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 139px; height: 105px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQfK-7PTiI/AAAAAAAAAMU/EOOFxCdRA2o/s320/09-IMG_0057-segmen+pembesaran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522573316613688866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada pula beberapa pembudidaya segmen pembibitan yang memilih memelihara kembali bibit lele berukuran 3/5 atau 4/6 tersebut hingga mencapai ukuran 5/7 dan 7/9 selama lebih kurang 15 dan 21 hari masa pemeliharaan. Umumnya hal ini dilakukan untuk memenuhi pesanan bibit dari para pembudidaya lele di luar daerah  Yogyakarta terutama yang berada di luar pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada budidaya ikan lele di segmen pembesaran khususnya  media kolam terpal, proses seleksi (grading) ini tidak perlu lagi dilakukan karena pertumbuhan lele umumnya telah mencapai tingkat keseragaman yang dapat dikatakan relatif merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQfU0QAWZI/AAAAAAAAAMc/fFIULZ_VKuw/s1600/11-IMG_0051-panen+lele+size+konsumsi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 105px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQfU0QAWZI/AAAAAAAAAMc/fFIULZ_VKuw/s320/11-IMG_0051-panen+lele+size+konsumsi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522573485546690962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerapkan pola budidaya secara intensif pada media kolam terpal berukuran standar 4m x 6m dan 4m x 8m dengan jumlah tebaran bibit berkualitas ukuran standar 4/6 dan 5/7 sebanyak 3000 dan 4000 ekor per kolam maka lele ukuran konsumsi akan dapat dipanen setelah  60 hingga 70 hari masa pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;http://ikankolamterpal.blogspot.com/2010/04/pentingnya-seleksi-bibit-lele-gradin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-8074161867717929303?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/8074161867717929303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/seleksi-bibit-lele-grading.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/8074161867717929303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/8074161867717929303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/seleksi-bibit-lele-grading.html' title='SELEKSI BIBIT LELE (GRADING)'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQd-JqVcJI/AAAAAAAAALs/TJhMu_l15QU/s72-c/04-IMG_0039-proses+seleksi+bibit+lele+size+2-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-4404487036556154346</id><published>2010-09-30T12:03:00.002+07:00</published><updated>2010-09-30T12:13:48.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>TEORI TERNAK IKAN LELE DUMBO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQcSqW5NrI/AAAAAAAAALc/LhiIZNSdz18/s1600/LELE+DUMBO+jpg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 167px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQcSqW5NrI/AAAAAAAAALc/LhiIZNSdz18/s320/LELE+DUMBO+jpg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522570149996607154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Ternak Ikan Lele Dumbo&lt;br /&gt;Sebelum saya membagi pengalaman beternak ikan lele dumbo, agar lebih akrab dengan anda semuanya saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Agus Sutanto, 28 tahun, lokasi saya tinggal sekaligus beternak ikan lele dumbo berada di desa tempursari RT 8 RW 3 kecamatan sambi kabupaten boyolali Jawa Tengah. Dulu saya memulai usaha ini dari nol besar Modal saya cuma punya teman yang memperkenalkan, mengajak dan suka ngiming-imingi keuntungan yang ia peroleh dari beternak ikan lele ( Mas Doso thanks ya..) So buat teman-teman yang ada di situ.. yang pingin usaha ini..tapi belum punya pengetahuannya.. mari memulainya sekarang juga. Prinsip untuk memulai usaha ini hanya satu “Learning By Doing” pokoknya insya ALLAh sukses.. don’t worry Bro….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keberhasilan teman saya beternak ikan lele dumbo, saya seolah tergugah dari tidur untuk segera bangun memulai mengikuti langkah dia.. dalam pikiran saya muncul opini bahwa usaha ini sepertinya dan mudah-mudahan “tidak sesat dan menyesatkan”. OK setelah saya bertekad bulat untuk memulai “menempuh hidup baru” bersama makluk yang bernama ikan lele.. saya berusaha menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang dunia lele dumbo, buku-buku saya baca, internet saya tongkrongi, pakar-pakar maupun peternak ikan sering saya kunjungi, semua itu untuk membekali saya dalam berjuang menuju sukses menjadi Bos Ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamati lahan di sekeliling rumah, walau tidak luas tapi lahan ini cukup untuk dijadikan kolam-kolam pemijahan lele dumbo (karena memang pemijahan lele dumbo tidak begitu memakan tempat). Dengan niat mencari rizki halal dan mengucap Bismillahirrahmaanirrahim saya mulai melangkah membobol ATM untuk digunakan membangun kolam ukuran 1,5×2 meter = 2 (untuk memijahkan) dan 2×4 meter =1 (untuk menampung induk). Seiring dibuatnya kolam-kolam tersebut, saya sering silaturrahmi ke senior-senior pemijah ikan untuk mencari informasi dimana saya dapat memperoleh induk yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 2 bulan kemudian kolam-kolam tersebut sudah siap digunakan. Saya sudah memperoleh induk untuk dipijahkan. Sebagai pemelihara yang baik saya pesiapkan semua kebutuhan menjelang “bulan madu” ikan. Ijuk tempat menempelkan telur-telurnya sudah saya siapkan, air dan sirkulasinya sudah beres. Pada sore harinya kedua mempelai ikan, satu jantan satu betina (sebenarnya bisa juga satu jantan dua betina) ditampung dalam satu kolam . Setelah pagi hari, saya liat dikolam tersebut Ooooo… banyak banget telur-telur ikan yang menempel di ijuk, ada puluhan ribu telur disitu. Setelah induk mengeluarkan telurnya, kedua induk diambil dan dimasukkan ke kolam penampungan induk lagi. Karena telurnya terlalu banyak maka sebagian saya pindah ke kolam yang satunya. Air mulai di alirkan ke kolam yang terdapat telur ikan itu untuk mensuplay oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya ternyata telur-telur ikan itu sudah mulai menetas menjadi bayi-bayi lele dumbo.. “good morning and wellcome baby lele dumbo” . Setelah ikan menetas, ketekunan dan kesabaran menuntut kita. Kita harus rajin menjenguk kolam itu, karena terkadang saluran pembuangan tertutup oleh anak-anak ikan. Setelah umur 3 hari biasanya ikan-ikan itu sudah mulai bertebaran memenuhi kolam. Usia 4-5 hari sudah harus diberikan makanan berupa cacing sutera. Demi kenyamanan dan kesehatan ikan kita harus membersihkan kolam itu secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak usia 3 minggu, biasanya bibit lele tersebut perlu diseleksi dan dipisahkan antara yang pertumbuhannya cepat dengan yang biasa. Jika kita lengah dalam menyaring ikan yang ukurannya lebih besar maka bisa-bisa panen kita akan sedikit dikarenakan banyak yang dimakan ikan yang besar. Penyaringan itu biasanya 2 minggu diulang lagi. Ikan-ikan usia 2 bulan sudah mulai bisa dijual dengan harga sekitar Rp 80,- sampe dengan Rp 100,- ( TUH LIHAT HASILNYA..jika sekali memijahkan, satu jantan 2 betina, rata-rata panen 30.000 bibit dan satu ekor bibit dijual Rp 100,- berapa uang yang bisa kita peroleh??)&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;http://peternakanikan.blogspot.com/2010/05/teori-ternak-ikan-lele-dumbo.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-4404487036556154346?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/4404487036556154346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/teori-ternak-ikan-lele-dumbo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/4404487036556154346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/4404487036556154346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/09/teori-ternak-ikan-lele-dumbo.html' title='TEORI TERNAK IKAN LELE DUMBO'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TKQcSqW5NrI/AAAAAAAAALc/LhiIZNSdz18/s72-c/LELE+DUMBO+jpg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3770699535961671844</id><published>2010-07-22T15:00:00.003+07:00</published><updated>2010-07-22T15:06:41.902+07:00</updated><title type='text'>UDANG GALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf7PBlR-II/AAAAAAAAALE/gk64naebLXo/s1600/udang-galah-1.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 140px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf7PBlR-II/AAAAAAAAALE/gk64naebLXo/s320/udang-galah-1.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496638105770391682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Udang Galah ?Sistem Tangga?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya udang galah selama ini baru bisa dilakukan dengan kepadatan rendah, hanya berkisar 10 ? 15 ekor/m2. Tak seperti vannamei yang berenang-renang, udang galah lebih senang ngendon di dasar kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari fakta itu maka pada 2007, timbullah ide dari Jarot untuk menggunakan bagian atas/permukan kolam guna pembesaran benur (benih udang) hingga menjadi tokolan (benih udang ukuran 2 ? 3 cm). Menurut Kepala Bidang Budidaya Udang Galah PERMINA (Perkumpulan Masyarakat Perikanan Nusantara) tersebut, permukaan kolam sebenarnya tak pernah terjamah si capit biru yang terkenal tak suka berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya dengan menggelar hafa (semacam jaring) di kolom bagian atas sebagai media pendederan. Sementara manajemen budidaya pembesaran udang galah di bagian bawah dari hafa sama saja dengan budidaya biasa. Hanya, pengontrolan kesehatan udang dan kualitas airnya harus lebih intensif. ?Tapi jika menghitung hasilnya, saya rasa sepadan,? kata Jarot. Tetapi ia menggarisbawahi, keberhasilan budidaya dengan teknik tersebut mutlak didukung kualitas air yang sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat Lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarot kembali menyebutkan, kolam untuk membuat tokolan berkapasitas 24 ribu ekor biasanya memerlukan lahan seluas 120 ? 250 m2 (tergantung kepadatan, kualitas air dan sistem sirkulasi air). Tapi dengan sistem tangga ini bisa dihemat dengan 8 set hafa berukuran masing-masing 1 x 6 x 1 m2. Alhasil, kolam yang semula hanya dipakai untuk pembuatan tokolan kini bisa dipakai sekaligus untuk pembesaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Daripada kolam dipakai untuk pendederan tok lebih baik untuk pembesaran juga. Pendederannya dipindah ke bagian atas kolam dengan menggelar hafa,? tandas lulusan Fakultas Teknik UGM ini. Karena memanfaatkan permukaan dan dasar kolam secara bersamaan itulah sistem ini kemudian dipopulerkan sebagai sistem tangga.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf7vZNVJ8I/AAAAAAAAALM/vpZeOPktZ0k/s1600/udang-galah-2.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf7vZNVJ8I/AAAAAAAAALM/vpZeOPktZ0k/s320/udang-galah-2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496638661868201922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, panen dalam satu kolam bertahap hingga tiga kali. Dua kali panen tokolan dan satu kali panen udang galah konsumsi. ?Baik struktur fisiknya maupun siklus panennya seperti tangga,? kata Jarot dengan mata berbinar-binar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai tempat membesarkan benur hingga menjadi tokolan, hafa ini juga berfungsi untuk menjauhkan calon tokolan dari predator. Selain itu juga bisa mengurangi risiko kegagalan panen tokolan pada kolam tanah/sawah akibat kebocoran pematang (menyebabkan benur/tokolan lolos ke saluran pembuangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus panen tak maksimal karena tokolan tertimbun lumpur juga bisa dihindari. ?Sistem ini juga cocok dikembangkan di daerah yang tanahnya berlumpur,? tegas Jarot. Dengan keunggulan itu, tak heran panen tokolan bisa mencapai SR hingga 80%, sangat jauh dari rerata panen tokolan kolam sawah yang hanya 60% saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisiensi lahan dicapai dengan meningkatkan kepadatan benur di dalam hafa hingga mencapai 600 ? 650 ekor/m2. Angka ini jauh melampaui kepadatan tebar pendederan benur di kolam sawah yang hanya 100 ? 200 ekor/m2. Ia pun menyatakan baru saja seminggu panen tokolan dari hafa sistem tangga itu. ?Rata-rata SR 80%. Ada satu hafa yang 70%, karena sempat bocor hafanya, sehingga benur lolos,? papar pria yang pernah 3 tahun bekerja di Jepang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Hafa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jarot, setiap kolam pembesaran bisa dihampari hafa untuk pendederan hingga 20% dari luasan kolam. Jarak antar hafa 80 cm ? 1m. Agar tak tenggelam, hafa diikat pada patok-patok bambu setinggi 1,5 m yang ditancapkan ke dasar kolam. Patok yang terlihat di permukaan air diusahakan minimal setinggi 20 cm agar tali tak mudah lepas. Patok ini ditancapkan setiap 2 m di sisi terpanjang hafa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar benur tidak kekurangan oksigen, dipasang aerasi sistem kricik alias mengalirkan air di atas hafa. Pipa melintang di lubangi sisi samping, sehingga setiap hafa memperoleh 2 lubang yang alirannya menuju arah yang berbeda. Menurut Jarot, air ini harus mengalir 24 jam penuh. Pompa yang diadaptasi dari pompa air celup untuk taman itu hanya mati saat dibersihkan filter-nya setiap 3 hari sekali.TROBOS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3770699535961671844?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3770699535961671844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/udang-galah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3770699535961671844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3770699535961671844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/udang-galah.html' title='UDANG GALAH'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf7PBlR-II/AAAAAAAAALE/gk64naebLXo/s72-c/udang-galah-1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-1850499962084074227</id><published>2010-07-22T14:57:00.001+07:00</published><updated>2010-07-22T14:59:49.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>BENIH GURAME</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Benih Gurame, Ilmu Warisan di Kaki Gunung Slamet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lahan persawahan kas desa atau yang dikenal dengan istilah “bengkok” itu disulap menjadi petakan kolam pendederan benih gurame. Sejauh ini, baru 5 hektar yang dialihfungsikan menjadi kolam, dari 40-an hektar lahan sawah yang ada. Tapi tak menutup kemungkinan penggunaannya bakal diperluas. Sebagaimana keterangan yang diberikan Katam, kepala desa setempat, Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. “Itu tahap awal, jika potensi mendukung bisa saja seluruh lahan yang ada akan dialihkan menjadi lahan pendederan,” tutur Katam. Ia salah satu kades di wilayah Kedungbanteng yang antusias merespon gagasan menjadi sentra benih gurame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Banyumas telah bertekad membangun wilayahnya dengan konsep minapolitan. Dan dengan alasan potensi yang ada, gurame dipilih sebagai komoditas unggulan. Dalam kerangka itu, Kecamatan Kedungbanteng difokuskan sebagai sentra pembenihan dengan didukung dua kecamatan tetangga, Baturraden dan Karanglewas. Dipilihnya daerah tersebut sebagai pusat pembenihan tak lepas dari karakter kultur, iklim dan sumber daya alam yang mendukung untuk produksi benih. Khaeruri, salah satu pembenih Gurame asal Desa Beji mengatakan, potensi pengembangan benih belum tergarap optimal. Lahan yang dimungkinkan digarap masih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak di kaki Gunung Slamet, tak jauh dari bumi wisata pegunungan Baturraden, Khaeruri mengisahkan, Desa Beji sudah dikenal sebagai daerah pembenih sejak ratusan tahun silam. Kakek berumur 62 tahun ini mengaku sejak kecil telah mendapat ilmu membenih dari pendahulunya. Dan ia bertekad setia menekuni usaha warisan tersebut. Pandangan serupa menurut Khaeruri, banyak diyakini masyarakat di sekitarnya. Tak sedikit yang menjadikan usaha pembenihan sebagai sumber pendapatan utama keluarga. “Hampir setiap keluarga di Beji memiliki indukan, setidaknya 2 pasang,” kata Khaeruri yang juga Ketua Kelompok Tani Setya Maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan lahan bengkok desa, diterangkan Katam, memberlakukan sistem sewa. Untuk tiap bahu –demikian masyarakat biasa menggunakan istilah untuk luasan lahan sawah— atau sekitar 7.000 m2 dikenakan tarif 3,5 juta per tahun yang harus disetor ke kas desa. Dengan dana itu masyarakat berhak atas penggunaan lahan plus mendapat fasilitas pembuatan akses jalan menuju kolam dan beberapa kebutuhan peralatan kolam yang dimiliki secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan ini lahir karena lahan yang dimiliki masyarakat terbatas dan akses perairan juga kurang mendukung. Dengan sistem dibuat kelompok, diharapkan pengelolaan usaha akan jadi lebih mudah. Persoalan teknis dan persaingan akan dengan lebih baik terselesaikan. Bukan tidak mungkin, Katam mengurai asa, daerah Beji didesain menjadi kampung wisata gurame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permintaan Tak Ada Habisnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi telur calon benih gurame dari Beji sekitar 6 juta di kala musim kemarau, dan mencapai 10 juta  saat air melimpah di musim penghujan. Benih dalam bentuk telur asal Beji ini menurut Katam diakui oleh BBAT Sukabumi (Balai Budidaya Air Tawar) dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sebagai benih bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain diserap daerah sekitar seperti Purbalingga, Banjarnegara, Tegal dan Cilacap, benih tersebut banyak dipasarkan ke luar daerah, utamanya Tulungagung. Seorang tengkulak benih, Nur Rachiem mengungkapkan, saban pekan ia mengirim pesanan benih sampai 4 juta ke Tulungagung. Masih ada lagi pesanan dari DIY dan Jawa Barat yang kerap membuatnya kewalahan melayani. Telur-telur itu dibelinya dari petani seharga Rp 15 –  20 per butirnya. “Tapi pernah juga mencapai Rp 35,” sambung Rachiem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan sepanjang 2009 diakui Rachiem meningkat. “Bisa dikatakan permintaanya tak terbatas mas, tidak ada habisnya!” ujarnya. Ironisnya, musim yang tak menentu sebagaimana belakangan terjadi menjadikan produksi tidak dapat diandalkan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-1850499962084074227?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/1850499962084074227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/benih-gurame.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1850499962084074227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1850499962084074227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/benih-gurame.html' title='BENIH GURAME'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-6365106318434102868</id><published>2010-07-22T14:51:00.003+07:00</published><updated>2010-07-22T14:57:30.030+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>PRODUKSI BELUT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf5TqbS0tI/AAAAAAAAAK0/OA12z8k3o30/s1600/belut.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 156px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf5TqbS0tI/AAAAAAAAAK0/OA12z8k3o30/s320/belut.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496635986430579410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pematang, Tempat Produksi Bibit Belut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Hermawan, pembudidaya belut yang juga Ketua Kelompok Tani Mitra Sukses Bandung, Jawa Barat, berhasil menerapkan teknik budidaya yang tidak hanya menghasilkan belut ukuran konsumsi, tetapi bibit belut (anakan) sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seolah menjawab persoalan ketersediaan bibit belut. Fakta menunjukkan, kebanyakan pembudidaya belut masih mengandalkan bibit hasil tangkapan alam untuk dibesarkan. Proses pemijahan belut yang sulit ditengarai menjadi penyebabnya. Tak heran apabila lebih banyak pembudidaya memilih menjalankan usaha pembesaran, bukan pemijahan atau pembibitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diakui Ruslan Roy, Direktur PT Dapetin, pengusaha budidaya dan ekspor belut. Ditemui TROBOS (8/8) di kantornya, Roy membenarkan sebagian besar pembudidaya belut masih mengandalkan bibit hasil tangkapan alam. “Kalaupun didapatkan anakan pada kolam pembesaran, itu hanya sebuah kebetulan akibat ‘perkawinan dini’ belut,” kata Roy. Tentu saja, hasil pemijahan seperti ini tidak dapat dijadikan andalan pasokan bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy mengaku, bersama para mitranya, Dapetin sampai saat ini baru dapat memenuhi sekitar ½ ton permintaan bibit tiap bulannya. Sementara permintaan total bibit, menurutnya, sekitar dua ton per bulan. “Bahkan terkadang mencapai 5 ton per bulan,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasil Mengamati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik budidaya yang diaplikasikan Iwan, diutarakannya, merupakan hasil pengamatan langsung di persawahan. Ia menemukan, di habitat aslinya belut biasa bertelur di tepian pematang sawah. “Belut senang bertelur di sekitar pematang sawah yang tidak tergenang air. Ciri sarang belut adalah adanya sekumpulan busa. Jika menemui kondisi seperti ini bisa dipastikan ada belut yang sedang berpijah atau bertelur,” jelas Iwan saat diwawancarai TROBOS di rumahnya (26/8). Karena itu, perbedaan utama teknik budidaya Iwan dengan teknik budidaya belut umumnya adalah keharusan adanya pematang di lokasi budidaya sebagai tempat belut memijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati berhasil mengidentifikasi kebiasaan belut dan mampu mengembangkan bibit, Iwan mengaku belut belum mampu memenuhi besarnya kebutuhan belut di pasaran. “Selama ini kami baru bisa memasok bibit sekitar 5 kuintal per bulan,” kata Iwan yang memiliki 10 anggota pembudidaya belut di kelompoknya. Menurutnya, permintaan bibit belut mencapai 1-2 ton per bulan datang dari Tasikmalaya, Garut, Jawa Tengah sampai Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itupun belum sepenuhnya dari hasil budidaya. Sebagian masih mengandalkan hasil tangkapan alam, 60% bibit hasil budidaya dan 40% bibit hasil tangkapan alam,” sebut Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapkan Lahan dan Media&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya belut dilakukan Iwan di persawahan menggunakan sistem mina padi atau kolam tanah. Tidak seperti layaknya sawah dengan pematang hanya di pinggiran, areal persawahan atau kolam yang ditebar bibit belut memiliki beberapa buah pematang.&lt;br /&gt;“Proses dimulai dengan menggali tanah atau areal persawahan sedalam sekitar 70 cm. Luasan lahan budidaya tergantung lahan yang dimiliki. “Bisa menggunakan lahan berukuran 2 x 2 meter hingga 5 x 5 meter tergantung ketersediaan,” jelas Iwan. Di bagian tengah sawah atau kolam dibuat kembali galian lebih dalam sekitar 30 cm dengan ukuran 1 x 1 meter atau menyesuaikan ukuran lahan. Ceruk ini berfungsi saat pemanenan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf5rnFhkuI/AAAAAAAAAK8/mbjHJ7bsGqs/s1600/belut2.gif"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf5rnFhkuI/AAAAAAAAAK8/mbjHJ7bsGqs/s320/belut2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496636397850825442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Plastik dibentang di sekeliling sawah (dinding dalam). “Dipasang sampai kedalaman sekitar 30 cm, tujuannya mencegah belut kabur. Sementara, bagian bawah dibiarkan berupa tanah karena belut tidak dapat kabur melalui bawah,” jabar Iwan. Cara lain, sekeliling kolam budidaya dapat ditembok dengan dasarnya tetap berupa tanah. Setelah itu dibuat pematang. Tinggi pematang sekitar 20 cm dengan lebar minimal 30 cm. “Jika kurang lebar pematang mudah rusak, terutama saat musim hujan,” kata Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Iwan, media paling baik yang dapat digunakan untuk budidaya belut adalah tanah sawah yang sudah berupa lumpur halus seperti pasta. “Jika ditusuk menggunakan kayu media meninggalkan bekas lubang. Tidak seperti bubur encer,” terang Iwan. Ia tidak menyarankan menggunakan tanah darat, meskipun sebelumnya telah dimatangkan. “Tanah darat yang dimatangkan teksturnya tetap kasar dan cepat memadat saat budidaya,” kata Iwan.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-6365106318434102868?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/6365106318434102868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/produksi-belut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6365106318434102868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6365106318434102868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/produksi-belut.html' title='PRODUKSI BELUT'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf5TqbS0tI/AAAAAAAAAK0/OA12z8k3o30/s72-c/belut.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-6918941481688939245</id><published>2010-07-22T14:49:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T14:51:47.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>IKAN MAS MUSI RAWAS</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembenihan Ikan Mas Ala Musi Rawas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya memacu produksi benih ikan mas saat ini sedang dilakukan oleh UPR (Usaha Peternak Rakyat) di Srikaton Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Uniknya, mereka tidak menerapkan sistem pembenihan yang biasa dilakukan pembudidaya ikan mas lain. UPR ini menggunakan caranya sendiri, yang dinamakan dengan sistem pembenihan Musi Rawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apep Saepul Mahpud, penyuluh perikanan yang membina UPR tersebut pada satu kesempatan di Bogor mengatakan Sistem Pembenihan Musi Rawas ini sebenarnya tak jauh beda dengan sistem pembenihan ikan mas yang sudah ada seperti sistem Hoper, Dubish, Cimindi, Sunda ataupun cara tradisional. Bedanya hanya pada perlakuan terhadap telur pasca pemijahan. Yakni telur sebelum ditetaskan difermentasi terlebih dahulu dalam kantong plastik/karung goni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lain, pembenihan ala Musi Rawas  ini tidak memerlukan kolam penetasan khusus. Telur yang telah sudah difermentasi langsung ditetaskan di kolam pendederan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hapa (kelambu) penetasan dipasang di pinggir kolam pendederan, dan selanjutnya telur dimasukkan dalam hapa. Dalam waktu setengah jam, telur sudah akan menetas. Tetasan kemudian dibiarkan selama 2 hari sampai kuning telur (yolk sac) habis. Kemudian larva ditebarkan ke kolam dengan cara membuka hapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengusung sistem pembenihan ini, Apep berhasil masuk sebagai 10 finalis Festival Karya Penyuluh Kelautan dan Perikanan (FKPKP) II beberapa waktu lalu di Bogor. Dia menyebutkan ada banyak kelebihan dari sistem pembenihan ala Musi Rawas dibandingkan sistem pembenihaan ikan mas umumnya. “Cara ini bisa meningkatkan keberhasilan hingga 100%,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dengan sistem ini daya tetas telur akan meningkat. “Kalau pembenihan biasa, dengan 3 kg induk akan diperoleh  telur maksimal 40 gelas( isi sekitar 500 telur) dalam 20 hari. Tapi kalau pakai cara ini bisa menghasilkan 125 gelas,” jelasnya. Cara ini juga bisa membuat  lebih cepat 24 jam dibandingkan dengan sistem biasa yang memakan waktu 2x24 jam. “Jadi bisa hemat tenaga,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, pembenihan Musi Rawas akan menghasilkan larva yang lebih kuat dan sehat karena tingkat pencemaran telur yang tidak menetas relatif sedikit. Tak hanya itu, ukuran benih ikan saat panen secara umum rata. Cara ini juga bisa menghindari serangan hama dan penyakit telur khususnya jamur Ichtiopthyrius multifilis sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berawal dari Pemijahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembenihan diawali dengan pemijahan. Dan baik tidaknya pemijahan akan menentukan tingkat keberhasilan dalam menghasilkan benih. Pemijahan secara alamiah pada ikan mas akan terjadi pada dini hari. Suhu air yang rendah memicu ikan untuk memijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apep menggambarkan proses pemijahan yang selama ini dilakukannya. Wadah pemijahan bisa berupa bak, kolam tanah atau hapa pemijahan. Ukuran minimalnya panjang 3 m, lebar 2 m dengan kedalam air minimal 40 cm. Dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet. Wadah pemijahan merupakan pemicu ikan untuk kawin, karena itu perlu dikondisikan sesuai dengan habitatnya. Caranya, wadah dikeringkan sampai kering betul, kemudian air diusahakan mengalir terus menerus sehingga difusi oksigen lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memijahkan ikan mas ala Musi Rawas dibutuhkan induk dengan kriteria umur minimal 1 tahun, berat minimal 1,5 kg, sisik besar-besar dan merata, bagian perut membesar ke arah pengeluaran, bagian antara kedua sirip dada cekung ke dalam dan bila diraba terasa lunak, bagian perut bila diurut ke bagian urogenitalis (pengeluaran telur) akan keluar cairan kuning bahkan telur. Usahakan telur yang terlihat butirannya sudah rata dan berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Garung, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah (Kalteng). Seolah tak hiraukan teriknya matahari, puluhan laki-laki terjun ke kolam dan penuh semangat menangkapi patin ukuran setengah kiloan. Dengan disaksikan pejabat setempat dan pejabat Departemen Kelautan dan Perikanan, warga sekitar melakukan panen perdana hasil ujicoba budidaya patin di lahan gambut. Patin-patin itu telah dipelihara selama 7 bulan. Hari itu seakan menjadi pembuktian dapatnya patin (Pangasius hypopthalmus) dibudidayakan di lahan dengan keasaman tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DKP), Made L Nurdjana menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai realisasi dari program pemanfaatan 1,4 juta hektar lahan gambut. Instruksi Presiden nomor 2 tahun 2007 menyebutkan, percepatan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan pengembangan lahan gambut di Kalteng untuk wilayah konservasi meliputi 80% total area. “Sisanya, sekitar 330 ribu hektar dimanfaatkan untuk agribisnis termasuk perikanan,” sebut Made kepada TROBOS. “Dengan sedikit rekayasa olah kolam, masyarakat Kalteng yang umumnya tinggal di kawasan lahan gambut berpeluang membuka usaha pembesaran patin,” sambung Made.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Usaha dan Investasi, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya DKP, Lenny Stansye Syafei pun yakin, wilayah Kalteng sangat berpotensi menjadi sentra produksi patin dengan memanfaatkan sungai-sungai yang ada. “Jika produksi bisa digenjot, tidak menutup kemungkinan ada investor yang tertarik mendirikan pabrik pengolahan patin sebagai komoditas ekspor,” kata Lenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dukungan Pemda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan terpisah, Gubernur Kalteng, Teras Narang menyatakan dukungannya pada pemanfaatan lahan gambut yang selama ini lebih banyak “tidur” untuk budidaya patin. ”Pulaung Pisau dan beberapa kabupaten lainnya akan saya dorong untuk mengembangkan budidaya patin. Kemudahan perizinan usaha akan diberikan bagi investor yang tertarik membangun pabrik pengolahan di Kalteng,” tegas Teras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen perdana patin di kolam percontohan diperkirakan menghasilkan 2 sampai 3 ton. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran para ahli budidaya di BBAT (Balai Budidaya Air Tawar) Mandiangin Kalsel, yang memulai program pembangan patin di lahan gambut sejak Maret 2009. Kepala BBAT Mandiangin, Endang Mudji Utami menjelaskan, instalasi budidaya ikan lahan gambut lahannya diserahterimakan dari Pemerintah Kabupaten Pulau Pisau kepada Ditjen Perikanan Budidaya DKP. Luas lahan intalasi buidaya yang diserahterimakan sekitar 22 hektar. Ada 12 kolam percontohan diisi ikan patin dan 3 kolam diisi ikan nila. Masing-masing seluas 600 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Endang mengatakan, 9 kolam diisi 3 ribu ekor, 4.200 ekor, dan 6 ribu ekor dengan ukuran benih 5 sampai 8 cm. Lama pemeliharaan 7 bulan, panen ukuran rata-rata 600 gram per ekor, dan tingkat kematian sekitar 20%. Kemudian ada 1 kolam yang awalnya diisi patin ukuran 600 gram per ekor, kini dipanen dengan ukuran 2 kg per ekor. Tingkat kematiannya sekitar 10%.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-6918941481688939245?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/6918941481688939245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/ikan-mas-musi-rawas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6918941481688939245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6918941481688939245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/ikan-mas-musi-rawas.html' title='IKAN MAS MUSI RAWAS'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-690316239570436850</id><published>2010-07-22T14:41:00.003+07:00</published><updated>2010-07-22T14:48:24.921+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>SENTRA GURAMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf3S2tAiXI/AAAAAAAAAKk/3aCbT0tQjO0/s1600/gurame-1.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf3S2tAiXI/AAAAAAAAAKk/3aCbT0tQjO0/s320/gurame-1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496633773522979186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banyumas: Sentra Gurame yang Kurang Benih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian benih masih didatangkan dari luar kawasan, bahkan dari Jawa Timur&lt;br /&gt;Ikan gurame produksi daerah Purbalingga dan sekitarnya lebih banyak diminati dan dipilih konsumen ketimbang ikan sejenis dari  daerah lain. Bahkan para pedagang berani membeli ikan-ikan gurame asal eks Karesidenan Banyumas atau kawasan yang kerap diistilahkan dengan “Barlingmas Cakeb” (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, cilacap dan Kebumen) ini dengan harga di atas rata-rata gurame dari luar daerah. Ini disampaikan Ketua KTT (Kelompok Tani Ternak) “Mina Dipakerti I” Bukateja – Purbalingga, Umar Thoyib, kepada TROBOS saat ditemui beberapa waktu lalu. Ia mengambil contoh, apabila gurame ukuran 2 – 3 ekor/kg pasokan dari daerah Jawa Timur biasanya dilepas dengan harga Rp 22.000 per kg, maka ikan herbivora asal eks Karesidenan Banyumas tersebut berani ditawarkan dengan harga Rp 24.000 tiap kg-nya. Masih menurut Umar, ini lantaran gurame hasil budidaya daerah kaki Gunung Slamet ini punya kelebihan tak berbau lumpur/tanah dan dagingnya dinilai lebih gurih. Permintaan pun sejauh ini terus deras mengalir. “Bisa dibilang kewalahan melayani order mas,” ujarnya sambil senyum simpul. Setengah terkekeh, ia menyambung, “Buat yang sudah paham gurame, harga tak jadi soal. Beli gurame Purbalingga nggak bakal kecewa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter alam yang kaya akan air membuat daerah ini potensial sebagai penghasil utama perikanan air tawar. Dan komoditas gurame menjadi unggulan, salah satu pendorongnya karena budidaya gurame tak banyak menuntut waktu. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sehari paling banter waktu kerja hanya 2 jam untuk memberi makan dan cek kualitas air pagi dan sore,”&lt;/span&gt;  sebut Mujahidin, salah seorang rekan seprofesi Umar. Sehingga tak mengherankan, kalau banyak pegawai negeri sipil (PNS), karyawan maupun pamong desa setempat merangkap sebagai pembudidaya gurame. Sebagaimana halnya Mujahidin, yang seorang sekretaris desa (sekdes).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf3oHAp5AI/AAAAAAAAAKs/goVFJH0-E6s/s1600/gurami.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 228px; height: 163px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf3oHAp5AI/AAAAAAAAAKs/goVFJH0-E6s/s320/gurami.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496634138677601282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pakan pun demikian melimpah tersedia. Menurut Umar,  ia dan kawan-kawan menitikberatkan pakan lebih pada pemanfaatan dedaunan (sente atau kangkung) yang banyak ditanam di tepian kolam. Kendati ia tak menyangkal pakan pabrikan digunakan untuk memacu pertumbuhan. Di samping itu, faktor benefit yang berlipat juga jadi pendorong maraknya bisnis budidaya gurame di Purbalingga, terutama pembesaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Umar, rata-rata pembesaran yang dilakukan di kelompoknya, adalah sampai umur 15 – 16  bulan dari semula benih sebesar korek api (umur 3 – 4 bulan). Produksi yang dihasilkan dari kelompok budidaya pembesaran dengan luasan lahan sekitar 4,5 ha ini setiap hari berkisar 5 kuintal. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setidaknya 30 ton per tahunnya. Dengan pasar meliputi Banjarnegara, Purwokerto dan Cilacap,&lt;/span&gt;” imbuh Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan usaha budidaya gurame kian bergairah, terlebih setelah belakangan mendapatkan dukungan yang memadai dari aspek permodalan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Usaha yang ditekuni dengan serius, dijamin tawaran modal akan datang dengan sendirinya. Baik itu dari bank ataupun modal swasta lainnya,&lt;/span&gt;” tandas Mujahidin. Ia juga mengaku, anggota kelompoknya berhasil mendapatkan modal kredit dari PT Telkom bunga 6%. Bahkan kemudian diikuti oleh sebuah bank BUMN, yang dimanfaatkan para pembudidaya di sekitarnya. Soal pembayaran kredit, dengan tegas Mujahidin mengatakan tak ada yang ngemplang. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bahkan dengan suku bunga 10% pun pembudidaya masih berani meminjam&lt;/span&gt;,” ujarnya setengah sumbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartono, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Purbalingga memberikan keterangan, produksi gurame Purbalingga pada 2009 tercatat 2130 ton sementara di 2014 ditargetkan mencapai 2600,5 ton. Ia menegaskan, upaya peningkatan produksi perikanan gurame di wilayahnya merupakan salah satu bentuk ikut menyukseskan program pemerintah menjadi jawara perikanan dunia. Dan sumber daya alam serta sumber daya manusia di Purbalingga sangat mendukung untuk pengembangan gurame. Hartono mengaku, pihaknya bakal menggandeng Dinas Pekerjaan Umum (PU) guna memperbaiki sistem pengairan dan infrastruktur lainya. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Irigasi dan ketersediaan air di daerah ini melimpah, meski demikian masih perlu dioptimalkan,&lt;/span&gt;” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal Benih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketersediaan benih unggul dan kontinyuitasnya masih menjadi “pekerjaan rumah” (PR). Ini diakui Hartono, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sejauh ini pasokan benih dari luar seperti Banjarnegara, Cilacap bahkan Jawa Timur masih dilakukan.”&lt;/span&gt; Maka, untuk meningkatkan kemandirian, pembenihan rakyat akan digarap lebih serius. Ini diutarakan Sediyono, Kabid Perikanan Disnakan Purbalingga.  “Upaya ketersediaan benih akan dikembangkan skala tani rakyat dan mengelompok.” Langkah ini dipilih dengan alasan, transfer teknologi akan dapat terserap lebih optimal dan merata, serta koordinasi dan pembinaan lebih mudah dilakukan&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-690316239570436850?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/690316239570436850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/sentra-gurami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/690316239570436850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/690316239570436850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/sentra-gurami.html' title='SENTRA GURAMI'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf3S2tAiXI/AAAAAAAAAKk/3aCbT0tQjO0/s72-c/gurame-1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3913562603068136043</id><published>2010-07-22T14:37:00.001+07:00</published><updated>2010-07-22T14:40:02.391+07:00</updated><title type='text'>SIDAT</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sidat, "Gede" Dari Indramayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan pasang mata tertuju pada Bupati Indramayu H Irianto Syafiuddin yang tengah berkutat mengangkat jaring. Dalam waktu sekejap, puluhan ikan sidat tertangkap dan berliuk-liuk di atas jaring. Tidak satu pun sidat siap panen itu berukuran kecil, minimal 700 gram per ekor, bahkan ada yang sampai 5 kg per ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat setempat benar-benar dibuat kagum melihat keberhasilan budidaya sidat yang berlokasi di di Desa Lamarantarung Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya bangga ada warga Indramayu yang sukses budidaya sidat. Masyarakat sekitar bisa meniru keberhasilan ini,”&lt;/span&gt; kata Irianto usai acara panen perdana (23/2). Tidak kurang dari 800 kg sidat dalam 2 petak kolam dipanen pada hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Ketua Paguyuban Patra Gesit, Syaiful Hanif, mengatakan hasil panen perdana ini belum optimal. Karena ukuran dan kualitas benih sidat yang ditebar tidak seragam.  Ia bertekad, berikutnya akan  melakukan optimalisasi kondisi lingkungan dan nutrisi agar hasil produksi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;InsyaAllah, mulai bulan juni 2010 kami panen 1.000-1.500kg/petak dengan ukuran minimal 1 kg/ekor,”&lt;/span&gt; kata Saiful kepada TROBOS. Jenis sidat yang dibudidayakan adalah Anguilla Marmorata atau sogili, dengan luas lahan meliputi 2,5 hektar yang dibagi menjadi 10 petak lahan pembesaran dan 12 bak aklimatisasi. Hasil panen siap diekspor ke Taiwan, Eropa, Amerika, China, dan Hongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi budidaya yang diterapkan dimulai dari pendederan I (dari ukuran glass eel/benih sidat dipelihara hingga elver atau 0,2-10gram/ekor) dan pendederan II (dari ukuran elver dipelihara hingga fingerling atau 10-100gram/ekor). Terakhir proses pembesaran hingga ukuran konsumsi di atas 500 gram/ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pusat Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengenalkan budidaya sidat, kelak paguyuban ini juga berperan sebagai pusat kegiatan belajar budidaya berbagai komoditas perikanan. Kegiatan budidaya lainnya adalah cacing sutera dan cacing Lumbricus dan Tiger, sebagai pakan alami ikan sidat dan jenis ikan lainnya.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3913562603068136043?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3913562603068136043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/sidat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3913562603068136043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3913562603068136043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/sidat.html' title='SIDAT'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-4966855866453660541</id><published>2010-07-22T14:27:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T14:37:40.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>BANDENG LESTARIKAN WADUK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf1DBeaInI/AAAAAAAAAKc/rXBveeEi1uU/s1600/BANDENG.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf1DBeaInI/AAAAAAAAAKc/rXBveeEi1uU/s320/BANDENG.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496631302513369714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejak tebar nener tahun lalu, tangkapan nelayan naik, air waduk lebih jernih, ancaman penyakit di KJA menurun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat nelayan di Waduk Jatiluhur, air beriak di permukaan bukannya tanda tak dalam, melainkan tanda sekumpulan ikan bandeng siap ditangkap. Pemandangan riakan air di Waduk seluas 8.300 hektar itu belakangan sering terpantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan Jatiluhur pun kian semangat pergi menangkap ikan. Kodir yang tiap hari menampung hasil tangkapan nelayan mengakui adanya peningkatan hasil tangkapan ikan. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nener (benih bandeng) yang akhir tahun lalu ditebar pemerintah, sekarang mulai bisa dipanen nelayan,&lt;/span&gt;” kata Ketua Kelompok Pengumpul Hasil Tangkapan Nelayan Jatiluhur (Pultanur) ini kepada TROBOS awal Maret lalu di Waduk Jatiluhur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data program pengelolaan bersama perairan waduk di Indonesia (co-management) menunjukkan, terhitung sejak 31 Januari hingga 28 Februari 2010 total bandeng yang dipanen para nelayan Jatiluhur sekitar 15.374 kg. Produksi bandeng tersebut berasal dari kegiatan penebaran nener yang dilakukan mulai Oktober 2009 sebanyak 14 kali. Jumlah nener yang sudah ditebar mencapai 4 juta ekor dari total yang ditargetkan 10 juta ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada bandeng, ungkap Kodir, para nelayan setempat kebanyakan menangkap jenis ikan nila, mujair, patin, dan ikan asli Jatiluhur seperti hampal, tawes, glossom serta oskar. Hadirnya bandeng otomatis membuat pendapatan nelayan bertambah. Rata-rata setiap hari, Kodir yang sudah 7 tahun menjadi bandar ikan itu, menerima hasil tangkapan bandeng antara 15-19 kg per nelayan (ukuran 6 ekor /kg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga jual bandeng dari nelayan minimal Rp 6.000 per kg. Artinya, dari tangkapan bandeng saja, setiap hari nelayan bisa meraup tidak kurang dari Rp 100 ribu. Belum lagi hasil tangkapan jenis ikan lainnya. Keuntungan yang diperoleh lumayan, sebab modal untuk sekali operasi menangkap ikan hanya sekitar Rp 30 ribu untuk solar dan logistik. Selain itu, nelayan beroperasi cukup pagi hingga siang hari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penampung ikan di Jatiluhur seperti Kodir juga antusias. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bandeng termasuk ikan yang mudah dijual. Pasar ikan Muara Angke Jakarta siap membeli berapa pun banyaknya bandeng yang dikirim dari Jatiluhur,&lt;/span&gt;” ungkap Kodir semangat. Keuntungan pun cukup besar. Dalam 1 bulan terakhir ada 15 ton bandeng yang dijual. Harga bandeng di pasar ikan Jakarta, Karawang, Bekasi, dan Bandung paling rendah Rp 8 ribu per kg. Jika dihitung tidak kurang dari Rp 120 juta uang perputaran uang dari perdagangan bandeng saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manfaat Ekologis Bandeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nelayan dan bandar ikan merasakan manfaat ekonomis, para pembudidaya ikan di KJA Waduk Jatiluhur ikut merasakan manfaat ekologis dengan hadirnya bandeng. Diungkapkan Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan KJA ”Mekar Lestari”, Warisdi, setelah ada bandeng tingkat kematian budidaya ikan di KJA berkurang dratis. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Biasanya Januari sampai Maret terjadi kematian massal di KJA, terutama ikan mas dan nila. Namun awal tahun ini musibah itu tidak dialami para pembudidaya,”&lt;/span&gt; kata pemilik 12 unit KJA itu. Ia juga mengakui warna perairan waduk yang terletak di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat itu jadi lebih jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini erat kaitannya dengan karakter bandeng sebagai ikan pemakan plankton. Menurut Peneliti Loka Riset Pemantauan Stok Ikan di Jatiluhur, Sri Endah Purnamaningtyas, bandeng berfungsi sebagai bio filter (mahluk hidup penyaring lingkungan)  di perairan waduk. Sri menjelaskan, endapan sisa pakan di dasar perairan dari kegiatan budidaya KJA membuat siklus plankton berkembang cepat dan dalam jumlah yang sangat banyak (booming plankton). Plankton yang berlebih ini cenderung mengikat oksigen dalam air, sehingga kerap memicu terjadinya kematian massal ikan di KJA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pantauan Sri, kualitas air di Waduk Jatiluhur pasca penebaran bandeng membaik. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indikasinya terlihat dari kandungan oksigen terlarut yang tadinya pada 2007 sebesar 2,84 mg/l menjadi 3.56 mg/l pada 2008,&lt;/span&gt;” jelas Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat senada diungkapkan Ahli Perikanan Budidaya dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Enang Harris Surawidjaja. Menurut Enang, bandeng merupakan ikan yang hidup di kolom dan permukaan perairan. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keberadaan bandeng di Jatiluhur mampu mereduksi jumlah plankton yang blooming (pertumbuhan populasi plankton yang berlebihan), perairan pun jadi lebih terang (jernih),&lt;/span&gt;” kata Enang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, kegiatan penebaran bandeng menciptakan hubungan saling menguntungkan antara pembudidaya KJA dengan nelayan. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sisa pakan budidaya KJA merupakan sumber bagi bandeng. Sebaliknya bandeng membuat lingkungan perairan lebih bersih dan menekan risiko kematian pada usaha budidaya KJA,”&lt;/span&gt; ujar Enang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Co–Management &amp;amp; Penyuluhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat ekonomis dan ekologis yang dirasakan para pelaku usaha perikanan di Waduk Jatiluhur merupakan bagian dari program co–management yang mulai dilaksanakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada pertengahan 2008. Program bersama pengelolaan waduk di Indonesia ini bekerjasama dengan lembaga riset dari Australia yaitu ACIAR (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Australian Centre for International Agricultural Research&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anggota tim program co–management, Rina, program ini bertujuan mendorong peran serta yang lebih besar dari masyarakat perikanan yang menggantungkan hidup di waduk. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemerintah dan masyarakat secara bersama membangun sistem pengelolaan usaha perikanan di waduk yang berkelanjutan,”&lt;/span&gt; kata Rina. Program ini dilaksanakan pada 3 waduk besar di Jawa Barat yaitu Jatiluhur, Cirata, dan Saguling. Khusus untuk Jatiluhur, keberhasilan program ini juga tidak terlepas dari peran pembinaan dan pendampingan yang dilakukan penyuluh perikanan. Bentuk penyuluhan yang dilakukan antar lain sistem pengelolaan penangkapan, jenis alat tangkap yang diperbolehkan, musim penangkapan, dan penguatan kelembagaan masayarakat.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-4966855866453660541?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/4966855866453660541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/bandeng-lestarikan-waduk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/4966855866453660541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/4966855866453660541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/bandeng-lestarikan-waduk.html' title='BANDENG LESTARIKAN WADUK'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEf1DBeaInI/AAAAAAAAAKc/rXBveeEi1uU/s72-c/BANDENG.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-983708801180237001</id><published>2010-07-22T14:21:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T14:27:13.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produk Olahan'/><title type='text'>OLAHAN LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfyt60X1TI/AAAAAAAAAKU/e9g33LTJ980/s1600/NILAI+TAMBAH.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfyt60X1TI/AAAAAAAAAKU/e9g33LTJ980/s320/NILAI+TAMBAH.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496628740925936946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Olahan Lele: Garap Nilai Tambah Berbuah Rupiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menepis stigma lele yang buruk rupa, rendahan dan tidak berkelas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam kreasi olahan pangan berbahan baku lele dipastikan akan membuat ikan berkumis ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(catfish) &lt;/span&gt;menjadi komoditas usaha yang menjanjikan.  Segala kreativitas dan keberanian mencoba sesuatu yang berbeda terus digali. Upaya mempercantik tampilan lele, membuang kesan lele yang seram, hitam, berkumis dan sedikit mirip ular, menjadi tantangan tersendiri. Tujuannya, memberi daya tarik bagi konsumen.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Antara lain dilakukan Rangga Umara, di seputar Jakarta dan sekitarmya. Pria 31 tahun ini mengembangkan bisnis kuliner modern “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pecel Lele Lela&lt;/span&gt;”. Kedai makan yang menyajikan berbagai menu hidangan menarik berbahan dasar lele. Berbekal kreativitas memadupadankan santapan lele dengan gaya hidup, usaha yang dirintis sejak 2006 silam itu kini sudah berkembang lebih dari 20 cabang di Jabodetabek. Dan setiap bulannya bisa meraup omset Rp 1,2 miliar, dengan keuntungan 25 – 30 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Usaha lele ini justru menjadi tantangan tersendiri. Lihat saja, selama ini perkembangan bisnis pecel lele cuma gitu-gitu saja dan kebanyakan masih kelas kaki lima&lt;/span&gt;,” ungkap Rangga kepada TROBOS awal Mei lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan Rangga, lele bisa didongkrak gengsinya. Umumnya, konsumen yang tidak menyukai lele dikarenakan tampilannya yang hitam seperti ular sehingga menyeramkan. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya yakin, produk olahan lele akan memiliki nilai tambah jika memiliki tampilan yang enak dilihat dan tidak menyeramkan. Saya mendorong konsumen untuk coba dulu makan lelenya, sehingga strategi awalnya adalah konsumen diberi tester agar kemudian mau beli,&lt;/span&gt;” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di kedai “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pecel Lele Lela&lt;/span&gt;” dapat ditemui berbagai menu olahan berbahan dasar lele, seperti lele goreng tepung, lele saos padang, lele original dan lele fillet sebagai unggulan, dan lele tomyam serta lele teriyaki sebagai menu tambahan. Bahkan, Rangga mengaku, pihaknya tengah mempersiapkan produk olahan baru berupa steak lele dan burger lele. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah terbukti, yang sebelumnya tidak doyan makan lele, sekarang sudah mulai menyukainya&lt;/span&gt;,” ujarnya dengan senyum mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap harinya, untuk memenuhi kebutuhan seluruh cabang yang ada, setidaknya sekitar 5 kuintal lele segar ukuran 6 ekor per kg harus disiapkan Rangga. Selama ini ia bekerjasama dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Biotrop”&lt;/span&gt;, Bogor dan beberapa pembudidaya di daerah Parung, Bogor sebagai pemasok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkah Lele Afkir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lain adalah usaha Marsini. Lele afkir ukuran besar yang biasa dikenal dengan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bantongan” &lt;/span&gt;dan tidak laku dijual justru menjadi berkah tersendiri bagi perempuan asal Boyolali, Jawa Tengah ini. Dia mengembangkan usaha pengolahan dengan menyulap lele afkir menjadi makan ringan berupa keripik dan abon lele. Usaha yang telah digeluti Marsini sejak 2007 ini tiap bulannya beromset sekitar Rp 10 juta. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Awal usaha ini untuk menyiasati lele hasil budidaya yang tak laku dijual sebagai konsumsi karena ukurannya terlalu besar. Kalaupun dijual ke kolam pemancingan tidak terserap semua,”&lt;/span&gt; jelas Marsini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsini mengatakan, dalam seminggu rata-rata ia menghabiskan 200 kg lele segar untuk diolah. Bahan tersebut terkonversi menjadi 140 kg keripik dan 60 kg abon. Bahan baku, ia memanfaatkan hasil usaha budidaya lelenya yang telah berjalan sejak 1998 dengan kapasitas 20 ribu ekor lele di 50 kolam. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untuk lele yang berukuran sangat besar, bobot 1 kg seekor misalnya, diolah menjadi abon. Sedangkan untuk olahan keripik kulit, keripik sirip dan keripik daging, bahan bakunya adalah lele ukuran sekilo isi 3 sampai 5,&lt;/span&gt;” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lele yang bernilai rendah, olahan hasil kerajinan tangan Marsini tersebut bisa dihargai dengan nilai cukup tinggi. Dalam bentuk kiloan tanpa kemasan, keripik dijual dengan harga Rp 65 ribu per kg. Selain itu, keripik juga dijual dalam berbagai ukuran kemasan plastik. Antara lain kemasan keripik kulit ukuran 120 gram dihargai Rp 15 ribu, sementara ukuran 250 gram diharga Rp 27 ribu. Untuk keripik sirip dan keripik daging dijual dalam ukuran 200 gram dengan harga Rp 18 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada pula yang dikemas dalam tas kertas, yaitu campuran antara keripik daging dan sedikit keripik kulit ukuran 120 gram dengan harga Rp 15 ribu. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang dikemas dengan tas kertas ini paling banyak laku, praktis dijadikan oleh-oleh,”&lt;/span&gt; kata Marsini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara abon dijual dalam 2 ukuran yaitu kemasan plastik ukuran 90 gram seharga Rp 13 ribu dan kemasan kotak kertas ukuran 200 gram seharga Rp 25 ribu. Pemasaran keripik dan abon lele tersebut meliputi kota-kota sepert Boyolali, Solo, Jogjakarta, Magelang, Salatiga, Ampel sampai Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mangut Lele Kaleng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah dengan keripik dan abon lele, Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Gunungkidul mengembangkan produk mangut lele kaleng. Olahan makanan khas Jawa yang dipadu teknologi pengemasan ini merupakan hasil riset selama 3 tahun. Dan dengan menyandang merek Gading, sajian instan ini telah mendapatkan pengesahan sebagai merek dagang dari Depkumham dan lolos uji di BPOM. &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-983708801180237001?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/983708801180237001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/olahan-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/983708801180237001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/983708801180237001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/olahan-lele.html' title='OLAHAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfyt60X1TI/AAAAAAAAAKU/e9g33LTJ980/s72-c/NILAI+TAMBAH.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-8771702921564024445</id><published>2010-07-22T14:14:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T14:21:41.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>TINGKATKAN CITRA LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfxYjbocGI/AAAAAAAAAKM/ZKlvQfMoBhA/s1600/CITRA+SENTRA+LELE.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfxYjbocGI/AAAAAAAAAKM/ZKlvQfMoBhA/s320/CITRA+SENTRA+LELE.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496627274359271522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tingkatkan Citra di Sentra Lele&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjamurnya usaha olahan berbahan dasar lele mengakibatkan permintaan menjadi tinggi. Mau tidak mau pembudidaya lele harus menyediakan pasokan yang memadai untuk memenuhi permintaan tersebut. Salah satu sentra produksi lele, meliputi budidaya dan pengolahan, adalah percontohan minapolitan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten ini mampu memasok tidak kurang dari 12 – 14 ton leles tiap harinya untuk permintaan daerah Boyolali dan sekitarnya seperti Jogjakarta, Solo, Salatiga dan Semarang. Di Boyolali juga berkembang beberapa UKM (Usaha Kecil Menengah) pengolahan lele menjadi abon lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele. Diantaranya, UKM Alang – alang dan Wanita Mina Utama di Desa Mangkubumen Kec. Tegalrejo Sawit, Boyolali. UKM Alang – Alang mengolah 300 kg lele segar per minggu menjadi 100 kg abon lele, 100 kg keripik kulit dan sirip lele. Sementara UKM Wanita Mina Utama dari 500 kg lele segar per bulan menjadi 150 kg abon lele, 40 kg keripik kulit lele, 20 kg keripik sirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Pengolahan Ditjen P2HP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Santoso menjelaskan, lele yang hanya digoreng nilai tambahnya rendah dan segmennya terbatas. Sehingga perlu membuat bentuk lain yang bisa menjangkau masyarakat lebih banyak. Dan kepada TROBOS medio Mei lalu Santoso mengatakan, pemerintah telah mengembangkan 15 sentra pengolahan hasil perikanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Satu sentra, secara khusus, menghasilkan produk – produk dari satu jenis ikan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Satu sentra identik dengan satu komoditas ikan. Misalnya, cari olahan ikan kakap ya ke Sidoarjo, pindang presto ya ke Pati dan kalau cari olahan lele ya ke Boyolali. Jadi kita membuat one village one product (satu kampung satu produk),&lt;/span&gt;” jelas Santoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Santoso, pengembangan sentra pengolahan lele seperti di Boyolali merupakan kawasan tertentu yang secara fungsional digunakan UKM untuk mengolah atau meningkatkan nilai tambah lele. Juga untuk memudahkan dalam pemasaran dan pembinaan.&lt;br /&gt;Minat Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Santoso, Kepala Pusdatin KKP, Soen’an H Poernomo mengatakan, guna memacu peningkatan budidaya 10 komoditas unggulan termasuk lele, pemerintah telah mengembangkan kawasan komoditas unggulan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan potensi lele itu sangat besar. Dengan pemeliharaan yang intensif diharapkan pandangan masyarakat bisa berubah bahwa lele adalah makanan yang bersih dan sehat,”&lt;/span&gt; ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Dwi Priyatmoko mengatakan, meskipun wilayah Boyolalai 70 % merupakan lahan tandus tapi minat masyarakat untuk usaha budidaya dan pengolahan lele sangat tinggi. Apalagi lele lebih mudah dibudidayakan dan daya tahannya lebih kuat. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Usaha berbahan dasar lele memiliki daya tarik karena nilai keuntungannya signifikan, sehingga sejak 2006 usaha ini cepat menyebar,”&lt;/span&gt; jelasnya kepada TROBOS (24/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, usaha pemijahan, pembenihan, budidaya dan pengolahan lele tersebar di Kecamatan Simo, Boyolali, Banyudono, Teras, Sawit, Sambi, Karang Gede, Nogosari dan Andong. Berbagai produk olahan lele telah dihasilkan seperti abon, keripik kulit dan sirip. Bahkan beberapa kelompok melakukan budidaya di waduk yang tersebar di sekitar Boyolali yaitu Waduk Kedung Ombo, Cengklek dan Badi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkendala Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, tingginya animo budidaya pembesaran dan pengolahan lele di Boyolali ini tidak diimbangi dengan ketersediaan benih ukuran 7 - 11 cm yang siap dibesarkan. Padahal setiap harinya, Boyolali membutuhkan 200 - 400 ribu ekor benih ukuran tersebut. “Memang ada pemijahan dan pembenihan lele tapi hanya sampai ukuran 2 cm,” jelas Dwi. Menurut dia, pembenih tak sanggup mendederkan lele sampai ukuran 7 – 11 cm karena kurangnya modal. Pembenih biasanya menjual lele ukuran 2 cm ke pembudidaya di luar Boyolali yang terdekat seperti Salatiga, Sleman dan Magelang.&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-8771702921564024445?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/8771702921564024445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/tingkatkan-citra-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/8771702921564024445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/8771702921564024445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/tingkatkan-citra-lele.html' title='TINGKATKAN CITRA LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfxYjbocGI/AAAAAAAAAKM/ZKlvQfMoBhA/s72-c/CITRA+SENTRA+LELE.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-1148386328500245640</id><published>2010-07-22T14:04:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T14:13:01.940+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>GERAMI APIK DENGAN PREBIOTIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfvRsE1mCI/AAAAAAAAAKE/QlIwTZ68JFI/s1600/GURAME+DAN+PREBIOTIK.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 131px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfvRsE1mCI/AAAAAAAAAKE/QlIwTZ68JFI/s320/GURAME+DAN+PREBIOTIK.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496624957397243938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aplikasi probiotik sistem Guba mampu mempercepat waktu pembenihan dan pembesaran ikan gurami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan bioteknologi pada usaha budidaya ikan gurami membuat pembudidaya tak lagi harus menunggu lama untuk menghasilkan keuntungan. Budidaya yang biasanya memakan waktu tahunan, kini bisa diringkas menjadi hanya hitungan bulanan. Rahasianya ada pada pengunaan probiotik (kumpulan mikroba menguntungkan).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Permina (Perhimpunan Masyarakat Perikanan Nusantara), Among Kurnia Ebo, probiotik dapat diaplikasikan sejak tahap pembenihan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;post larva&lt;/span&gt;) hingga pembesaran. Produk alami ini aman digunakan secara terus menerus. Namun, ia mengingatkan, harus disesuaikan dengan analisa usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan sampai biaya pembelian probiotik malah menjadi pemborosan&lt;/span&gt;,” kata Ebo saat berbincang dengan Trobos medio April lalu di Gubug Permina, Desa Jambidan Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantu Yogyakarta. Permina mengembangkan aplikasi probiotik pada budidaya gurami diberi nama sistem Guba (Gugus Simba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi tersebut merupakan hasil riset dari Pusat Penelitian Antar Universitas (PPAU) bidang Ilmu Hayati Institut Teknologi Bandung. Dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Permina, Usman Wiwied, Inti dari teknik ini adalah penggunaan probiotik sejak dini hingga panen di mulai dari persiapan kolam, penyiapan pakan, dan penjagaan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis mikroba yang digunakan lebih lengkap dan terukur karena diproduksi oleh lembaga terpercaya (lihat tabel). Dengan probiotik itu, mikroorganisme ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;baik&lt;/span&gt;’ tumbuh di kolam. Dengan lingkungan yang baik itu, mikro organisme &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘jahat&lt;/span&gt;’ akan terdesak dan tidak mampu menyerang gurami. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selain itu kecernaan pakan meningkat karena ada probiotik khusus yang dicampurkan dengan pakan,&lt;/span&gt;” paparnya di forum pelatihan budidaya gurame yang merupakan agenda rutin Permina setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Probiotik Fase Pembenihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan probiotik sejak tahap pembenihan sudah dirasakan manfaatnya  oleh para pembudidaya gurami. Salah satunya adalah Budi Suyoto, pembudidaya gurami asal Jambidan. Budi menjelaskan, probiotik digunakan sejak benih atau larva gurami sekitar pada umur 21 hari setelah menetas atau saat mencapai panjang 2 – 3 per ekor bisa juga disebut ukuran sekuku (mana yang lebih dahulu tercapai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu benih gurami sudah mampu memakan pakan buatan berbentuk tepung (D0). Sebelum  itu, sejak umur 7 hari benih gurami hanya memakan cacing sutera. Pakan D0 diberikan dengan digumpalkan dengan beberapa sendok air yang telah diberi probiotik pemacu pertumbuhan (khusus untuk dicampur pakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan buatan tersebut kemudian dibulatkan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Pakan ini kemudian diletakkan di atas cobek atau piring lalu ditenggelamkan di dasar bak atau kolam pendederan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cukup 4 - 5 cobek untuk 5 ribu – 7 ribu ekor benih, pakan didalamnya  akan habis dalam 2 hari,”&lt;/span&gt; ujar pelatih budidaya di Permina ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Budi mengatakan, pada umur 30 hari, pembudidaya sudah dapat memanen gurami dengan ukuran panjang 3 – 4 cm per ekor. Tanpa aplikasi probiotik, ukuran itu baru akan dicapai pada umur 40 - 45 hari. Harga rata-rata saat panen Rp 120 – Rp 140 per ekor, jauh di atas harga telur gurami yang hanya Rp 30 per butir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menetaskan 10 ribu butir telur  (rata-rata tingkat kehidupan/Survival Rate atau SR) 80% saja di bak ukutan 2 x 3 m dapat menghasilkan uang lebih dari Rp 500 ribu. Modal untuk pendederan gurami sebanyak itu hanya memerlukan cacing sutera 10 liter (Rp 10.000,-/liter) dan pakan D0 2 kg (Rp 12.000,-/kg), dan probiotik Rp 30.000,-/botol.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-1148386328500245640?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/1148386328500245640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/gerami-apik-dengan-prebiotik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1148386328500245640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1148386328500245640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/gerami-apik-dengan-prebiotik.html' title='GERAMI APIK DENGAN PREBIOTIK'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfvRsE1mCI/AAAAAAAAAKE/QlIwTZ68JFI/s72-c/GURAME+DAN+PREBIOTIK.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5706396139081192428</id><published>2010-07-22T14:00:00.003+07:00</published><updated>2010-07-22T14:04:14.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>IKAN LALAWAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEftSHOK88I/AAAAAAAAAJ8/B8UWkScyiQY/s1600/IKAN+LALAWAK.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEftSHOK88I/AAAAAAAAAJ8/B8UWkScyiQY/s320/IKAN+LALAWAK.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496622765660894146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menguak Potensi Ikan Lalawak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wujudnya bak ikan hias, durinya tak selebat tawes, dagingnya gurih, terlebih yang jenis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ikan lalawak jengkol”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas mengapa ikan ini dipanggil “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lalawak&lt;/span&gt;”. Pastilah bukan karena bisa melawak. Yang pasti ikan ini mirip tawes. Bedanya, sirip lalawak berwarna merah, demikian halnya mata dan ekornya. Ukuran sisik lebih kecil dibanding tawes dan berwarna cerah. Menarik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya lalawak bisa dipelihara sebagai ikan hias. Bisa juga sebagai ikan lauk. Gurih, dan bobot seekornya pun bisa  1 kg atau lebih. Lalawak adalah ikan air tawar. Sungai berarus deras dan berbatu-batu adalah habitat paling nyaman bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalawak tidak sepopuler ikan lauk maupun ikan hias walaupun rasa, wujud, dan bobotnya berpotensi pasar. Iin Suhandi, Ketua Kelompok Mina Usaha, mengungkapkan, kebanyakan sungai di daerah Sumedang Jawa Barat juga dihuni lalawak. Apalagi bila sungai-sungai itu masih alami, tanpa limbah industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Cikandang dan Berade misalnya, termasuk hunian nyaman bagi lalawak. Bahkan pada bulan-bulan tertentu  kedua sungai di Kecamatan Buahdua, Sumedang itu terjadi musim ikan berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iin mengatakan, ikan lalawak awalnya hanya dijadikan hobi untuk mengisi kolam. Belum banyak masyarakat yang membudidayakan ikan ini. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tapi bisa dipastikan orang yang suka menjala dan memancing di sungai punya ikan ini di kolamnya,”&lt;/span&gt; kata Iin kepada TROBOS belum lama ini di Sumedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki dari Cileungsing, Desa Cilangkap, Buahdua Sumedang ini menuturkan, karena belum banyak yang membudidayakan, maka populasi lalawak tak pesat berkembang.  Pemeliharaan yang ada dilakukan secara polikultur dengan ikan tawes, nilem, mas dan gurame.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dicari di pasar pun sangat langka. Ini karena produksi kecil dan pemeliharaannya pun masih sambilan. Hanya masyarakat di daerah tertentu saja yang tahu ikan ini. Makanya, banyak yang mau beli, tapi sayang, ikannya tidak ada,”&lt;/span&gt;  ujar Iin Suhandi yang sejak 1975 memelihara lalawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lalawak Jengkol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda sungai, beda jenis ikan lalawaknya, Iin menjelaskan. Paling sedikit terdapat 3 jenis ikan lalawak. Yakni lalawak yang umum diketahui, lalawak jengkol yang berukuran lebih pendek seperti ikan louhan, dan lalawak panjang seperti ikan nilem yang umumnya ada di daerah Slawi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan ini cocok di daerah dingin dan jarang terkena penyakit. Selain duri lalawak tidak sebanyak duri tawes, rasa dagingnya pun gurih, cocok untuk dipindang, didendeng atau dipepes. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalau ada yang panen ikan lalawak di kolam, tengkulak atau warga sekitar biasa beli untuk dipindang dengan takaran 15 - 18 ekor per kg,&lt;/span&gt;” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang hobi menjala ini mengakui, kalau dipelihara di kolam pertumbuhan lalawak lambat. Apalagi dengan pakan yang seadanya. Kalau di kolam memakai konsentrat (pakan pabrikan) butuh waktu 6 - 7 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau dipelihara di air deras atau di sungai menggunakan keramba, dalam waktu 3 bulan sudah bisa dipanen. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernah jala saya menangkap lalawak yang beratnya lebih dari 1 kg. Dari situlah, saya berencana memelihara di air deras. Di sungai. Sekarang sedang disiapkan tempatnya,&lt;/span&gt;” Iin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembenihan Lebih Untung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman budidaya Iin, usaha pembenihan lebih menguntungkan dibanding pembesaran.  Lalawak konsumsi takaran 15 - 18 ekor per kg hanya dihargai sekitar Rp 20 ribu. Sedangkan kalau menjual benih 1 liter dengan isi sekitar 300 - 400 ekor, bisa mencapai Rp 48 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan benih ukuran 1 cm butuh waktu sekitar 2 bulan dengan keuntungan total sekitar Rp 400 ribu (satu kali panen benih dengan 5 ekor betina dan 20 ekor jantan). “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak perlu mengeluarkan biaya pakan karena hanya mengandalkan pakan alami. Cukup hanya mengatur aliran air dan harus sudah selesai panen padi karena benih lalawak bisa ditebar di sawah,&lt;/span&gt;” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama diakui Dadang Suparna, pemelihara ikan lalawak di Dusun Naringgul, Buahdua Sumedang. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau jual benih bisa lebih mahal, 1 liter berisi sekitar 300 ekor bisa dijual Rp 25-30 ribu. Sedangkan untuk ukuran konsumsi 1 kg berisi 20 ekor hanya dijual Rp 15 ribu,”&lt;/span&gt; ujar Dadang yang mulai pelihara ikan lalawak sejak 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memijahkan, Iin menjelaskan, diperlukan media kolam tanah dalam keadaan kering dan berbau tanah agar merangsang ikan untuk kawin. Ada pula cara untuk menimbulkan bau tanah perangsang dengan membakar daun kelapa dan bata. Ciri betina yang sudah matang kelamin dan siap menjadi induk adalah semua sisik di tubuhnya kasar, dan badannya terasa lembek. &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5706396139081192428?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5706396139081192428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/ikan-lalawak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5706396139081192428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5706396139081192428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/ikan-lalawak.html' title='IKAN LALAWAK'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEftSHOK88I/AAAAAAAAAJ8/B8UWkScyiQY/s72-c/IKAN+LALAWAK.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-7889532845955862480</id><published>2010-07-22T13:52:00.002+07:00</published><updated>2010-07-22T13:58:49.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>TANAM PADI PANEN NILA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfsAkNh2kI/AAAAAAAAAJ0/GbWFTa1Toh0/s1600/tanam+padi+panen+nila.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfsAkNh2kI/AAAAAAAAAJ0/GbWFTa1Toh0/s320/tanam+padi+panen+nila.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496621364693555778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minapadi dengan ikan mas, itu sudah biasa. Tapi kalau minapadi menggunakan ikan nila , ini baru bisa dari biasa. Sistem menanam padi sambil memelihara ikan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;minapadi&lt;/span&gt;) sebenarnya sudah lama diterapkan para petani. Sayangnya kegiatan perpaduan usaha pertanian dan perikanan ini kini hampir terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal usaha ini punya nilai tambah sendiri. Menurut Kepala Seksi Teknik Usaha Produksi BPLUPPB Kerawang, Muhammad Nurudin, dari minapadi petani dapat memperoleh keuntungan ganda dalam satu periode tanam padi. Satu dari panen padi dan satu lagi dari panen ikan. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namun keuntungan double itu nyatanya belum cukup menarik bagi para petani,&lt;/span&gt;” ujar Nurudin kepada TROBOS belum lama ini di Kerawang Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk membangkitkan semangat para petani, Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) mencetuskan gerakan tebar satu juta benih ikan nila di lahan minapadi. Meski masih dalam tahap percontohan, namun usaha pendederan (pembesaran calon benih ikan) yang coba diterapkan di lahan persawahan milik Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BPLUPPB) Kerawang hasilnya cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurudin menuturkan, penerapan minapadi dengan nila punya beberapa keunggulan. Pertama, lanjutnya, nila lebih tahan terhadap kondisi lingkungan air sawah yang mengandung pestisida. Kedua, potensi pasar nila yang cukup besar dan waktu pemeliharaan relatif singkat. Jenis nila yang digunakan dalam percontohan ini adalan nila gesit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemeliharaan Sederhana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknik pemeliharaan, minapadi dengan ikan mas dan dengan nila tidak jauh berbeda. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemeliharaannya cukup sederhana, hanya saja mungkin hasil akhir atau perolehan pendapatan lebih besar jika menggunakan komoditas nila,&lt;/span&gt;” tutur Nuruddin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi Sukerdi - Teknisi BPLUPPB yang diberi amanah menjalankan budidaya minapadi di BPLUPPB Kerawang, menjelaskan budidaya minapadi sebenarnya tidak terlalu rumit. “Setiap petani hanya perlu merelakan 12 % dari tiap 1 ha luas lahan sawahnya digunakan untuk tempat membesarkan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia menjelaskan, luasan lahan tersebut tersebut dibuat seperti parit yang mengelilingi sawah dengan ukuran lebar sekitar 3 meter. Ketinggian ait diatur antara 60 – 80 cm. Model dan ukuran parit yang dibuat untuk pemeliharaan ikan bisa bermacam-macam. Tergantung keinginan petani dan model sawah yang dimiliki bisa seperti parit keliling, parit tengah, parit silang, parit kombinasi (palang keliling), dan parit pengungsiang berbentuk kolam kecil di tengah petakan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;refuge pond)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor pemilihan lokasi juga perlu diperhatikan, sebaiknya pada lahan dengan  ketinggian di bawah 800 m DPL (Di atas Permukaan Laut). Hal ini karena sangat menentukan agar pertumbuhan ikan dapat optimal. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jenis padi yang digunakan juga harus jenis padi unggul yang mempunyai daya serap dan nilai ekonomis tinggi,&lt;/span&gt;” tambah Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percontohan minapadi dengan nila ini dilakukan pada lahan sawah seluas 1 hektar. Jarak tanam padi 25 cm, dengan jumlah bibit 2 – 3 batang setiap rumpun. Lama siklus periode minapadi sekitar 110 hari. Benih nila mulai ditebar setelah umur tanam padi sekitar 30 hari. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tujuannya untuk menghindari resiko keracunan akibat penggunaan obat-obatan atau pupuk,”&lt;/span&gt; jelas Dedi.&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan jenis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pestisida&lt;/span&gt; (obat pembasmi hama) yang digunakan untuk penyemprotan dipilih yang sistemik atau tidak langsung kontak dengan lingkungan ikan. Jumlah kepadatan tebar benih nila sebaiknya  100 ekor/m2. Lama pemeliharaan membutuhkan waktu sekitar 40 - 60 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan yang digunakan, Dedi menjelaskan, berupa pakan alami yang memang sudah ada di sawah dan pakan pellet. Padi yang ditanam berdampingan dengan pemeliharaan ikan bisa menyuburkan lahan sawah menjadi lebih subur. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kotoran ikan yang banyak mengandung unsur hara sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk, sebaliknya lahan yang subur itu bisa menjadi sumber pakan bagi ikan,&lt;/span&gt;” ujar Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Panen Dua Kali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pemanenan yang tidak dilakukan bersamaan juga menjadi nilai lebih dari sistem budidaya minapadi. Tahapannya terlebih dahulu dilakukan pemanenan ikan, baru kemudian padi. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Biasanya nila dipanen pada umur pemeliharaan 60 hari, beberapa hari sebelum panen padi,”&lt;/span&gt; jelas Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuruddin juga menambahkan nila yang dipelihara termasuk dalam tahap pendederan. Nila yang dipanen digunkan untuk benih pada tahap pembesaran. Pemasaran benih nila bisa ke pembudidaya keramba jaring apung di waduk-waduk besar. &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TROBOS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-7889532845955862480?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/7889532845955862480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/tanam-padi-panen-nila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7889532845955862480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7889532845955862480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/07/tanam-padi-panen-nila.html' title='TANAM PADI PANEN NILA'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/TEfsAkNh2kI/AAAAAAAAAJ0/GbWFTa1Toh0/s72-c/tanam+padi+panen+nila.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-2926732782278069212</id><published>2010-05-20T15:35:00.002+07:00</published><updated>2010-05-20T15:41:07.947+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>TEKNIK PEMIJAHAN LELE DUMBO SISTEM INDUCED BREEDING (KAWIN SUNTIK)</title><content type='html'>Ikan lele dumbo (Clariasgariep nus) telah banyak dikenal orang sebagai ikan peliharaan yang baik, mudah dipelihara dalam kolam dan genangan air biasa. Ikan lele dumbo juga merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki daging yang lezat, mudah dicerna dan bergizi. Selain itu lele dumbo dapat tumbuh dengan cepat dan mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal perkembangannya, tahun 1985 sd 1988, lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sangat mahal harganya, terutama yang berukuran benih. Hal ini disebabkan karena pada waktu itu penyebarannya masih langka. Namun setelah penyebarannya meluas, harganya mulai menurun dan pada akhirnya mencapai kondisi harga normal yang tidak jauh berbeda dengan harga jenis ikan air tawar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi harga normal seperti sekarang ternyata usaha budidaya ikan lele dumbo ini masih menguntungkan, baik untuk tahap usaha pembenihan maupun pembesaran. Oleh karena itu masih layak dan perlu dibudidayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih-lebih dengan adanya kemudahan dalam pembudidayaannya seperti teknologi yang tidak terlalu sulit, tidak memerlukan lahan yang luas serta tidak memerlukan air yang melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini disajikan petunjuk praktis mengenai teknik pemijahan lele dumbo melalui penyuntikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemijahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemijahan ikan lele dumbo dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Secara Alami &lt;/span&gt;: Pemijahan secara alami adalah pemijahan yang dilakukan di alam terbuka sesuai dengan sifat hidupnya tanpa perlakuan dan bantuan manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Secara Disuntik Dengan Kelenjar Hipofisa&lt;/span&gt; : Penyuntikan dengan kelenjar hipofisa adalah pemijahan yang dilakukan dengan bantuan atau penanganan manusia melalui pemberian kelenjar hormon hipofisa pada recipient (penerima) yang berguna untuk melancarkan proses kematangan gonad, sehingga mempercepat proses jalannya pemijahan ikan tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri Induk Lele Dumbo Yang Siap Memijah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Induk Jantan&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Umur telah mencapai 1 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Warna tubuh agak kemerah-merahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alat kelamin tampak jelas meruncing&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tubuh tetap ramping dan gerakannya lebih lincah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;2. Induk Betina&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perut tampak besar dan bila diraba terasa lembek&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alat kelamin berwarna kemerahan dan lubangnya agak membesar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila diurut kearah anus keluar telur berwarna kekuningan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;3. Ciri-ciri Induk Yang Baik&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Umur telah mencapai 1 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ukuran berkisar 300-1000 gram/ekor&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nampak sudah jinak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badan mengkilat dan gemuk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tubuh sehat dan tidak cacat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyiapkan Donor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donor adalah ikan yang dikorbankan untuk diambil kelenjar hipofisanya untuk diberikan kepada ikan sebaga recipient (penerima donor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan sebagai ikan donor untuk ikan lele dumbo dapat diberikan ikan sejenis dan dari ikan mas tanpa mempertimbangkan jantan atau betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cara Menyiapkan Kelenjar Hipofisa Dari Ikan Lele&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Timbang ikan donor seberat induk yang akan disuntik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Potong bagian batas kepalanya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari arah bukaan mulut, kepala lele dibelah, bagian atas kepala diambil&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ambil kelenjar dengan menggunakan pinset, lalu digerus/dihancurkan dengan menggunakan alat penggerus sambil ditambah pelarut akuabides 1-2 cc&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ambil dengan menggunakan spuit dan kelenjar siap disuntikkan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;2. Cara Menyiapkan Kelenjar Hipofisa Dari Ikan Mas&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Timbang ikan donor seberat induk yang akan disuntik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Potong bagian batas kepalanya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cara Penyuntikan dan Pelepasan Induk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Induk disuntik pada siang atau sore hari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelenjar hipofisa yang telah disiapkan , setengah disuntikkan pada induk jantan dan setengahnya lagi pada induk betina&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung dengan memasukkan jarum suntik secara mirin 45° sedalam ± 2 cm&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Induk yang telah disuntik, dilepas kedalam bak pemijahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemudian bak pemijahan ditutup rapat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemijahan akan terjadi pada malam hari, 8-12 jam setelah penyuntikan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Penetasan Telur dan Perawatan Larva&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Telur ditetaskan pada bak tembok atau pada bak yang terbuat dari plastik terpal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Telur menetas antara 20-24 jam dari pemijahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Larva (benih) diberi makanan tambahan pada hari ke-3 setelah menetas berupa kutu air (Daphnia sp.) atau cacing sutera&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selama pemeliharaan usahakan air tetap bersih dan jernih&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selanjutnya benih didederkan di tempat lain&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Diskan Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PO Box 2 Sukamandi, Subang 41256&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tel. 0260-520084&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-2926732782278069212?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/2926732782278069212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/05/teknik-pemijahan-lele-dumbo-sistem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/2926732782278069212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/2926732782278069212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/05/teknik-pemijahan-lele-dumbo-sistem.html' title='TEKNIK PEMIJAHAN LELE DUMBO SISTEM INDUCED BREEDING (KAWIN SUNTIK)'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3501875428486326794</id><published>2010-05-20T13:58:00.001+07:00</published><updated>2010-05-20T14:09:49.621+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BUDIDAYA IKAN CUPANG (Betta splendens)</title><content type='html'>Ikan cupang adalah ikan hias yang sangat dikenal oleh masyarakat khususnya anak-anak, karena ikan tersebut selain rupanya yang cantik juga dapat merupakan tentera yang menarik bila diadu. Ikan ini juga sering disebut ikan laga dan nama latinnya adalah Betta splendens, termasuk dalam famili Anabantidae (Labirynth Fisher).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanda-tanda Ikan Jantan dan Betina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CABUGAZ%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid 	{mso-style-name:"Table Grid"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	border:solid windowtext 1.0pt; 	mso-border-alt:solid windowtext .5pt; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-border-insideh:.5pt solid windowtext; 	mso-border-insidev:.5pt solid windowtext; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="margin-left: 23.4pt; border-collapse: collapse; border: medium none;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 135pt; border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jantan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 1.75in; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; padding: 0in 5.4pt;" valign="top" width="168"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Betina :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Berkembang Biak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan ini berkembang dengan cara bertelur dan telurnya menempel pada substrat seperti akar tanaman, daun-daun atau serabut rapia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah yang perlu diketahui :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pilihlah induk yang baik dan jantan yang cantik dan agresif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pisahkan antara induk jantan dan induk betina dan diberi makan yang cukup selama 4 s.d. 5 hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masukkan induk jantan dan induk betina kedalaman tempat pemijahan (toples, aquarium, ember, baskom) yang telah diberi tanaman air (eceng gondok atau serabut rapia dengan kedalaman air ± 25 cm). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah 2-3 hari akan terlihat telur menempel pada daun atau rapia. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pindahkan yang betina dan beri makan secukupnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selama 2-3 hari anak ikan tersebut tidak diberi makan karena masih ada persediaan kuning telur dalam tubuhnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selama 2-3 hari kemudian anak-anak ikan tersebut perlu diberi makan infosuria selama 3 hari kemudian diberi makan kutu air yang disaring selama 10 hari dan setelah itu dapat diberi kutu air tanpa disaring.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3501875428486326794?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3501875428486326794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/05/budidaya-ikan-cupang-betta-splendens.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3501875428486326794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3501875428486326794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/05/budidaya-ikan-cupang-betta-splendens.html' title='BUDIDAYA IKAN CUPANG (Betta splendens)'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-4228393785278235561</id><published>2010-05-20T13:05:00.007+07:00</published><updated>2010-05-20T13:14:22.922+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>MUDAHNYA BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TSdRK1sII/AAAAAAAAAJs/h-UrRSanPn8/s1600/12162848991.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 215px; height: 192px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TSdRK1sII/AAAAAAAAAJs/h-UrRSanPn8/s320/12162848991.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473230847428898946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya lobster air tawar merupakan salah satu usaha yang dapat ditekuni. Harganya di pasaran cukup tinggi, sekitar 100 ribu rupiah per kilogram, membuat budidaya lobster air tawar menjanjikan keuntungan bila dilakukan dengan teknik yang benar&lt;br /&gt;Salah satu lokasi budidaya lobster air tawar terdapat di Desa Bojong Kantong, Kecamatan Langen Sari, Banjar, Jawa Barat. Proses pembesaran dilakukan di kolam sawah, sehingga lobster dapat tumbuh lebih cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lokasi budidaya lobster air tawar di Banjar, Jawa Barat, dari Jakarta dapat dicapai melalui jalan tol Cipularang. Keluar di pintu tol Cileunyi, perjalanan kemudian dilanjutkan ke arah Priangan Timur, tepatnya di Desa Bojong Kantong, kecamatan Langen Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah budidaya lobster air tawar di lakukan, di areal seluas 1.400 meter persegi milik Endang Hardi. Dia telah menekuni usaha ini sejak 8 tahun lalu, dengan bantuan teknis dari Universitas Galuh Ciamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TSMv9QIyI/AAAAAAAAAJk/L9tcPAJyImw/s1600/udang_080717_a7.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 215px; height: 192px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TSMv9QIyI/AAAAAAAAAJk/L9tcPAJyImw/s320/udang_080717_a7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473230563635634978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobster yang dibudidayakan disini jenis red clow atau penjapit merah, yang bibitnya didatangkan dari Australia. Jenis ini paling banyak diminati pasar, terutama untuk restoran sea food, dan hotel berbintang.&lt;br /&gt;Budidaya lobster air tawar disini mulai dari pemijahan. Proses pemijahan dilakukan di bak semen. Induk lobster disatukan di dalam bak hingga terjadi perkawinan dan membuahkan telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembesaran lobster dilakukan di kolam tanah di tengah sawah. Lobster tumbuh optimal di kolam air tawar dengan ph antara 7 hingga 9, dan suhu antara 23 hingga 30 derajat celsius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharan lobster air tawar relatif tidak sulit. Untuk kolam tanah, makanannya tersedia secara alami berupa plankton. Sebagai makanan tambahan diberikan campuran parutan singkong, buah pepaya dan pelet. Pakan tambahan ini ditebarkan ke kolam sekali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TR8bluLWI/AAAAAAAAAJc/N4ShNj2SIzc/s1600/udang_080717_a4.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 215px; height: 192px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TR8bluLWI/AAAAAAAAAJc/N4ShNj2SIzc/s320/udang_080717_a4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473230283290324322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobster dipanen setelah dipelihara selama enam bulan. Pada usia tiga bulan seperti ini, lobster sudah dapat dikonsumsi, namun dari sisi ukuran belum layak, karena belum memenuhi kriteria permintaan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobster jenis penjapit merah dipasarkan di kota-kota di Pulau Jawa. Harganya sekitar 100 ribu rupiah per kilogram. Harga jual lobster di pasaran yang cukup menggiurkan, membuat usaha budidaya ini layak untuk ditekuni karena menjanjikan keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TRseNPz_I/AAAAAAAAAJU/kMinyXqfLXM/s1600/udang_080717_a6.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 215px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TRseNPz_I/AAAAAAAAAJU/kMinyXqfLXM/s320/udang_080717_a6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473230009115070450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan lobster air tawar jenis penjapit merah cukup tinggi dan belum seluruhnya dapat dipenuhi. Setiap minggunya sentra budidaya lobster air tawar ini menerima permintaan sekitar 5 kwintal lobster, namun baru dapat dipenuhi sekitar 1 kwintal saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya untuk mencicipi kelezatan rasa lobster air tawar. Kebetulan Pak Endang dan keluarganya telah menyiapkan lobster untuk kami nikmati bersama-sama. Hmmm, ternyata, rasa lobster air tawar ini memang lezat. Tidak salah bila banyak digemari dan harganya mahal.&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;(Helmi Azahari/Ijs)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Reporter : Fella Sumendap, Asep Syaifullah&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Juru Kamera : Damar Galih&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Penyunting gambar : Wahyu Indra Rukmana&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Lokasi : Langen Sari, Banjar, Jawa Barat&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tayang : 17 Juli 2008 Pukul 12.30 wib &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;dari : indosiar.com (http://ikanmania.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-4228393785278235561?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/4228393785278235561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/05/mudahnya-budidaya-lobster-air-tawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/4228393785278235561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/4228393785278235561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/05/mudahnya-budidaya-lobster-air-tawar.html' title='MUDAHNYA BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S_TSdRK1sII/AAAAAAAAAJs/h-UrRSanPn8/s72-c/12162848991.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-7327531793287947014</id><published>2010-04-19T23:14:00.002+07:00</published><updated>2010-04-19T23:28:11.842+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BUDIDAYA IKAN MANFISH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asal, Morfologi dan Kebiasaan Ikan Manfish     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Manfish atau yang dikenal juga dengan istilah 'Angel fish' berasal dari perairan Amazon, Amerika Selatan.  Manfish (Pterophyllum scalare) tergolong ke dalam famili Cichlidae, mempunyai ciri-ciri morfologis dan kebiasaan sebagai berikut:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memiliki warna dan jenis yang bervariasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bentuk tubuh pipih, dengan tubuh seperti anak panah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sirip perut dan sirip punggungnya membentang lebar ke arah ekor, sehingga tampak sebagai busur yang berwarna gelap transparan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pada bagian dadanya terdapat dua buah sirip yang panjangnya menjuntai sampai ke bagian ekor.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjaga dan melindungi keturunannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersifat omnivorus&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tergolong mudah menerima berbagai jenis makanan dalam berbagai bentuk dan sumber&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Beberapa jenis ikan Manfish yang dikenal dan telah berkembang di Indonesia antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diamond (Berlian), Imperial, Marble dan Black-White.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diamond&lt;/span&gt; (Berlian) berwarna perak mengkilat sampai hijau keabuan.  Pada bagian kepala atas terdapat warna kuning hingga coklat kehitaman yang menyusur sampai bagian punggung.  Manfish Imperial mempunyai warna dasar perak, tetapi tubuhnya dihiasi empat buah garis vertikal berwarna hitam/coklat kehitaman.  Manfish Marble memiliki warna campuran hitam dan putih yang membentuk garis vertikal.  Sedangkan manfish Black-White mempunyai warna hitam menghiasi separuh tubuhnya bagian belakang, dan warna putih menghiasi separuh bagian depan termasuk bagian kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengelolaan Induk &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan manfish dapat dijadikan induk setelah umurnya mencapai 7 bulan dengan ukuran panjang  7,5 cm.  Untuk mencapai hasil yang optimal, induk harus dikelola dengan baik antara lain dengan pemberian pakan yang baik seperti jentik nyamuk, cacing Tubifex, atau Chironomous.  Selain itu karena induk ikan manfish sangat peka terhadap serangan penyakit, maka perlu diberikan perlakukan obat secara periodik  Obat yang biasa digunakan antara lain oxytetracycline dan garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Sebelum dipijahkan, induk manfish dipelihara secara massal ( jantan dan betina ) terlebih dahulu dalam 1 akuarium besar (ukuran 100x60x60 cm3).  Setelah matang telur, induk manfish akan berpasangan dan memisahkan dari ikan lainnya.  Induk yang berpasangan tersebut sudah dapat diambil dan dipijahkan pada tempat pemijahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Selain itu dapat dilakukan, yaitu dengan memasangkan induk manfish secara langsung setelah mengetahui induk jantan dan betina.  Induk jantan dicirikan dengan ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina.  Kepala induk jantan terlihat agak besar dengan bagian antara mulut ke sirip punggung berbentuk cembung, serta bentuk badan lebih ramping dibandingkan dengan ikan betina.  Sementara induk betina dicirikan oleh ukuran tubuh yang lebih kecil dan bentuk kepalanya yang lebih kecil dengan bagian perut yang lebih besar/gemuk serta terlihat agak menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Pemijahan           &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemijahan dilakukan di akuarium berukuran 60x50x40 cm3 dengan tinggi air  30 cm.  Ke dalam akuarium tersebut diberikan aerasi untuk menyuplai oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Ikan manfish akan menempelkan telurnya pada substrat yang halus, misalnya potongan pipa PVC yang telah disiapkan/ditempatkan dalam akuarium pemijahan.  Karena ikan manfish cenderung menyukai suasana yang gelap dan tenang, maka pada dinding akuarium dapat ditempelkan kertas atau plastik yang berwarna gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Induk manfish akan memijah pada malam hari.  Induk betina menempelkan telurnya pada substrat dan diikuti ikan jantan yang menyemprotkan spermanya pada semua telur, sehingga telur-telur tersebut terbuahi.  Jumlah telur yang dihasilkan setiap induk berkisar antara 500-1000 butir.  Selama masa pemijahan tersebut, induk tetap diberi pakan berupa cacing &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tubifex, Chironomous&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daphnia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva           &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telur yang menempel pada substrat selanjutnya dipindahkan ke akuarium penmetasan telur (berukuran 60x50x40 cm3) untuk ditetaskan.  Pada air media penetasan sebaiknya ditambahkan obat anti jamur, antara lain Methyline Blue dengan dosis 1 ppm.  Untuk menjaga kestabilan suhu, maka ke dalam media penetasan telur tersebut digunakan pemanas air (water heater) yang dipasang pada suhu 27-28oC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Telur manfish akan menetas setelah 2-3 hari, dengan derajat penetasan telur berkisar 70-90%.  Selanjutnya paralon tempat penempelan telur diangkat dan dilakukan perawatan larva hingga berumur  2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Pakan yang diberikan selama pemeliharaan larva tersebut berupa pakan alami yang sesuai dengan bukaan mulut larva dan memiliki kandungan protein yang tinggi, antara lain nauplii Artemia sp.  Pakan tersebut diberikan 2 kali sehari ( pagi dan sore ) hingga larva berumur   10 hari dan dilanjutkan dengan pemberian cacing Tubifex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendederan dan Pembesaran &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Setelah berumur  2 minggu, benih tersebut dapat dilakukan penjarangan untuk kemudian dilakukan pendederan sampai ikan berumur satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Langkah berikutnya adalah memanen benih tersebut untuk dipindahkan ke dalam bak/wadah pembesaran.  Dalam hal ini dapat digunakan bak fiber atau bak semen, tergantung wadah yang tersedia.  Selama masa pembesaran, diupayakan agar ada aliran air ke dalam wadah pembesaran walaupun sedikit.  Padat penebaran untuk pembesaran ikan manfish berkisar 100 ekor/m2.  Pakan yang diberikan berupa cacing Tubifex atau pellet sampai benih berumur  2 bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran yang dicapai biasanya berkisar 3 - 5 cm.  Jika pakan dan kualitas air mendukung, sintasan pada masa pembesaran dapat mencapai 70-90%.  Selanjutnya benih manfish dapat dibesarkan lagi hingga mencapai ukuran calon induk atau induk dengan padat penebaran yang lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyakit dan Penanggulangannya  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan manfish dikenal cukup peka terhadap serangan penyakit, untuk itu diperlukan pengelolaan secara baik dengan menjaga kualitas air dan jumlah pakan yang diberikan.  Beberapa jenis parasit yang biasa menyerang benih/induk Manfish antara lain adalah : Trichodina sp., Chillodonella sp. dan Epystilys sp.  Sedangkan bakteri yang menginfeksi adalah Aeromonas hydrophilla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk menanggulangi serangan penyakit parasitek antara lain : Formalin 25%, NaCl 500 ppm.  Sedangkan untuk penyakit bakterial dapat digunakan Oxytetrachycline 5 - 10 ppm dengan cara perendaman 24 jam. &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;http://bbat-sukabumi.tripod.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-7327531793287947014?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/7327531793287947014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/04/budidaya-ikan-manfish.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7327531793287947014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7327531793287947014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/04/budidaya-ikan-manfish.html' title='BUDIDAYA IKAN MANFISH'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-8522328711586015157</id><published>2010-03-20T23:58:00.002+07:00</published><updated>2010-03-21T00:08:57.802+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>PELET BERVAKSIN  IMUNOGLOBIN Y ANTI AEROMONAS HYDROPHILA</title><content type='html'>Pembuatan vaksin pada umumnya dilakukan dengan meminjam inang yang sehat untuk ditularkan penyakit atau unsur yang berbahaya, agar terbentuk antibodi yang dapat digunakan untuk menyembuhkan. Hal ini direplikasi secara berbeda dengan cara meminjam ayam yang sehat untuk menghasilkan kuning telur dengan anti bakteria Aeromonas hydrophia yang menyerang ikan air tawar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Telur yang dihasilkan akan diuji dan diseleksi kuning telurnya yang mengandung Imunoglobulin Y yang dicampurkan ke dalam pelet pakan ikan. Ikan yang mengkonsumsi pelet tersebut terbukti kebal terhadap infeksi bakteri dan pemberian selama 14 hari pada dosis rendah mampu menekan kematian sampai 0%. Pemberian selama 30 hari menunjukkan hasil yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Teknologi sederhana aplikatif &lt;br /&gt;• Tepat guna dan sasaran &lt;br /&gt;• Ekonomis dan bernilai bisnis &lt;br /&gt;• Menghasilkan pelet dengan antibakteria Aeromonas hydrophia &lt;br /&gt;• Peningkatan nilai guna pelet/pakan &lt;br /&gt;• Ramah lingkungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.bic.web.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-8522328711586015157?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/8522328711586015157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/03/pelet-bervaksin-yang-mengandung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/8522328711586015157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/8522328711586015157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/03/pelet-bervaksin-yang-mengandung.html' title='PELET BERVAKSIN  IMUNOGLOBIN Y ANTI AEROMONAS HYDROPHILA'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5578031959878519365</id><published>2010-03-20T23:56:00.006+07:00</published><updated>2010-03-21T00:12:51.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>EKSTRAK DAUN SIRIH, JAMBU BIJI DAN SAMBILOTO UNTUK PENYAKIT IKAN</title><content type='html'>Penyakit MAS atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Motile Aeromonad Septicaemia&lt;/span&gt; masih menjadi wabah di budidaya ikan air tawar sampai sekarang, dan banyak menyerang jenis ikan lele. Bakteri patogen yang menjadi penyebab penyakit ini resisten terhadap berbagai jenis antibiotik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Invensi ini adalah antibiotik alami dengan menggunakan ekstrak daun sirih, daun jambu biji dan sambiloto, yang selain ramah lingkungan juga dapat meningkatkan daya tahan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;imunitas&lt;/span&gt;) ikan.&lt;br /&gt;Bahan pembuat antibiotik mudah didapat dan dibudidaya, proses pembuatan juga mudah dan lebih murah dari antibiotik komersil lainnya. Antibiotik ini bukan saja dapat mengobati, tetapi juga dapat mencegah ikan sakit MAS dengan dosis lebih rendah, saat kondisi ikan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Bersifat antibakteri tanpa menyebabkan resistensi pada bakteri patogen&lt;br /&gt;• Bersifat anti radang, penyembuhan MAS cepat&lt;br /&gt;• Meningkatkan daya tahan ikan&lt;br /&gt;• Ramah lingkungan&lt;br /&gt;• Proses produksi murah dan sederhana&lt;br /&gt;• Penggunaannya praktis, dapat digunakan untuk anak ikan maupun ikan dewasa&lt;br /&gt;• Bahan baku mudah didapatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.bic.web.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5578031959878519365?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5578031959878519365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/03/ekstrak-daun-sirih-daun-jambu-biji-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5578031959878519365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5578031959878519365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/03/ekstrak-daun-sirih-daun-jambu-biji-dan.html' title='EKSTRAK DAUN SIRIH, JAMBU BIJI DAN SAMBILOTO UNTUK PENYAKIT IKAN'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-2731111648051195283</id><published>2010-02-22T19:27:00.001+07:00</published><updated>2010-02-22T19:29:28.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>TIPS MEMBUAT KOLAM IKAN AIR TAWAR</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Halaman anda kecil? Rumah anda mungil? Tentu bukan alasan untuk tidak membangun sebuah kolam cantik. Nah, di mana letak kolam renang yang ideal bagi rumah anda? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mari kita bahas bersama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya apabila anda tinggal di perumahan, anda pasti memiliki halaman sisa di depan, bukan? Pada layout bangunan di perumahan, salah satu sisi biasanya digunakan sebagai carport.&lt;span class="fullpost"&gt; Tentunya anda tidak bisa membangunnya di situ, tetapi pada sisi yang lain. Bagi anda yang hanya memiliki lahan sisa sempit bisa mempertimbangkan untuk membangun kolam renang anda memanjang pada dinding pagar. &lt;br /&gt;Apabila anda memilih alternatif ini, anda bisa mempercantik kolam anda dengan permainan material dinding sebagai background kolam water boom. Batu alam susun sirih dapat menjadi pilihan anda untuk menciptakan kesan modern minimalis pada kolam anda. Anda bisa juga memilih batu paras atau palimanan untuk aksen putih dinding. Batu andesit bintik atau batu candi bujursangkar yang disusun secara rustic (maju-mundur) juga sesuai untuk memberi kesan modern pada lanskap anda. &lt;br /&gt;Apabila menginginkan kesan natural, anda dapat menempelkan batu pecah tempel (sala gedang atau purwakarta) atau anda bisa membuat tekstur dinding menyerupai tebing. Yang terakhir ini anda membutuhkan bantuan jasa seorang tukang ahli seperti pembuat water boom. &lt;br /&gt;Nah, tentunya kolam anda akan lebih menarik apabila mengalir. Untuk itu ada beberapa cara yang bisa anda lakukan. Cara yang paling mudah adalah dengan memakai pompa air (khusus akuarium) yang dapat dibenamkan ke dalam kolam. Anda akan mendapatkan kolam anda mengalir dan tentu saja ikan yang anda pelihara menjadi lebih senang, bukan? Efek ini akan lebih kentara dengan mendesain kolam menyerupai cascade (berundak seperti riam sungai). Caranya dengan mendesain kolam anda dengan ketinggian dan kedalaman berbeda, sehingga seolah-olah ada semacam jeram kecil di halaman anda.&lt;br /&gt;Apabila lahan anda kurang panjang, anda dapat mengalirkan air ke dinding latar. Anda membutuhkan pompa air berkekuatan sedang untuk memompa air ke atas dinding (ketinggian dinding + 2 m). Pada puncak dinding ini anda bisa menanam pipa pvc atau galvanis kecil 1/2? Ke dalamnya. Jangan lupa untuk memberikan lubang pada jarak + 15 cm pada pipa pvc anda. Tentu saja semakin rapat akan memberikan kerapatan tirai air yang anda inginkan. Bidang dinding yang basah akan terlihat kemilau apabila terkena sinar matahari, apalagi apabila diberi tekstur batu alam seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Hasilnya anda akan mendapatkan kolam anda berkesan natural dan chick&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-2731111648051195283?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/2731111648051195283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/tips-membuat-kolam-ikan-air-tawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/2731111648051195283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/2731111648051195283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/tips-membuat-kolam-ikan-air-tawar.html' title='TIPS MEMBUAT KOLAM IKAN AIR TAWAR'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-6488247559563201883</id><published>2010-02-22T19:20:00.002+07:00</published><updated>2010-02-22T19:22:51.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>AGAR NILA TAK BAU LUMPUR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S4J3BQc3ZhI/AAAAAAAAAIE/Dp3I7U00liE/s1600-h/nila2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 193px; height: 154px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S4J3BQc3ZhI/AAAAAAAAAIE/Dp3I7U00liE/s320/nila2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441042163296593426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lakukan budidaya di kolam air deras dan gunakan probiotik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih enggan meninggalkan Subang meski sudah sejak pagi membuat kabupaten tersebut kuyup. Arus Sungai Cibulakan pun jadi deras cenderung bergolak. Alih-alih menimbulkan ketakutan?sebagaimana kekhawatiran warga Jakarta akan terjadi banjir jika melihat derasnya arus Sungai Ciliwung?pembudidaya ikan di sekitar sungai yang terletak di kaki Gunung Ciremai itu justru bersuka cita. &lt;span class="fullpost"&gt;Pasalnya, arus sungai yang deras tersebut bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan nila di kolam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tanpa alasan, budidaya ikan nila di air deras memiliki banyak keunggulan dibandingkan budidaya ikan nila di waduk atau di kolam tergenang. Emma Dolly Raphen, Marketing Commercial Fish PT CP Prima menyebutkan, ukurannya bisa lebih besar, daging lebih kenyal dan terutama tidak bau lumpur. Alasan terakhir inilah yang membuat ikan nila dari kolam air deras Subang bisa menembus swalayan-swalayan dan restoran-restoran penyaji makan akuatik di Jakarta dan sebagian Jawa Barat. Bahkan permintaan nila yang tak berbau umpur ini menurut Emma dari waktu ke waktu terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bau Lumpur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, budidaya ikan nila yang tak berbau lumpur saat ini memang bukan hal yang tak mungkin dilakukan. Setidaknya, Emma telah membuktikan hal tersebut selama lebih dari dua tahun terakhir. ?Kuncinya adalah dengan memelihara ikan nila di kolam air deras,? katanya kepada TROBOS ketika berada di  lokasi budidaya nila di kolam air deras di Desa Cijambe, Kecamatan Cijambe, Subang. Dia menambahkan, bau lumpur pada ikan nila disebabkan oleh keberadaan sejenis alga Cyanophyceae (blue green algae/alga hijau biru). &lt;br /&gt;Sementara itu lebih rinci, Hendi dari Pusat Kesehatan Akuatik  PT CP Prima menjelaskan dalam surat elektroniknya, bau lumpur kerap ditemukan pada ikan yang dipelihara di waduk atau di kolam tanah. Pada perairan tersebut, selama masa budidaya umumnya ditemukan banyak plankton yang mati. Diantaranya adalah jenis blue green algae. Alga hijau biru yang mati ini kemudian akan terdekomposisi dan mengeluarkan racun yang disebut geosmin. Geosmin inilah yang menyebabkan timbulnya bau lumpur pada ikan. &lt;br /&gt;Oka Arsana, Marketing Commercial Fish PT CP Prima menambahkan, alga hijau biru sebenarnya tak hanya ditemukan di waduk atau kolam tanah. ?Di kolam air deras juga ada, tapi dia hanya numpang lewat dan tidak sempat mati,? katanya. Sedangkan di waduk atau kolam tanah, jika alga hijau biru sudah ditemukan mendominasi, maka seterusnya alga tersebut akan mendominasi perairan itu. Ini artinya, populasi alga hijau biru itu akan berkembang dengan pesat dan tak terkendali (sering disebut blooming blue green algae) dan menghambat pertumbuhan jenis fitoplankton yang lain. Dari sini, kemudian terjadi persaingan nutrisi makanan antara alga hijau biru yang populasinya sangat padat  tersebut. Alga hijau biru yang kalah dalam persaingan itu akan mati hingga kemudian mengeluarkan geosmin, penyebab bau lumpur pada ikan.  &lt;br /&gt;Hendi  menyebutkan, faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya blooming algae antara lain karena kualitas air yang jelek misalnya karena adanya bahan organik yang tinggi, sementara rasio N/P justru rendah, CO2 rendah, pH tinggi dan suhu air di atas 290C. Selain itu juga karena adanya perubahan cuaca yang membuat stratifikasi suhu (perbedaan suhu antar lapisan air di kolam). Jenis fitoplanktonnya adalah Oscilatoria, Anabaena dan Mycrosystis. Fitoplankton-fitoplankton tersebut bisa mengambil N secara langsung dari udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-6488247559563201883?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/6488247559563201883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/agar-nila-tak-bau-lumpur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6488247559563201883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6488247559563201883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/agar-nila-tak-bau-lumpur.html' title='AGAR NILA TAK BAU LUMPUR'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S4J3BQc3ZhI/AAAAAAAAAIE/Dp3I7U00liE/s72-c/nila2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5254632175462689337</id><published>2010-02-11T18:06:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T18:10:54.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakan'/><title type='text'>PAKAN SEGAR UNTUK LOBSTER AIR TAWAR</title><content type='html'>Pakan segar adalah pakan yang berasal dari organisme perairan yang kemudian diolah sedemikian rupa sebelum diberikan kepada lobster air tawar dalam keadaan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa organisme perairan yang banyak dijumpai dilingkungan sekitar kolam dan bisa digunakan sebagai sumber pakan segar untuk lobster air tawar adalah keong mas, ikan runcah dan cacing tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan pakan segar ini ditujukan untuk meningkatkan nafsu makan serta untuk meningkatkan kualitas daging dari lobster air tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau menyengat yang dikeluarkan oleh pakan segar ini diharapkan dapat membuat lobster air tawar tertarik untuk mendatanginya dan kemudian mengkonsumsinya.Pakan segar dapat diberikan melalui beberapa cara, diantaranya :&lt;br /&gt;1. Sumber pakan segar ditangkap, untuk kemudian dipotong – potong hingga ukuran tertentu dan kemudian langsung diberikan kepada lobster air tawar. &lt;br /&gt;2. Sumber pakan segar disterilkan terlebih dahulu selama 3 hari dengan cara direndam ke dalam air hangat yang telah dicampur dengan garam ikan. Tindakan ini ditujukan untuk mencegah resiko penularan penyakit yang terkandung didalam tubuh sumber pakan segar.&lt;br /&gt;Pakan segar biasa diberikan pada malam hari dengan dosis mencapai 75 % dari total dosis pakan harian. Sebelum menggunakan pakan segar sebagai pakan untuk lobster air tawar, ada baiknya faktor – faktor berikut ini diperhatikan, diantaranya :&lt;br /&gt;1. Jenis organisme air dan kemungkinan permasalahan yang dapat timbul, mengingat dalam kondisi tertentu, penggunaan pakan segar dapat memperburuk kondisi air kolam. &lt;br /&gt;2. Penggunaan pakan segar harus diimbangi dengan pengolahan air kolam sebagai wujud antisipasi atas kemungkinan terjadinya akumulasi pakan yang tidak termakan. Tindakan ini dilakukan agar kualitas air selalu sesuai dengan syarat hidup lobster air tawar. &lt;br /&gt;Salah satu jenis organisme air yang biasa digunakan untuk sumber pakan segar adalah keong mas. Berikut ini adalah cara untuk mengolah keong mas yang akan dijadikan sebagai pakan segar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan :&lt;br /&gt;• 1 buah ember plastik berkapasitas sedang. &lt;br /&gt;• 1 buah anco bambu berukuran sedang. &lt;br /&gt;• 1 buah panci aluminium berkapasitas sedang. &lt;br /&gt;• 1 buah kompor. &lt;br /&gt;• 1 buah sendok bambu pengaduk. &lt;br /&gt;• 1 buah garpu. &lt;br /&gt;• 1 buah sikat gigi. &lt;br /&gt;• Selang air. &lt;br /&gt;• 1 buah talenan. &lt;br /&gt;• 1 buah pisau cincang. &lt;br /&gt;• 1 buah gayung plastik. &lt;br /&gt;Bahan – bahan :&lt;br /&gt;• 1 kg keong mas segar. &lt;br /&gt;• 10 liter air bersih. &lt;br /&gt;• 350 gram garam ikan. &lt;br /&gt;Cara pengolahan :&lt;br /&gt;1. Dengan menggunakan sikat gigi, bersihkan keong mas dari semua kotoran yang melekat dicangkang dan tubuhnya. &lt;br /&gt;2. Kumpulkan keong mas yang sudah bersih ke dalam sebuah wadah. &lt;br /&gt;3. Masukkan keong mas ke dalam ember, lalu taburi dengan 50 gram garam grosok. Aduk beberapa kali lalu diamkan selama 15 menit. &lt;br /&gt;4. Isi panci dengan air bersih sebanyak 10 liter, lalu masukkan garam grosok sebanyak 300 gram ke dalamnya dan rebus hingga mendidih. &lt;br /&gt;5. Masukkan keong mas ke dalam rebusan air garam, lalu diamkan selama 15 menit. &lt;br /&gt;6. Angkat dan tiriskan lalu angin – anginkan keong mas hingga aman untuk dipegang. &lt;br /&gt;7. Dengan menggunakan garpu, cungkilah daging keong mas tersebut dari cangkangnya. &lt;br /&gt;8. Potong semua sungutnya, keluarkan isi perutnya dan cuci hingga bersih. &lt;br /&gt;9. Cincang daging keong mas tersebut hingga menjadi kecil – kecil. &lt;br /&gt;10. Daging keong mas siap untuk diberikan kepada lobster air tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.infoagrobisnis.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5254632175462689337?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5254632175462689337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/pakan-segar-untuk-lobster-air-tawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5254632175462689337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5254632175462689337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/pakan-segar-untuk-lobster-air-tawar.html' title='PAKAN SEGAR UNTUK LOBSTER AIR TAWAR'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-7113827077686772049</id><published>2010-02-11T18:04:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T18:06:39.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>MURAHNYA MEMBIUS IKAN MENGGUNAKAN MINYAK CENGKEH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3Pks9Q0lUI/AAAAAAAAAH8/JD4Sz4oMpsg/s1600-h/pembiusan+ikan+menggunakan+minyak+cengkeh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 241px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3Pks9Q0lUI/AAAAAAAAAH8/JD4Sz4oMpsg/s320/pembiusan+ikan+menggunakan+minyak+cengkeh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436940636176815426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan terhadap ikan dengan menggunakan minyak cengkeh banyak dinilai lebih mudah dikarenakan cengkeh berharga lebih murah (dibandingkan dengan obat kimia), mudah untuk didapatkan serta hasilnya yang lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lain dari pembiusan dengan minyak cengkeh ini adalah bahwa setelah mengalami pembiusan, ikan akan tetap berlendir dan tidak kehilangan nafsu makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan terhadap ikan dilakukan untuk berbagai macam tujuan seperti proses implantasi hormon, relokasi ikan, penimbangan ikan maupun proses seleksi indukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOSIS MINYAK CENGKEH&lt;br /&gt;1. Dosis tepat guna untuk proses pembiusan dengan menggunakan minyak cengkeh adalah sebesar 1 – 5 cc / 10 liter air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dengan dosis seperti itu, ikan akan pingsan dalam kurun waktu 15 menit setelah dibius dan baru akan sadar 9 menit kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dosis yang diberikan jangan sampai melebihi 10 cc / 10 liter air karena dapat menyebabkan ikan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA PENGGUNAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bila jumlah ikan yang akan dibius sedikit : pembiusan dilakukan didalam ember yang telah diberi air. Ikan ditangkap dan dimasukkan satu per satu ke dalam ember untuk selanjutnya minyak cengkeh disemprotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bila jumlah ikan yang akan dibius banyak : pembiusan dilakukan didalam kolam yang airnya telah disusutkan hingga volume tertentu. Jumlah minyak cengkeh yang dilarutkan harus berdasarkan volume air yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanda bahwa ikan telah berhasil terbius adalah ikan tidak bergerak dan begitu pula dengan siripnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ikan dapat dibuat sadar dengan cara dialiri air segar yang sudah diaerasi.&lt;br /&gt;Sumber:www.infoagrobisnis.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-7113827077686772049?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/7113827077686772049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/murahnya-membius-ikan-menggunakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7113827077686772049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7113827077686772049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/murahnya-membius-ikan-menggunakan.html' title='MURAHNYA MEMBIUS IKAN MENGGUNAKAN MINYAK CENGKEH'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3Pks9Q0lUI/AAAAAAAAAH8/JD4Sz4oMpsg/s72-c/pembiusan+ikan+menggunakan+minyak+cengkeh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-1791227223282888185</id><published>2010-02-11T18:03:00.002+07:00</published><updated>2010-02-11T18:04:30.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>MENGENAL LEBIH DEKAT JENIS-JENIS IKAN GURAMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3PkM-fViyI/AAAAAAAAAH0/CAOz8bpBypw/s1600-h/jenis-jenis+ikan+gurami.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3PkM-fViyI/AAAAAAAAAH0/CAOz8bpBypw/s320/jenis-jenis+ikan+gurami.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436940086750317346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semua spesies ikan gurami termasuk dalam family Osphonemidae. Orang luar negeri menyebut ikan gurame sebagai ikan labirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan karena mereka mempunyai organ berbentuk labirin yang berguna untuk menyerap oksigen dari udara secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organ labirin tersebut langsung berhubungan dengan insang. Untuk ikan gurami jenis osphronemidae, mereka akan mengambil udara untuk bernapas dengan cara berenang keatas mendekati permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya labirin ini ikan gurami bisa beradaptasi dengan kondisi air yang jelek atau kandungan udara tipis. Ikan gurami hidup di daerah Asia mulai dari India dan Pakistan kemudian menyebar ke daerah Malaya sampai ke Korea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan gurami hanya ditemui pada perairan yang beriklim tropis. Jenis gurame yang dikenal masyarakat luas adalah osphronemus goramy. Ikan jenis ini bisa mencapai ukuran panjang sampai 60 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bisa menjaga lingkungan perairan dengan baik, nutrisi terjaga, ikan ini bisa hidup hingga 25 tahun bahkan lebih. Jenis gurami ini berasal dari Indonesia, sekarang jenis ini juga bisa ditemui di Asia Tenggara termasuk di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga jenis ikan gurami untuk ikan hias yakni kissing gurami (hellostoma temminki). Jenis ini paling banyak dimiliki para hobbis. Ikan ini mampu mencapai ukuran 25 cm. Ada juga jenis ikan hias gurami yang berukuran lebih kecil, namanya moonlight gurami (trichogaster microlepis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis ikan ini akan berhenti pertumbuhan tubuhnya jika sudah mencapai ukuran 15 cm.&lt;br /&gt;Adalagi jenis ikan gurami hias yang lebih kecil ukurannya, talking gurami (trichopsis vitatta). Ukurannya hanya sekitar 5 centimeter saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan spesies gurami akan hidup dengan baik bila berada pada air yang netral atau mempunyai pH 7. Ikan gurami juga bisa hidup di air lunak dengan temperatur 24-26 derajat celsius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurame termasuk ikan yang biasa memakan segala jenis mkanan. Bahkan sayur-sayuran pun bisa untuk pakan ikan gurami . Untuk ikan gurami hias, biasa diberi makan udang kecil-kecil atau diberi cacing. Ikan gurami sangat suka segala macam cacing baik cacing hitam maupun cacing merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan gurami termasuk spesies ikan yang senang bertarung satu sama lain sehingga bagi para hobbiis yang memelihara ikan gurami jenis hias sebaiknya memasang batu-batuan penghalang untuk menhindari perkelahian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ikan gurami diberi cukup ruang sebagai daerah kekuasaan mereka sendiri maka perkelahian antar sesama ikan gurami bisa terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:www.infoagrobisnis.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-1791227223282888185?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/1791227223282888185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/mengenal-lebih-dekat-jenis-jenis-ikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1791227223282888185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1791227223282888185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/mengenal-lebih-dekat-jenis-jenis-ikan.html' title='MENGENAL LEBIH DEKAT JENIS-JENIS IKAN GURAMI'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3PkM-fViyI/AAAAAAAAAH0/CAOz8bpBypw/s72-c/jenis-jenis+ikan+gurami.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3761458510632906305</id><published>2010-02-11T18:00:00.001+07:00</published><updated>2010-02-11T18:02:15.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>MEMBENIHKAN IKAN KAKAP PUTIH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3Pjq7JULNI/AAAAAAAAAHs/mV8OCvIb-_4/s1600-h/pembenihan+kakap+putih.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3Pjq7JULNI/AAAAAAAAAHs/mV8OCvIb-_4/s320/pembenihan+kakap+putih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436939501737094354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal dari setiap kegiatan pembenihan adalah pemilihan indukan. Untuk ikan kakap putih, calon indukan atau indukan dapat diperoleh dari alam.&lt;br /&gt;Ikan kakap putih yang mempunyai panjang tubuh 10 cm ditangkap untuk kemudian dipelihara hingga beratnya mencapai 3 kg untuk induk jantan dan 6 kg untuk induk betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang harus diperhatikan dalam memilih ikan indukan adalah ikan harus berada dalam kondisi sehat, ikan sudah matang gonad, pergerakannya aktif dan lincah serta tidak cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemijahan ikan kakap putih dilakukan dengan metode kawin suntik. Cairan yang digunakan untuk menyuntik adalah Human Chorionic Hormone (HCG) dan Pubergen yang berasal dari hasil campuran tollicle stimula berkadar 63 % dengan lutenizig hormone yang berkadar 34 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penyuntikan terhadap ikan yang akan dipijahkan dilakukan sebanyak 2 kali berturut – turut (dengan selisih 24 jam pada waktu yang sama di pagi hari) dengan tujuan agar ikan dapat memijah di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosis suntik untuk kedua periode penyuntikan tersebut berbeda – beda. Pada periode penyuntikkan yang pertama, dosis HCG yang digunakan adalah sebesar 250 IU / kilogram berat badan ikan dan 50 IU / kilogram berat badan ikan untuk Pubergennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada periode penyuntikkan yang kedua, dosis HCG yang digunakan berubah menjadi 500 IU / kilogram berat badan ikan dan 100 IU / kilogram berat badan ikan untuk Pubergennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu 12 jam setelah periode penyuntikkan yang kedua, proses pemijahan akan terjadi pada waktu malam hari. Delapan belas jam kemudian, telur akan menetas dan akan langsung dibuahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah proses pembuahan telur selesai, telur dapat dipanen dan dipindahkan ke dalam kolam pemeliharaan larva yang mempunyai kapasitas menampung air sebanyak 4 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telur dipindah dengan menggunakan kain khusus yang berlubang, dengan diameter lubang berukuran lebih kecil dari diameter telur. Selama dalam masa pemeliharaan, setiap hari kolam harus dibersihkan dengan cara menyifon dan mengganti 30 % airnya dengan air yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telur yang sudah berkembang menjadi larva dapat diberi pakan berupa green water dan rotifers. 45 hari setelahnya, benih ikan kakap putih dapat dipindahkan ke dalam kolam pembesaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3761458510632906305?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3761458510632906305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/membenihkan-ikan-kakap-putih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3761458510632906305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3761458510632906305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/membenihkan-ikan-kakap-putih.html' title='MEMBENIHKAN IKAN KAKAP PUTIH'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3Pjq7JULNI/AAAAAAAAAHs/mV8OCvIb-_4/s72-c/pembenihan+kakap+putih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5557643664769839387</id><published>2010-02-11T17:49:00.002+07:00</published><updated>2010-02-11T17:59:47.639+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>CARA MEMPRODUKSI BENIH IKAN MAS TRIPLOID</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3PjDwZpVhI/AAAAAAAAAHk/kqVIySKn2kM/s1600-h/cara+membuat+benih+ikan+mas+triploid.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3PjDwZpVhI/AAAAAAAAAHk/kqVIySKn2kM/s320/cara+membuat+benih+ikan+mas+triploid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436938828837901842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi ikan mas adalah dengan memproduksi benih ikan mas yang mempunyai laju pertumbuhan cepat. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara memproduksi benih ikan triploid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini merupakan proses ginogenesis buatan, dimana didalamnya terdapat 2 tahapan penting, yaitu tahap pembuatan bahan genetik yang diperoleh dari ikan mas berkelamin jantan serta tahap peningkatan jumlah zigot yang normal (diploid) menjadi triploid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triploidisasi dapat dilakukan dengan cara memberikan efek kejut panas kepada telur secara periodik beberapa saat setelah telur ikan mas dibuahi. Cara ini dilakukan untuk mencegah berkurangnya kromosom betina pada waktu telur berada dalam fase berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat benih ikan mas triploid, ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memilih induk betina yang telah matang gonad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyuntikkan kelenjar hipofisa terhadap ikan mas donor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Proses striping terhadap induk betina untuk mendapatkan sel telur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menampung sel telur yang telah didapatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Proses striping terhadap induk jantan untuk mendapatkan sel sperma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pengenceran sel sperma dengan menggunakan larutan fertilisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Proses pembuahan sel telur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Proses penetasan telur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telur yang sudah berhasil ditetaskan langsung dipelihara didalam akuarium selama kurang lebih 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan triploid atau tidaknya benih ikan mas dapat dilakukan dengan cara menganalisis panjang sel darah merahnya. Proses penganalisaan ini harus dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa mikroskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan sample darah dilakukan dengan cara memotong bagian ekor ikan mas. Setelah itu, darah langsung ditampung di gelas arloji berparafin untuk menghindari pembekuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian darah disedot dengan menggunakan hemasitometer hingga skala menunjuk ke angka 0,5. Pengencer juga disedot hingga skala menunjuk ke angka 101. Keduanya lalu dimasukkan ke dalam pipet untuk proses penyampuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya, ikan mas triploid akan berkembang menjadi ikan mas yang steril dikarenakan gagalnya kromosom homolog untuk berpasangan selama meiosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan mas triploid akan mengalami perkembangan gonad yang lebih lambat jika dibandingkan dengan ikan mas normal (diploid) karena energi yang dimilikinya akan dihabiskan untuk tumbuh dan berkembang.&lt;br /&gt;Sumber:www.infoagrobisnis.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5557643664769839387?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5557643664769839387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/cara-memproduksi-benih-ikan-mas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5557643664769839387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5557643664769839387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/cara-memproduksi-benih-ikan-mas.html' title='CARA MEMPRODUKSI BENIH IKAN MAS TRIPLOID'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3PjDwZpVhI/AAAAAAAAAHk/kqVIySKn2kM/s72-c/cara+membuat+benih+ikan+mas+triploid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5920807374042983089</id><published>2010-02-10T12:07:00.002+07:00</published><updated>2010-02-10T12:11:08.852+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>IKAN LELE YANG SIAP UNTUK DIPANEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3I_3ijIDgI/AAAAAAAAAHc/Xgv7MfTAJPA/s1600-h/images-lele.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 106px; height: 87px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3I_3ijIDgI/AAAAAAAAAHc/Xgv7MfTAJPA/s320/images-lele.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436477923589099010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ikan lele ini berukuran 7-10 ekor per kg, ikan lele ini siap untuk dipanen dan dipasarkan, lele yang berukuran seperti ini merupakan lele yang siap dikonsumsi oleh kita sebagai teman nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikan lele ini cocok dijadikan sebagai pecel lele. bila ukuran lele yang terlalu besar tidak cocok untuk dikonsumsi dan umunya orang tidak menyukai makan lele yang berkuran dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelebihan dari berbudidaya ikan lele ini adalah dapat dibudidayakan pada areal yang minim sumber air, karena ikan lele tidak perlu membutuhkan air yang mengalir deras, cukup dengan debit air yang kecil. kita tidak perlu khawatir dengan kekurangannya oksigen dalam kolam, meskipun oksigen sedikit lele dapat bernapas dan mengambil udara ke permukaan air kolam, karena ikan lele mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikan lele tergolong ikan yang mempunyai kemampuan tumbuh dengan cepat apalagi bila ditunjang dengan pakan yang berkualitas dan cukup.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5920807374042983089?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5920807374042983089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/ikan-lele-yang-siap-untuk-dipanen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5920807374042983089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5920807374042983089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/ikan-lele-yang-siap-untuk-dipanen.html' title='IKAN LELE YANG SIAP UNTUK DIPANEN'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/S3I_3ijIDgI/AAAAAAAAAHc/Xgv7MfTAJPA/s72-c/images-lele.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-6834372986339262432</id><published>2010-02-10T12:04:00.000+07:00</published><updated>2010-02-10T12:05:26.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT PADA LELE SANGKURIANG</title><content type='html'>Sama seperti ikan lainnya, lele sangkuriang tidak terlepas dari ancaman hama dan penyakit. Penyakit yang menyerang lele sangkuriang umumnya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang mendukung, misalnya kualitas air (terutama suhu) di bawah standar atau akibat stres karena penanganan yang salah sehingga ikan sakit. Sementara itu, hama yang biasa menyerang lele sangkuriang antara lain ular dan belut, sedangkan organisme patogen yang menyerang berupa Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp., dan Dactylogyrus sp.&lt;br /&gt;Penanggulangan masuknya bibit hama dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air kolam, membersihkan pematang kolam, dan memasang plastik di sekeliling kolam. Penanggulangan organisme patogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budi daya yang baik serta pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan. pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam secara baik. Jika perlu memperbaiki kondisi air kolam dengan menambahkan bahan probiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan ikan yang suclah terserang penyakit dapat dilakukan dengan memberikan obat yang sesuai dengan jenis penvakitnya. Adakalanya, penyakit yang menyerang akan menular. Untuk mencegah hal ini, ada beberapa langkah langkah penyelamatan yang dapat dilakukan sebagai berikut. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Segera menangkap dan memusnahkan ikan yang terserang penyakit.&lt;br /&gt;- Segera memindahkan ikan yang kondisinya masih sehat ke kolam lain dan mendesinfeksinya. Mengurangi padat penebaran.&lt;br /&gt;- Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.&lt;br /&gt;- Keringkan kolam yang telah terjangkit penyakit, lalu bersihkan dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organic. Setelah itu Lakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian (CaO) dengan dosis 1 kg/5 m2. Pengeringan dilakukan sampai dasar kolam retak¬-retak dan penebaran kapur dilakukan secara merata, termasuk di bagian tanggul.&lt;br /&gt;- Lakukan pengisian air baru ke dalam kolam secara periodik.&lt;br /&gt;- Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Begitu juga dengan tangan kita, harus didesinfeksi dengan mencucinya di dalam larutan PK. Desinfeksi alat dilakukan dengan mencelupkan ke dalam larutan kalium permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).&lt;br /&gt;- Berikan pakan yang bergizi tinggi dan tingkatkan daya tahan tubuh ikan dengan memberikan vitamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-6834372986339262432?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/6834372986339262432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/penanggulangan-hama-dan-penyakit-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6834372986339262432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6834372986339262432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2010/02/penanggulangan-hama-dan-penyakit-pada.html' title='PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT PADA LELE SANGKURIANG'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-7126615897060033305</id><published>2009-12-15T15:48:00.003+07:00</published><updated>2009-12-15T15:51:03.030+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>MEMULAI BUDIDAYA BELUT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SydN5RVyEJI/AAAAAAAAAHM/zPmR-1o4SiA/s1600-h/belut.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 112px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SydN5RVyEJI/AAAAAAAAAHM/zPmR-1o4SiA/s320/belut.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415382723238957202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah semangat para pemula belut, ini ada sedikit artikel yang saya ambil dari milis BelutJawa” yang di post oleh bapak dengan ID Jnic. Semoga tips ini bisa membantu kita dalam memulai beternak belut. Karena banyak kendala yang kita hadapi dalam memulai beternak belut ini, semangat boleh namun jangan sampai dengan semangat ini kita akan kandas ditengah jalan gara-gara modal yang kita keluarkan terlalu besar.&lt;br /&gt;Saya belum berpengalaman dalam dunia perbelutan, sharing ini utama&lt;br /&gt;bagi rekan-rekan pemula yang ingin menekuni dunia perbelutan (memang&lt;br /&gt;sangat ber prospek, apalagi kalo ada senior yg mau menggandeng&lt;br /&gt;kita..he.he.he..).Setelah mengamati hampir selama 8 bulan maka sya&lt;br /&gt;coba tuangkan ide2 untuk pemula.&lt;br /&gt;Pertama : Kita harus bisa mengamati&lt;br /&gt;dan memaksimalkan sumber daya yg ada disekitar kita. Tidak semua&lt;br /&gt;daerah punya stock gedebong pisang yang melimpah. tidak semua daerah&lt;br /&gt;memiliki jenis tanah yang seperti sawah, atau mungkin malah tidak ada&lt;br /&gt;sawah. Tapi itu semua bisa kita siasati. Untuk tanah agar mirip sawah&lt;br /&gt;(halus) ya harus kita beri air yg lama, lalu di injak-injak. Kalo&lt;br /&gt;tidak ada gedebong ya..tidak pake juga tidak apa2.Saya coba ga pake&lt;br /&gt;gedebong sudah 2 bulan belutnya masih hidup kok.&lt;br /&gt;Kedua : Masalah&lt;br /&gt;Pakan, kalo kita hanya mengandalkan yang ada di alam (ikan kecil2,&lt;br /&gt;keong emas,cacing,yuyu) dalam skala kecil masih bisa, tapi kalo kita&lt;br /&gt;akan serius menjadi petani/suplier/pebisnis/pembudidaya belut maka&lt;br /&gt;sebaiknya kita pelajari tentang pakan lebih dahulu. Misalkan kita&lt;br /&gt;ternak cacing tanah dulu ya kira2 5 bulan, nah kalo sdh berhasil kita&lt;br /&gt;bisa mulai buat media untuk belut. Ketiga : Bibit Belut, kalo ingin&lt;br /&gt;sukses tentunya kita harus melakukan uji coba terlebih dahulu. Untuk&lt;br /&gt;yang akan uji coba, kendalanya pada bibit. Pengalaman saya dari&lt;br /&gt;beberapa penyedia bibit setelah saya hubungi untuk beli bibit, mereka&lt;br /&gt;menjawab “Minimal 50 kg pak..” Wow…saya kaget, hhmmm…wong baru mau&lt;br /&gt;uji coba kok sudah 50kg, lha mau saya letakkan dimana sisanya. Tapi&lt;br /&gt;saya sadar ya..itulah dunia bisnis. Akhirnya saya beli belut (yang&lt;br /&gt;kecil-kecil) dari pasar tradisional, konsekwensinya belut yg saya beli&lt;br /&gt;itu kan ga ada jaminan itu bagus atau tidak, tapi ga apalah, dari pada&lt;br /&gt;tidak mencoba.&lt;br /&gt;Dari 30 ekor yg saya masukkan, sudah 2 bulan, yg mati 12 ekor. saya&lt;br /&gt;fokus pada kelangsungan hidup belut itu terlebih dahulu, jika sampe 6&lt;br /&gt;bulan belut tidak mati ya..artinya sudah hampir cocok media yg saya&lt;br /&gt;buat. Tapi saya yakin belut itu ga bisa gede, karena ngasih pakannya&lt;br /&gt;ga rutin kalo pas ada aja he..he..he. Saya suka kasih cacing, tapi&lt;br /&gt;sedikit karena cacing itu lebih baik saya budidayakan dulu.&lt;br /&gt;Untuk Pa Sarkan..apa kabar, awal bulan mei saya mau ke Manis Kidul&lt;br /&gt;Kuningan, bolehkah saya mampir kang sekalian mau beli bibit, 5 kilo&lt;br /&gt;aja. Tapi kalo ga ada ya tidak apa2, yg penting salaturahmi jalan&lt;br /&gt;terus.&lt;br /&gt;Itulah sekedar sharing pengalaman n ide saya, khusus untuk pemula.&lt;br /&gt;Bagi para senior terima kasih atas segala masukannya. Sukses selalu.&lt;br /&gt;http://mutiarasani.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-7126615897060033305?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/7126615897060033305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/memulai-budidaya-belut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7126615897060033305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/7126615897060033305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/memulai-budidaya-belut.html' title='MEMULAI BUDIDAYA BELUT'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SydN5RVyEJI/AAAAAAAAAHM/zPmR-1o4SiA/s72-c/belut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5434396886161906555</id><published>2009-12-15T15:45:00.002+07:00</published><updated>2009-12-15T15:48:41.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>HAMA DAN PENYAKIT IKAN  LELE</title><content type='html'>Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.&lt;br /&gt;Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jenis hama/penyakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.&lt;br /&gt;Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.&lt;br /&gt;Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.&lt;br /&gt;Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.&lt;br /&gt;Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.&lt;br /&gt;Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.&lt;br /&gt;Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.&lt;br /&gt;Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gejala:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;&lt;br /&gt;(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;&lt;br /&gt;(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.&lt;br /&gt;Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.&lt;br /&gt;Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Penyakit cacing Trematoda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.&lt;br /&gt;Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengendalian:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;&lt;br /&gt;(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;&lt;br /&gt;(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;&lt;br /&gt;(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;&lt;br /&gt;(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Parasit Hirudinae&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.&lt;br /&gt;Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.&lt;br /&gt;Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.&lt;br /&gt;Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.&lt;br /&gt;2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.&lt;br /&gt;3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.&lt;br /&gt;4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.&lt;br /&gt;Sumber : http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5434396886161906555?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5434396886161906555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/hama-dan-penyakit-ikan-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5434396886161906555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5434396886161906555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/hama-dan-penyakit-ikan-lele.html' title='HAMA DAN PENYAKIT IKAN  LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3812697451151085249</id><published>2009-12-15T15:38:00.002+07:00</published><updated>2009-12-15T15:43:48.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakan'/><title type='text'>MEMBUAT PAKAN ALTERNATIF UNTUK LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SydMLlxxhJI/AAAAAAAAAG0/ep7eqTsuFgk/s1600-h/pakan+lele.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 96px; height: 96px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SydMLlxxhJI/AAAAAAAAAG0/ep7eqTsuFgk/s320/pakan+lele.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415380838939460754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lele adalah hewan scavengger(pemakan bangkai)dan  bersifat&lt;br /&gt;omnivora/apa saja dapat dimakan, termasuk saudaranya(kanibal)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;(a)&lt;br /&gt;1. dedak halus (karbohidrat)&lt;br /&gt;2. tepung kedelai (protein)&lt;br /&gt;3. tepung jagung (karbohidrat)&lt;br /&gt;4. bekicot (protein)&lt;br /&gt;5. cacing (protein)&lt;br /&gt;6. tepung daun pepaya, lamtoro, (protein dan karbohidrat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;cara membuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;atur aja komposisinya tidak harus semuanya, cukup salah satu dari yang diatas,&lt;br /&gt;1. 1,2,3,dengan porsi 50 :20 :30&lt;br /&gt;2. 1,2,4 dengan porsi 50 :20 :30&lt;br /&gt;3. 1,2,5 dengan porsi 50 :20 :30&lt;br /&gt;4. 1,2,6 dengan porsi 50 :20 :30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;cara membuat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. semua bahan dicampur&lt;br /&gt;2. aduk rata dengan air panas&lt;br /&gt;3. lemparkan ke kolam dalam bentuk basah (untuk satu hari saja)&lt;br /&gt;kalau ingin tahan lebih lama  di cetak seperti pelet giling aja dengan gilingan daging and dijemur hingga kering,tahan hingga 3 hari(untuk kapasitas kecil ,1-10 kg perhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b)&lt;br /&gt;1. kalau dekat dengan peternakan ayam potong minta aja ayam matinya  terus baker  hingga bulunya abis setelah itu lemparkan ke kolam.&lt;br /&gt;2. kalau dekat dengan sawah cari aja belalang yang banyak setelah itu  lemparkan hidup2 pasti dimakan sama lele.&lt;br /&gt;3. kangnkung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PAKAN LELE ALTERNATIF 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain cacing sebagai pakan alternatif lele yang pernah saya terbitkan di kategori perikanan, maka disini saya akan mencoba untuk memberi pakan alternatif lain, yaitu dengan menggunakan pelet.&lt;br /&gt;Untuk praktisnya silahkan membeli pelet dengan kualitas paling rendah dan harga paling murah kemudian tambahkan viterna dan poc, hasilnya buagus banget hampir nggak ada lele yang mati, ikan besar badan daripada kepala, sehat lincah, harganyapun terjangkau karena ini produk madein dalam negri alias ngayojakarto, hasilnya buagus banget hampir nggak ada lele yang mati, ikan besar badan daripada kepala, sehat lincah.&lt;br /&gt;Atau Anda dapat mensiasasti dengan mengkombinasikan pakan pelet dengan ikan laut rucah.&lt;br /&gt;Cara pemberian pakan pakai aplikasi prod Nasa.&lt;br /&gt;POC Nasa, Viterna &amp; Hormonik. semua campur jd 1 kemudian setiap pemberian pelet utk 4kg cukup campur 1 ttp viterna cmpr dgn air 1liter biarkan meresap krng lbh 5mnt baru di kasih.&lt;br /&gt;Hasilnya ikan lebih sehat dan pertumbuhanya lbh cepat sehingga bisa lbh hemat pakan. Saya coba daging ikan lebih gurih tanpa kelihatan lemaknya pokonya lebih enak.&lt;br /&gt;sekilas informasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pelet dapat menghubungi: &lt;br /&gt;1. Wilayah Makasar dan sekitar hub mitra aktif Bp. Irwandi Thioritz  (peternak dan pengusaha tani) di 08124205268 online&lt;br /&gt;2. Wilayah Medan dan sekitarnya hubungi Bp. Nahesson Panjaitan (ternak lele,belut dan pekebun kopi) di 08156112772 online&lt;br /&gt;3. Wilayah Yogyakarta dan sekitar hubungi Bp. A.Wisnu Trisno Widayat di 08157999025&lt;br /&gt;4. Wilayah Kulon Progo dan sekitar Bp. Yono(ternak lele) di 081578816442&lt;br /&gt;* POC dan Viterna dapat menghubungi: (daerah Lampung) 081541248592  tau email: ag.hd r.cyn@gmail.com&lt;br /&gt;* Ikan Rucah dapat menghubungi: (daerah Surabaya dan sekitar) 031-77064283 / email :lotten@pacbel.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3812697451151085249?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3812697451151085249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/membuat-pakan-alternatif-untuk-lele.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3812697451151085249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3812697451151085249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/membuat-pakan-alternatif-untuk-lele.html' title='MEMBUAT PAKAN ALTERNATIF UNTUK LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SydMLlxxhJI/AAAAAAAAAG0/ep7eqTsuFgk/s72-c/pakan+lele.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-6590943546166327879</id><published>2009-12-06T23:55:00.000+07:00</published><updated>2009-12-06T23:57:55.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BUDIDAYA IKAN LELE</title><content type='html'>A.    Pendahuluan&lt;br /&gt;   Bukan hanya budidayanya yang mudah dan tidak banyak membutuhkan kadar oksigen tinggi, lele juga sangat banyak digemari karena murah dan lezat, begitu banyak ragam orang membuat macam-macam olahan lele seperti lele asap, pecel lele, kerupuk kulit lele, abon lele dan banyak lagi jenis olahan yang bahan bakunya dari lele.&lt;br /&gt;   Jenis ikan lele masuk ke Indonesia pada tahun 1984/1985, mayoritas masyarakat Indonesia sangat antusias untuk budidaya jenis ikan ini, disamping karena pertumbuhannya yang cepat juga tidak terlalu sulit untuk di budidaya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.    Teknik Budidaya&lt;br /&gt;1.    Pembenihan&lt;br /&gt;   Dalam pembenihan lele terbagi ke dalam 3 teknik pemijahan diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Teknik pemijahan secara alami&lt;br /&gt;   * Teknik pemijahan secara buatan&lt;br /&gt;   * Teknik pemijahan semi alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Teknik Pemijahan alami&lt;br /&gt;   Dalam teknik pemijahan ini induk betina yang telurnya sudah terlihat matang yang ditandai dengan perut buncit, biasanya lele betina mempunyai berat diatas 1kg lebih dan berusia diatas 1 tahun. Sedangkan untuk jantan biasanya menggunakan minimal yang setara berat dan besarnya dengan betina, malah lebih bagus lagi kalau jantan lebih besar sedikit dari betina. Untuk perbandingan pemijahan 1:1 ( Jantan 1 betina 1) dalam satu media pemijahan.&lt;br /&gt;Media yang kita sediakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Bak beton atau bak terpal yang berukuran 1x2x1 m atau disesuaikan dengan lahan yang ada&lt;br /&gt;   * Disediakan kakaban Injuk/serutan tali rapia&lt;br /&gt;   Masukan induk jantan dan betina kedalam bak yang telah terisi air dengan ketingian 20-25cm, biasanya waktu pemijahan pada malam hari. Setelah kakaban terisi penuh dengan telur, angkat indukan atau angkat kakaban ke bak penetesan. Biasanya telur menetes setelah 12 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Teknik Pemijahan Semi alami&lt;br /&gt;   Untuk pemijahan semi alami hanya sedikit perbedaan yang harus diperhatikan, yaitu dalam hal pemberian rangsangan dengan penyuntikan obat perangsang ovaprim pada betina dengan dosis 0,2 ml/kg bobot tubuh ikan atau hipofisa ikan lele, juga penyuntikan setengah dosis pada jantan. Adapun mengenai persiapan bak dan kakaban sama persis dengan pemijahan alami.&lt;br /&gt;c.    Teknik Pemijahan buatan&lt;br /&gt;   Pemijahan secara buatan dilakukan cara stripping dengan terlebih dahulu diberi suntik perangsang menggunakan ovaprim atau hipofisa. Setelah 11-12 jam ikan lele siap dikeluarkan telurnya, setelah itu kita siapkan larutan sperma jantan yang dicampur dengan larutan NaCI 0,9%. Urut perut betina sampai telur keluar dari perut betina habis, lalu aduk telur dengan cairan sperma yang telah dicampur dengan NaCI. setelah diaduk rata kemudian cuci dengan air bersih dan tebar telur di media aquarium atau hapa penetesan.&lt;br /&gt;2.    Pendederan&lt;br /&gt;   Pada fase ini pembudidaya bisa menggunakan kolam tanah, bak terpal, bak beton ataupun aquarium.&lt;br /&gt;Pendederan menggunakan media kolam haruslah didahului dengan adanya persiapan kolam yaitu kolam harus melalui pemupukan dan pengapuran dengan dosis untuk pupuk kandang 250gram/M2 dan kapur 50sd100gram / M2. Dengan ketinggian air 30-35cm.kolam yang telah melalui pemupukan dan pengapuran diendapkan selama 4-7hari dan larva siap ditebar. Sedangkan untuk media yang menggunakan bak Terfal ataupun bak beton untuk persiapan kolam haruslah menggunakan pupuk probiotik atau pupuk buatan dengan menggunakan ragi dan dedek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Pembesaran&lt;br /&gt;   Dalam budidaya lele pembesaran biasa ukuran lele masa tebar adalah kisaran 7-8cm dengan lama pemanenan 40-45 hari dengan standar ukuran panen 12-15 cm melalui proses seleksi ukuran. Setelah panen ukuran 12-15 cm maka budidaya dilanjutkan dengan pembesaran kedua pembesaran dengan masa panen 25-30 hari dengan ukuran masa panen 1kg isi 7-10 ekor per kilo gram. Pada masa tebar calon pembesaran untuk padat tebar benih 150-200 ekor/M2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Program Pemberian Pakan&lt;br /&gt;   Untuk pemberian pakan pada lele tidak jauh beda dengan pemberian pakan pada ikan ikan lain yaitu untuk penggunaan pelet haruslah disesuaikan dengan usia dan besaran mulut lele itu sendiri. Sebagai contoh Bila lele berukuran dengan panjang 7-8 cm maka pakan yang diberikan haruslah pelet butiran apung berukuran 3mm. Kita sebagi pembudidaya haruslah pandai mencari atau membuat pakan alternative yang nan tinya bisa membantu terhadap penekanan pembiayan pakan,salah satu pakan alternative yang bisa didapat diantaranya: Bangkai ayam, telur ayam yang tidak jadi netas, ikan asin BS atau tidak terpakai, belatung kotoran ayam, sosis BS, roti BS, sisa makanan dari restoran dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Pengelolaan Kesehatan.&lt;br /&gt;   Kesehatan ikan lele sangatlah menentukan terhadap keberhasilan budidaya, untuk itu kita sebagai pembudidaya haruslah tekun mengamati respon makan dan gerakan ikan bila terjadi ada kelainan haruslah tanggap dengan solusi penggobatan yang tepat seperti contoh bila lele terkena whitespot upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan penebaran garam atau menaikan suhu air dengan cara menghindarkan kolm dari  air yang masuk atau dengan penambahan pupuk kandang supaya plangton yang tumbuh bisa membantu terhadap kenaikan suhu. Jenis penyakit lain yang biasa terjadi pada lele diantaranya Trichodina sp ditandai kumis kriting pada lele pengendaliannya dengan Metheline Blue+Nacl atau garam 500-1000 ppm Untuk lebih tepatnya bila kita melakukan budidaya pencegahan penyakitlah yang paling efektif dan efisien dibanding kita mengobati sepertihalnya penggunaan pemberian vitamin C yang telah tercampur dengan pelet atau penggunaan bawang putih yang juga telah tercampur dengan pelet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deny Rusmawan - DeJee Fish - Ketua APPG Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-6590943546166327879?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/6590943546166327879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/budidaya-ikan-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6590943546166327879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6590943546166327879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/12/budidaya-ikan-lele.html' title='BUDIDAYA IKAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-6805747067433025156</id><published>2009-11-07T19:18:00.003+07:00</published><updated>2009-11-07T20:01:40.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produk Olahan'/><title type='text'>PRODUK OLAHAN DARI IKAN LELE</title><content type='html'>Ikan merupakan bahan pangan yang mengandung protein tinggi dan mudah dicerna. Pola kandungan asam-asam aminonya hampir sama dengan asam amino yang terdapat dalam tubuh manusia. Komoditas perikanan ini dapat diolah menjadi produk lain atau dibuat masakan yang memiliki rasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Produk Olahan Lele&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lele dapat diolah menjadi produk lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi, daya simpan lama dan mudah dikonsumsi. Berikut ini beberapa macam olahan ikan lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Abon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVs7KwVhhI/AAAAAAAAAGA/3lRuV1N4iTI/s1600-h/abon+lele.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVs7KwVhhI/AAAAAAAAAGA/3lRuV1N4iTI/s320/abon+lele.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401343091855951378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Abon lele merupakan salah satu bentuk produk olahan dan awetan ikan. Pembuatan abon biasanya dilandasi adanya produk yang melimpah atau ikan kurang diminati jika dikonsumsi langsung. Pengolahan ikan menjadi abon dapat dilakukan untuk memberi rasa pada produk lain yang tidak memiliki nilai jual.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bahan-bahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ikan lele 5 kg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gula merah 200g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kelapa 7 butir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang merah 200g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang putih 100g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ketumbar 40g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Cabai merah 50g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kompor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Blender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Alat pengepres&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Timbagan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wajan pengorengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Panci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Parutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Talenan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pisau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Baskom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penumbuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Cara membuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan pembuatan abon dari ikan lele adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bersihkan ikan lele dari sirip, patil dan isi perutnya, lalu cuci bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kukus ikan lele hingga matang, kemudian dinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Hancurkan dagingnya dengan gilingan daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Haluskan bumbu yang telah disiapkan, lalu tumis hingga wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Masukan daging ikan lele yang telah dihancurkan dan tambahkan santan kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Goreng campuran bahan tersebut hingga berwarna cokelat tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Tiriskan lalu pres hasil gorengan untuk mengeluarkan minyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Dingingkan hasil pres&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Abon ikan lele siap dikemas dan dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kerupuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerupuk lele merupakan makanan ringan (snack food) yang bersifat kering dan renyah. Kerupuk ikan termasuk produk yang banyak disukai karena rasanya enak, renyah, tahan lama, mudah dibawa dan disimpan serta dapat dinikmati kapan saja. Pembuatan kerupuk ikan lele mudah dilakukan dan murah biayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bahan-bahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daging ikan lele tanpa tulang 500g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tepung tapioka 500g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Air 100 ml&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gula secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Garam secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Telur bebek 2 butir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Plastik pembungkus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tali karet atau benang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Peralatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kompor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gilingan daging&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penumbuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Baskom plastik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pisau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Talenan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Cara membuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah pembuatan krupuk dari ikan lele sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bersihkan ikan lele dari sirip, patil dan isi perutnya lalu cuci bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kukus ikan lele hingga matang, kemudian dinginkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Haluskan daging dengan gilingan daging atau tumbuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Campurkan tepung tapioka dengan air sedikit demi sedikit, lalu masukkan daging ikan lele halus, gula, garam, dan telur bebek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Aduk dan uleni campuran bahan tersebut hingga kalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Masukkan adonan yang telah dibungkus plastik hingga matang lalu angkat dan diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Iris tipis adonan yang telah dikukus, lalu jemur hingga kering dengan menggunakan sinar matahari/mesin pengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Iris tipis adonan yang telah dikukus, lalu jemur hingga kering dengan menggunakan sinar matahari/mesin pengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Kerupuk lele kering siap dikemas dan dijual mentah. Kerupuk dapat juga digoreng dan dikemas, kemudian dijual dalam bentuk matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Nugget&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nugget ikan merupakan makanan ringan (snack food) yang dapat berfungsi sebagai lauk siap saji. Nugget ikan dilapisi dengan tepung dan ukurannya kecil. Nugget merupakan makanan yang disukai anak-anak maupun orang dewasa karena rasanya yang mengundang selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bahan-bahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ikan lele 250 g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Telur 1 butir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tepung roti 25 g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang putih 2 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keju 50 g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kecap 1 sendok makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bahan pencelup sebelum digoreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Tepung roti 25 g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Telur 1 butir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kompor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gilingan daging&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penumbuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Baskom plastik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pisau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wajan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Cara membuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun proses pembuatan nugget ikan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bersihkan ikan dari sirip, tulang dan bagian lain yang tidak diinginkan lalu cuci hingga bersih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Haluskan daging dengan gilingan daging atau penumbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Campur daging hasil gilingan dengan seluruh bahan, lalu uleni hingga merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masukkan adonan ke dalam dandang dan kukus szelama 25 menit, lalu dinginkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Potong-potong adonan sesuai dengan selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Celupkan potongan adonan ke dalam telur, kemudian gulingkan ke tepung roti beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Goreng potongan adonan sampai kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Nugget siap dikemas atau dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Resep Masakan Lele&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dalam bentuk olahan, berikut ini disajikan beberapa macam aneka masakan lele. Bagi yang hobi memasak dapat mengembangkan resep-resep sendiri yang sesuai selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pecel lele&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bahan-bahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ikan lele 2 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mentimun secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daun kubis secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kemangi secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daun selada secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Minyak gorneg secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Bumbu-bumbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Cabai merah 4 butir atau sesuai selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang merah 3 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang putih 2 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jeruk limau 1 buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Terasi 1 sendok teh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gula merah secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Garam secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Cara memasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan memasak resep pecel lele adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) bersihkan ikan lele dengan cara pembuangan isi perut. Biarkan kepala dan siripnya utuh tanpa dipotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Cuci bersih ikan, kemudian tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Gerus hingga halus bumbu bawang putih dan garam, lalu lumurkan pada badan lele&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Goreng ikan lele sampai kering, tetapi jangan sampai gosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Gerus hingga halus bumbu-bumbu lainnya, kecuali jeruk limau untuk dijadikan sambal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Hidangkan sambel secara terpisah dalam piring kecil/cobek, kemudian bubuhi air perasan jeruk limau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Hidangkan lele yang telah digoreng bersama sambel mentah , daun kubis, kemangi, selada dan mentimun diatas cobek atau piring kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Mangut lele&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bahan-bahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ikan lele 2 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Santan ½ liter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lalapan (mentimun, kemangi, daun kubis, selada) secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Minyak goreng secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Bumbu-bumbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang putih 3 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang merah 4 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Garam secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Cabai merah sesuai selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kemiri 1 buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sereh secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Cara memasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan memasak resep mangut lele adalah sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bersihkan lele dengan cara membuang isi perut. Biarkan kepala dan siripnya utuh tanpa dipotong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Cuci bersih ikan, kemudian tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Gerus bumbu bawang putih (1 siung) dan garam hingga halus kemudian lumurkan pada badan lele&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Goreng ikan lele sampai kering tetapi jangan sampai gosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Gerus semua bumbu, kecuali sereh, hingga halus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Tumis bumbu bersama-sama sereh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Masukkan santan jika bumbu sudah matang sambil diaduk-aduk perlahan samapai mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Masukan lele yang digoreng sekitar 5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Mangut lele siap dihidangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Pepes lele&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bahan-bahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ikan lele 2 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daun kemangi secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Daun pisang secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Bumbu-bumbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang putih 2 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bawang merah 6 siung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tomat 1 buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kemiri 4 butir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Garam secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Cabai merah sesuai selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bumbu penyedap sesuai selera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jahe, kunyit, lengkuas, sereh, daun salam dan gula jawa secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Cara memasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan memasak resep pepes lele adalah sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bersihkan lele dengan cara membuang isi perut. Biarkan kepala dan siripnya utuh tanpa dipotong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Cuci bersih ikan, kemudian tiriskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Haluskan semua bumbu, lalu campur dengan daun kemangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Lumurkan bumbu padqa lele hingga merata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Bungkuslah ikan lele yang telah dilumuri bumbu dengan daun pisang dan biarkan sebentar agar bumbu meresap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Kukus bungkusan lele sampai matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Panggang pepes lele diatas api sebelum disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari buku "panduan lengkap agribisnis lele" terbitan Penebar Swadaya, Penulis Kholish Mahyuddin, S.Pi.,MM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-6805747067433025156?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/6805747067433025156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/11/produk-olahan-dari-ikan-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6805747067433025156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/6805747067433025156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/11/produk-olahan-dari-ikan-lele.html' title='PRODUK OLAHAN DARI IKAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVs7KwVhhI/AAAAAAAAAGA/3lRuV1N4iTI/s72-c/abon+lele.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-731099307951931228</id><published>2009-11-07T19:01:00.002+07:00</published><updated>2009-11-07T19:10:32.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produk Olahan'/><title type='text'>PENCOK LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVjZtyvbHI/AAAAAAAAAF4/vhB4NiEOgIo/s1600-h/LELE+BAKAR.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 166px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVjZtyvbHI/AAAAAAAAAF4/vhB4NiEOgIo/s320/LELE+BAKAR.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401332621541076082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahan-Bahan :&lt;br /&gt;2 ekor Ikan lele sedang, bersihkan&lt;br /&gt;1 sdm Air jeruk limau&lt;br /&gt;2 sdm Kecap manis&lt;br /&gt;3 siung Bawang putih (bumbu halus)&lt;br /&gt;3 buah Cabe merah (bumbu halus)&lt;br /&gt;2 buah Cabe rawit (bumbu halus)&lt;br /&gt;1 sdt Gula merah (bumbu halus)&lt;br /&gt;1 sdt garam (bumbu halus)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cara Mengolah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Bakar ikan lele sampai kering, sisihkan&lt;br /&gt;2.Dalam wadah lain, aduk bumbu halus, air jeruk limau, dan kecap manis&lt;br /&gt;3.Oleskan ikan dengan bumbu. Bakar sampai matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-731099307951931228?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/731099307951931228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/11/pencok-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/731099307951931228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/731099307951931228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/11/pencok-lele.html' title='PENCOK LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVjZtyvbHI/AAAAAAAAAF4/vhB4NiEOgIo/s72-c/LELE+BAKAR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3729387389528994974</id><published>2009-11-07T18:09:00.005+07:00</published><updated>2009-11-07T18:21:07.049+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>PEMIJAHAN LELE DUMBO SECARA ALAMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVXFnIdfCI/AAAAAAAAAFw/xsrgM_xWiDU/s1600-h/images-lele.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 106px; height: 87px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVXFnIdfCI/AAAAAAAAAFw/xsrgM_xWiDU/s320/images-lele.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401319082016209954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan masyarakat akan protein hewani semakin meningkat, hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Karena ikan ini sangat mudah dibudidayakan dan dapat hidup dan berkembang pada perairan yang buruk. Semakin berkembangya usaha budidaya lele, kebutuhan benih dirasa masih kurang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut diuraikan secara singkat teknik pemijahan lele dumbo, yang dapat dilakukan pada lahan yang sempit dan menggunakan sarana prasarana yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNIK PEMIJAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Menyiapkan Media Pemijahan&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;         Menyiapkan bak pemijahan, Bak yang dipergunakan cukup dengan ukuran 2 x 3 m dengan dalam bak 1 m. Bak dicuci dengan larutan permangkanat dosis 1 sendok teh dicampur dengan 3 liter air atau 5 gr / m3 air.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyiapkan Kakaban, terbuat dari ijuk yang dibingkai dengan bambu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyiapkan Air Pemijahan, bak pemijahan diisi dengan air setinggi 40 cm. Air yang digunakan adalah air dari PDAM.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   2. Menyiapkan Induk Lele&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;1. Merawat Induk Lele, Induk lele yang akan dipijahkan harus diberikan pakan yang baik agar dapat menghasitkan benih yang baik. Induk lele setiap hari diberikan pakan daging bekicot atau ikan rucah. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore dengan dosis 10% dari berat badan. Bak penampungan induk dekat dengan bak pemijahan agar menangkapnya mudah. Sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan secara terpisah. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, perawatan induk-induk dilakukan secara terpisah.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;2. Memilih induk lele siap pijah, Ciri-ciri induk betina siap pijah adalah :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bagian perut membesar dan lunak kalau diraba,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dubur terlihat merah dan lubang pengeluaran telur lunak melebar,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Membuat gerakan mondar-mandir,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Bagian dubur merah dan lunak dan kalau diurut dari arah perut akan keluar cairan putih atau sperma.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;        &lt;br /&gt;3. Memijahkan Lele Dumbo&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;                Isi bak pemijahan dengan air setinggi 40 cm.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Pasang kakaban hingga menutupi 80% permukaan air. Lepaskan induk-induk lele yang sudah dipilih dengan perbandingan 1 betina dan 2 jantan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Proses pemijahan akan terjadi pada malam hari yang ditandai terlebih dahulu adanya kejar-kejaran antara induk betina dan jantan mengitari kakaban.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Amati pada pagi hari, telur-telur sudah dilepas dan menempel pada seluruh permukaan kakaban.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;        &lt;br /&gt;4. Menetaskan Telur&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;                Menyiapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Isi air penetasan setinggi 40 cm, pindahkan / angkat kakaban masukan kedalam bak yang sudah disiapkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Amati telur-telur tersebut setelah 24 jam dan telur-telur tersebut mulai menetas. Telur yang baik akan menetas sampai 35 jam. Anak ikan yang keluar dari telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan microskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi berwarna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk. Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai dengan 48 jam dikeluarkan oleh induk.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;        &lt;br /&gt;5. Pemeliharaan Larva&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;                Menyiapkan bak untuk budidaya pakan alami berupa dapnia atau cacing rambut. Cacing rambut banyak dijual di kios-kios pedagang ikan hias.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Setelah telur lebih dari 48 jam dan sudah terlihat banyak yang menetas maka kakaban diangkat secara hati- hati.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Merawat larva, larva yang baru beberapa hari menetas kondisinya masih sangat lemah. Larva in tidak memerlukan pakan tambahan sampai menunggu kandungan kuning telurnya habis. Kandungan kuning telur akan habis setelah menetas 7 hari. Untuk menjaga mortalitas yang tinggi pertu dipasang aerasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                Memberi pakan larva. Setetah kandungan 7 hari, kandungan kuning telur yang asd sudah habis dan harus segera diberi pakan tambahan dari luar. Pakan pertama dapat diberikan kuning telur yang diblender setiap pagi dan sore sebanyak satu butir per 5000 ekor. Pemberian pakan cacing rambut dapat diberikan setelah 11 hari dan juga dapnia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;MEMANEN BENIH LELE&lt;br /&gt;Panen benih lele bukan merupakan kegiatan akhir dari kegiatan budidaya. Pemungutan hasil pertama dilakukan setelah benih berumur 17 sampai 21 hari (panjang t 2,5 cm). Pada ukuran tersebut benih lele sudah bisa ditebar pada petak pembesaran secara langsung atau ditebar pada tempat penampungan sambil menunggu pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALAT BAHAN PEMANEN&lt;br /&gt;Alat berupa seser, ember, waring, kantong plastik, tali karet, tabung udara, mangkok kecil. Perhitungan hasil biasanya dilakukan secara manual. Untuk memperoleh benih yang seragam digunakan ember plastik yang berlubang-lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Warta Jaladri No. 03/01/05&lt;br /&gt;BPPP Tegal&lt;br /&gt;Jl. Martoloyo PO BOX 22 Tegal&lt;br /&gt;Telp. 0283-356393, Fax. 0283-322064&lt;br /&gt;E-mail : bp3tegal@dkp.go.id, bppp_tegal@plasa.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3729387389528994974?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3729387389528994974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/11/pemijahan-lele-dumbo-secara-alami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3729387389528994974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3729387389528994974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/11/pemijahan-lele-dumbo-secara-alami.html' title='PEMIJAHAN LELE DUMBO SECARA ALAMI'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SvVXFnIdfCI/AAAAAAAAAFw/xsrgM_xWiDU/s72-c/images-lele.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-1644951033183692445</id><published>2009-09-16T21:58:00.003+07:00</published><updated>2009-09-16T22:14:35.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BUDIDAYA IKAN MAS( Cyprinus carpio L ).</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SrEAMM4NsAI/AAAAAAAAAFY/JmDEHWThQ9s/s1600-h/mas1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 234px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SrEAMM4NsAI/AAAAAAAAAFY/JmDEHWThQ9s/s320/mas1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382083239299887106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang.&lt;span class="fullpost"&gt; Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik&lt;br /&gt;morfologisnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. SENTRA PERIKANAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. JENIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kelas : Osteichthyes&lt;br /&gt;Anak kelas : Actinopterygii&lt;br /&gt;Bangsa : Cypriniformes&lt;br /&gt;Suku : Cyprinidae&lt;br /&gt;Marga : Cyprinus&lt;br /&gt;Jenis : Cyprinus carpio L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek; bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relative panjang; mata pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit; gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relative panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,5:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi,&lt;br /&gt;taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. MANFAAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.&lt;br /&gt;2) Sebagai ikan hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. PERSYARATAN LOKASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.&lt;br /&gt;2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;3. Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m dpl.&lt;br /&gt;4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.&lt;br /&gt;Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100 liter/menit/m3.&lt;br /&gt;Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.&lt;br /&gt;Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Kolam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2¬5% sehingga memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Kolam pemeliharaan induk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Kolam pemijahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Kolam pendederan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan&lt;br /&gt;dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk  memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Peralatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan mas antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk&lt;br /&gt;menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3) Persiapan Media&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.2. Pembibitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Pemilihan Bibit dan Induk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik. Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan&lt;br /&gt;pemurnian kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu dilakukan penyeleksian terhadap induk ikan mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang untuk dipijah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih; panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a) Betina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.&lt;br /&gt;- Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.&lt;br /&gt;- Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b) Jantan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Badan tampak langsing.&lt;br /&gt;- Gerakan lincah dan gesit.&lt;br /&gt;- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Sistim Pembenihan/Pemijahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sistim pemijahan tradisional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Cara sunda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari;&lt;br /&gt;• disediakan injuk untuk menepelkan telur;&lt;br /&gt;• setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah kekolam penetasan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Cara cimindi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;&lt;br /&gt;• disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;&lt;br /&gt;• setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;&lt;br /&gt;• tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Cara rancapaku:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu;&lt;br /&gt;• disediakan rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;&lt;br /&gt;(3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;&lt;br /&gt;(4) setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Cara sumatera:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;&lt;br /&gt;• disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di permukaan air;&lt;br /&gt;• setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;&lt;br /&gt;• setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Cara dubish:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;&lt;br /&gt;• sebagai media penempel telur digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm;&lt;br /&gt;• setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;&lt;br /&gt;• setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Cara hofer:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Sistim kawin suntik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor (berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana yang lengkap dan perawatan yang intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3) Pembenihan/Pemijahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:&lt;br /&gt;• Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas:&lt;br /&gt;• Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan suhu berkisar 25 derajat C.&lt;br /&gt;• Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.&lt;br /&gt;• Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.&lt;br /&gt;• Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4) Pemeliharaan Bibit/Pendederan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan&lt;br /&gt;(luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan&lt;br /&gt;liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:&lt;br /&gt;• Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1&lt;br /&gt;bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.&lt;br /&gt;• Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 3-5 cm.&lt;br /&gt;• Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.&lt;br /&gt;• Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5) Perlakuan dan Perawatan Bibit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.3. Pemeliharaan Pembesaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun monokultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a) Polikultur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau&lt;br /&gt;2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b) Monokultur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara&lt;br /&gt;induk jantan dan betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Pemupukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m2, TSP 10 gram/m2, Urea 10 gram/m2, kapur 25-100 gram/m2. Setelah itu kolam diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC, Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk memberantas serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah 7 hari kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka padat penebaran adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan bila diberi pakan pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m2 (benih lepas hapa). Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Pemberian Pakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari. Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 literair untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada benih, perawatan 5-7 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan adalah menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak tercemari/teracuni oleh zat beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.1. Hama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bebeasan (Notonecta): Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.&lt;br /&gt;• Ucrit (Larva cybister): Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.&lt;br /&gt;• Kodok : Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.&lt;br /&gt;• Ular : Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.&lt;br /&gt;• Lingsang : Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.&lt;br /&gt;• Burung : Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning. Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.&lt;br /&gt;• Ikan gabus : Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.&lt;br /&gt;• Belut dan kepiting :Pengendalian: lakukan penangkapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Bintik merah (White spot) Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah serta sering muncul di permukaan air. Pengendalian: direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis) Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus) Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang  rontok, ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian:&lt;br /&gt;1. direndan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam;&lt;br /&gt;2. hindari penebaran ikan yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kutu ikan (argulosis) Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage). Pengendalian:&lt;br /&gt;1. ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit;&lt;br /&gt;2. dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Jamur (Saprolegniasis) : Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya. Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang&lt;br /&gt;terserang jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalamvlarutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Gatal (Trichodiniasis) : Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selam 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bakteri psedomonas flurescens : Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bakteri aeromonas punctata : Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu gembung; pendarahan dalam organ hati dan ginjal. Pengendalian: penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:&lt;br /&gt;1) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.&lt;br /&gt;2) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.&lt;br /&gt;3) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.&lt;br /&gt;4) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air.&lt;br /&gt;5) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.&lt;br /&gt;6) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati-hati dan benar.&lt;br /&gt;7) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. PANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.1. Pemanenan Benih&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih untuk penyimpanan benih hasil panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00¬05.00 pagi dan sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terik matahari yang dapat mengganggu benih ikan kesehatan tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak.Setelah air surut benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam ember atau keramba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yangdapat diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.2. Cara Perhitungan Benih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan, dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih biasanya dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Penghitungan dengan sendok.&lt;br /&gt;b) Penghitungan dengan mangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.3. Pembersihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut, maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benih ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam. Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8.4. Pemanenan Hasil Pembesaran&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panen total. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenansecepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9. PASCAPANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Penanganan ikan hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam&lt;br /&gt;keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke&lt;br /&gt;konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;• Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.&lt;br /&gt;• Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;• Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Penanganan ikan segar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;• Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;• Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;• Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt;• Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;• Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hamadan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;• Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000¬6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.&lt;br /&gt;• Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sistem terbuka : Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;b. Sistem tertutup : Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;&lt;br /&gt;2. hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;&lt;br /&gt;3. alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga(air:oksigen=1:2);&lt;br /&gt;4. kantong plastik lalu diikat.&lt;br /&gt;5. kantong plastic dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter air bersih).&lt;br /&gt;2. Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;3. Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.&lt;br /&gt;4. Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;5. Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m2 (kapasitas 1000 ekor) selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Biaya produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sewa dan pembuatan kolam Rp. 1.500.000,-&lt;br /&gt;b. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,- Rp. 100.000,-&lt;br /&gt;c. Pakan&lt;br /&gt;- Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 225.000,-&lt;br /&gt;- Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,- Rp. 95.000,-&lt;br /&gt;- Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 75.000,-&lt;br /&gt;- Ganti air 7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,- Rp. 140.000,-&lt;br /&gt;- Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,- Rp. 280.000,-&lt;br /&gt;- Obat-oabatan Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;d. Peralatan Rp. 50.000,-&lt;br /&gt;e. Lain-lain Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 2.625.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Pendapatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,- Rp. 400.000,-&lt;br /&gt;b. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,- Rp. 750.000,-&lt;br /&gt;c. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 2.500.000,-&lt;br /&gt;Jumlah pendapatan Rp. 3.650.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Keuntungan dalam 7 bulan Rp. 1.025.000,-&lt;br /&gt;a. Keuntungan per bulan Rp. 146.425,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Parameter kelayakan usaha B/C ratio 1,39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawarlainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan mas mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sector perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11. DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam Sinar Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2&lt;br /&gt;2) GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27 Agustus 1988 hal. 5&lt;br /&gt;3) RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai Menabung Emas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal. 5&lt;br /&gt;4) RUKMANA, Rahmat. 1992. Prospek Usaha Ikan Mas Menggiurkan Dan Menguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7&lt;br /&gt;5) SANTOSO, Budi. 1993. Petunjuk praktis : Budidaya ikan mas. Yogyakarta : Kanisius.&lt;br /&gt;6) SUMANTADINATA, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaan di Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.&lt;br /&gt;7) SUSENO, Djoko. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7. Jakarta : Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;12. KONTAK HUBUNGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan ¬ BAPPENAS;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-1644951033183692445?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/1644951033183692445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1644951033183692445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/1644951033183692445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l.html' title='BUDIDAYA IKAN MAS( Cyprinus carpio L ).'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SrEAMM4NsAI/AAAAAAAAAFY/JmDEHWThQ9s/s72-c/mas1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-3759370616597131932</id><published>2009-09-16T03:48:00.000+07:00</published><updated>2009-09-16T03:49:25.707+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>KERUPUK IKAN LELE</title><content type='html'>IKAN lele adalah salah satu ikan yang merupakan sumber protein yang penting untuk pertumbuhan tubuh. Ikan lele mengandung 17 persen protein, terdiri dari asam-asam amino essensial yang tidak rusak pada waktu pemasakan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kandungan lemaknya 4-5 persen lemak yang mudah dicerna serta langsung dapat dicerna oleh jaringan tubuh. Kandungan lemaknya baik untuk pertumbuhan dan menurunkan kolesterol darah.&lt;br /&gt;Ikan lele dan hasil produknya banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan percernaan karena mudah dicerna. Para ahli menemukan, komposisi asam-asam amino dalam bahan makanan hewani sesuai dengan komposisi jaringan didalam tubuh manusia. Ada kesamaan ini protein ikan lele mempunyai nilai gizi yang tinggi. &lt;br /&gt;Ikan sering disebut sebagai makanan untuk kecerdasan. Ikan sebagai makanan sumber protein yang tinggi. Kalau sehari-hari kita menghidangkan ikan, maka kita memberikan sumbangan yang tinggi pada jaringan tubuh kita. Absorsi protein ikan lebih tinggi dibandingkan daging sapi, ayam dan lain-lain. &lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan ikan mempunyai serat-serat protein lebih pendek daripada serat-serat protein daging ayam atau sapi. Protein itu sendiri sangat diperlukan sebagai pembentuk jaringan baru. Kekurangan asupan protein dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan serta tidak optimalnya pertumbuhan jaringan tubuh dan pembentuk otak. &lt;br /&gt;Sampai saat ini, umumnya ikan lele dikonsumsi langsung. Padahal sebenarnya ikan lele dapat diolah menjadi produk kerupuk ikan. Kerupuk ikan lele adalah salah satu kerupuk yang mengandung protein hewani yang tak kalah lezatnya dibanding kerupuk lain. Selain gurih dan bergizi tinggi, kerupuk ikan lele dapat dimanfaatkan sebagai lauk, camilan, obat dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, kerupuk ikan lele merupakan hasil produksi perikanan yang mempunyai andil besar dalam mengatasi masalah gizi masyarakat, karena kerupuk ikan lele sarat akan gizi yang diperlukan untuk kehidupan yang sehat. Zat-zat gizi yang ada pada kerupuk ikan lele sangat mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya, maka ikan sangat dianjurkan untuk dikonsumsi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, ibu hamil dan menyusui, orang yang sedang sakit atau dalam proses penyembuhan, serta usia lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-3759370616597131932?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/3759370616597131932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/kerupuk-ikan-lele.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3759370616597131932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/3759370616597131932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/kerupuk-ikan-lele.html' title='KERUPUK IKAN LELE'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-5490823479897176500</id><published>2009-09-06T11:17:00.005+07:00</published><updated>2009-09-06T11:52:10.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>GIZI DAN KUALITAS PAKAN PADA POLA BUDIDAYA IKAN BERKELANJUTAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqM7NpoPwXI/AAAAAAAAAFI/NV9xGTvv3YY/s1600-h/4.Domle.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqM7NpoPwXI/AAAAAAAAAFI/NV9xGTvv3YY/s320/4.Domle.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378207485709500786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan yang berkualitas, baik secara kandungan gizi dan maupun fisik merupakan kunci untuk mencapai tujuan-tujuan produksi dan ekonomi budidaya ikan yang berkelanjutan. Kualitas kegizian berarti pakan tersebut memenuhi semua kebutuhan gizi ikan melalui pencampuran bahan penyusun pakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ingredients)&lt;/span&gt; yang bermutu dalam proporsi yang layak. Kualitas fisik berarti pakan tersebut segar dan dalam bentuk pelet yang bersih, keras dengan stabilitas air sebesar &gt; 10 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gizi Ikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan budidaya di dalam dietnya (susunan makanan) membutuhkan protein, lemak, energi, vitamin dan mineral untuk pertumbuhan, reproduksi, dan fungsi fisiologis normal lainnya. Kebutuhan-kebutuhan ini agak bervariasi baik di antara jenis maupun  di dalam jenis ikan, khususnya dalam hal tahapan siklus hidupnya, jenis kelamin, status reproduksinya dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(nutrient)&lt;/span&gt; ikan budidaya dapat berasal dari sumber makanan, seperti plankton, bakteri, serangga dan ikan lain dari dalam ekosistem akuakultur, dan/atau bahan organik dan pakan olahan yang dimasukkan ke dalam ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Protein dan Asam Amino&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein merupakan senyawa polimer yang tersusun dari ikatan asam-asam amino. Pada ikan, protein tersusun sekitar 70% bobot kering bahan organik di dalam jaringan tubuh ikan, oleh karenanya, kandungan protein merupakan salah satu senyawa bergizi yang paling penting pada pakan ikan. Kandungan protein kasar merupakan ukuran umum bagi kualitas pakan ikan dan pertumbuhan ikan akan berbanding langsung dengan kandungan protein di dalam pakannya, jika kandungan itu berada dalam kisaran 20 – 40% protein kasar.Kebutuhan protein optimum untuk ikan bervariasi bergantung pada jenis ikan, tahap kehidupan, suhu air, konsumsi pakan, jumlah pemberian pakan harian, frekuensi pemberian pakan, kualitas protein (komposisi asam amino) dan kualitas energi non protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan tidak membutuhkan protein dalam arti yang sebenarnya, tetapi memerlukan kombinasi seimbang 20 jenis asam amino esensial dan non-esensial utama yang menyusun protein. Ikan memanfaatkan protein pakan dengan mencernanya menjadi asam amino bebas yang dapat diserap ke dalam darah dan diedarkan ke jaringan di seluruh tubuh, yang kemudian disusun kembali menjadi protein jaringan ikan yang spesifik dan baru. Protein di dalam jaringan ikan dibentuk dari keseluruhan (20 jenis) asam amino utama. Ikan di dalam tubuhnya dapat mensintesis beberapa jenis asam-asam amino ini, tetapi beberapa asam amino lainnya tidak, oleh karena itu harus dikonsumsi. Kesepuluh jenis asam amino yang tidak dapat disintesis oleh ikan ini disebut ”asam amino esensial” sehingga harus disediakan dalam jumlah layak di dalam dietnya. Asam-asam amino esensial yang dibutuhkan oleh ikan dan hewan sama atau serupa, namun secara kuantitatif berbeda, sebagai contoh asam amino yang dibutuhkan oleh ikan lele, ikan mas dan ikan nila (Tabel 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Kebutuhan asam amino ikan lele, ikan mas dan ikan nila dan ketersediaan asam amino bagi ikan lele dalam lima bahan penyusun pakan utama (sebagai basis terkomsumsi) (Schmittou, H.R., 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 5in; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="480"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="2"  style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Asam   Amino&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3"  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 96.45pt;font-family:arial;" width="129"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebutuhan   bagi jenis ikan (% pakan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="5"  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 229.45pt;font-family:arial;" width="306"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketersedian   sumber protein bagi ikan lele&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(% bahan   penyusun)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ikan lele&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ikan mas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ikan nila&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tepung   ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tepung   kedelai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tepung   biji kapas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dedak   padi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jagung   Pipil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Arginin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.38&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.37&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.34&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.41&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.93&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.81&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.68&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.35&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Histidin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.48&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.67&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.54&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.23&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.94&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.91&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.23&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Isoleusin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.38&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.80&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.99&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.51&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.62&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.09&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Leusin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.06&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.09&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.99&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.73&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.78&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.63&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.06&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lisin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.63&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.82&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.63&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4.08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.52&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.46&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Metionin   + sistin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.74&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.99&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.02&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.90&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.05&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.05&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.28&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fenilalanin   + tirosin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.60&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.07&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.82&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.90&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.89&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.63&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.04&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.68&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Treonin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.64&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.36&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.06&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.38&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Triptopan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.32&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.52&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.51&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.45&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.06&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 0.9in;font-family:arial;" valign="top" width="86"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;valin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.96&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 32.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="43"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.90&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.80&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.59&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 47.5pt;font-family:arial;" valign="top" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.43&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 42.15pt;font-family:arial;" valign="top" width="56"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.62&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 44.8pt;font-family:arial;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0.33&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Protein terdapat pada semua jenis hewan dan tumbuhan dalam jumlah dan komposisi asam amino yang bervariasi. Namun, setiap jenis protein bervariasi pula dalam kecernaan (daya cerna) dan kandungan asam amino yang tersedia  bagi ikan. Oleh karenanya, komposisi asam amino dan ketersediaannya di dalam bahan penyusun pakan (ingredients) mungkin tidak seimbang dan mungkin terbatas dibandingkan dengan kebutuhan untuk jenis ikan spesifik. Sumber bahan baku pakan (feedstuffs) yang dikehendaki bagi penyediaan protein untuk pakan ikan sebagaian besar besar berasal dari tepung ikan, karena produk ini tinggi persentase kandungan protein kasarnya, mengandungan semua asam amino esensial berkadar tinggi. Tetapi penggunaan bahan alternatif lain sebagai pengganti tepung ikan ataupun bungkil kedelai telah mulai dicobakan, antara lain menggunakan tepung kedelai sebagai penggangi tepung ikan (Moreau, Y., et.al, 2005 ; Sudaryono, A., et. al. 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Energi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan energi, dan yang lebih penting lagi, kebutuhan nisbah (rasio) energi : protein untuk ikan belum benar-benar mapan. Informasi yang tersedia relatif masih kurang dibandingkan dengan untuk hewan ternak. Ikan mempunyai kebutuhan energi diet yang lebih rendah dibandingkan dengan hewan ternak, karena ikan tidak mempunyai energi untuk menjaga suhu tubuh yang konstan, ikan menggunakan sedikit energi dalam mengekskresikan limbah protein  (sekitar 85% limbah protein bernitrogen dari ikan dikeluarkan  melalui insang dalam bentuk amonia), dan ikan membutuhkan sedikit energi dibandingkan dengan hewan daratan dalam menjaga posisinya  di dalam air oleh sifat daya-apung (buoyancy) mereka netral.&lt;br /&gt;Energi metabolik pada ikan dapat diperoleh dari protein, lemak dan karbohidrat. Jumlah energi tercerna (ET) yang dibutuhkan ikan dipengaruhi oleh jenis ikan, tahap kehidupan, jenis kelamin, tingkat aktivitas, suhu, berbagai kualitas air dan faktor-faktor lingkungan lainnya. Untuk kebutuhan energinya ikan budidaya menggunakan protein dan lemak sebagai sumber utama dan karbohidrat sebagai sumber kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisbah optimum energi tercerna (ET) diet terhadap protein kasar untuk pertumbuhan ikan optimum agak bervariasi antara jenis ikan dan ukuran (bobot) tubuhnya disamping faktor-faktor lain yang telah disebutkan. Pada kandungan protein pakan sekitar 30-36%, kebutuhan energi sebesar 8,5-10% kkal ET/protein (2,500 – 3,800 kkal/kg pakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Vitamin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitamin adalah senyawa organik yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit dan esensial bagi pertumbuhan normal, reproduksi dan kesehatan ikan. Ikan tidak dapat mensintesis vitamin dan harus diperoleh dari dietnya. Ikan yang dipelihara dalam sistem budidaya intensif harus diberi pakan bergizi lengkap mengandung suplemen vitamin. Kebutuhan minimum bagi sebagian besar dari ke-14 jenis vitamin esensial untuk ikan lele, ikan mas, dan ikan nila telah ditetapkan (tabel 2). Saran-saran penggunaan sebaiknya menerangkan tentang kehilangan vitamin sewaktu pengolahan pakan dan kerusakan normal selama sampai 3 bulan dalam penyimpanan yang wajar. Saran-saran penggunaan juga disesuaikan terhadap perbedaan-perbedaan dalam kebutuhan vitamin individu akibat perbedaan jenis ikan, tahapan siklus hidup, laju pertumbuhan, formulasi pakan, penyakit, setres akibat fluktuasi normal di dalam lingkungan, ketersedian-hayati dan respon metabolik (pertumbuhan, resistensi penyakit, respon penstres).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2. Vitamin mix untuk pakan olahan bagi ikan lele, ikan mas dan ikan nila yang dibudidayakan dalam kolam (Schmittou, H.R., 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 300pt; margin-left: 14.1pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="400"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Jumlah/ton   pakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;5.5 juta   IU (aktif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin   D3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;2 juta IU   (aktif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin E&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;50 ribu   IU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin K&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;10 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin   B1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;20 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin   B2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;20 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin   B6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;10 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Niasin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;100 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Asam   Pantotenat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;50 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kholin   klorida (70%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;5 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Asam   folat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;5 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin   B12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Biotin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 120.15pt;" valign="top" width="160"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Inositol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 124.2pt;" valign="top" width="166"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1000 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitamin C &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(asam askorbat) &lt;/span&gt;merupakan hara penting dalam pakan ikan oleh fungsinyadalam sistem kekebalan tubuh, detoksifikasi senyawa toksik dan fungsi-fungsi fisiologis lainnya sebagai pereduksi metabolik. Tabel 3 memperlihatkan pengaruh peningkatan kadar vitamin C atas daya tahan (resistensi) tubuh terhadap penyakit bakterial pada ikan lele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3. Angka kematian (mortalitalitas) ikan lele yang diberi pakan berbagai kadar vitamin C dan diinfeksi dengan bakteri Edwardsiella ictaluri. (Schmittou, H.R., 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 300pt; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="400"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 115.8pt;" width="154"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin C   (mg/kg pakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 112.3pt;" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kematian dalam   8 hari (%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 115.8pt;" valign="top" width="154"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 112.3pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;100&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 115.8pt;" valign="top" width="154"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;60&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 112.3pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;70&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 115.8pt;" valign="top" width="154"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;150&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 112.3pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;35&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 115.8pt;" valign="top" width="154"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;300&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 112.3pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 115.8pt;" valign="top" width="154"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;3000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 112.3pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh defisiensi vitamin terhadap ikan budidaya sangat banyak dan beberapa diantaranya kritis. Gejala defisiensi vitamin yang paling menonjol untuk sebagian besar vitamin dan hara lainnya adalah terhambatnya pertumbuhan badan, kurang nafsunya makan dan kelesuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitamin terdapat di dalam semua pakan dan bahan penyusun pakan. Namun, vitamin-vitamin ini kandungannya sangat bervariasi dan tak dapat  diduga dan untuk sebagian besar diabaikan ketika memformulasikan pakan bergizi lengkap. Vitamin harus masih baru ketika dimasukkan ke dalam ke dalam pakan untuk menjamin aktivitasnya, dikemas dalam wadah tersalut yang kedap udara dan hampa udara, disimpan dalam lingkungan yang sejuk sampai saat digunakan, dimasukkan ke dalam pakan dalam waktu enam bulan sejak pengemasan, dan pakan tersebut di simpan dalam lingkungan yang sejuk, kering dan digunakan dalam waktu 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Mineral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suplemen mineral diperlukan dalam pakan ikan bergizi lengkap. Ikan memerlukan sampai 22 jenis mineral yang berbeda untuk pembentukkan jaringan, proses-proses metabolik dan menjaga keseimbangan osmotik antara cairan tubuh internal dan lingkungan airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisiensi mineral diet pada ikan budidaya belum berkembang sebaik defisiensi vitamin. Gejala defisiensi yang sudah diketahui dan baru diduga  adalah terhambatnya laju pertumbuhan, nafsu makan berkurang dan cacat tulang rangka. Defisiensi yang lazim dijumpai ialah yang berkaitan dengan kalsium dan fosfor, dua jenis mineral  yang paling banyak dibutuhkan. Kebanyakan ikan air tawardapat menyerap kalsium dalam jumlah mencukupi dari air, kecuali jika kandungan kalsium karbonat di dalam air berada di bawah 5 mg/l, sehingga tidak diperlukan didalam campuran pakan. Namun, fosfor suplemen diperlukan di dalam pakan, karena konsentrasi fosfor terlarut di dalam sebagian besar perairan air tawar terlalu rendah bila dianggap sebagai sumber fosfor yang nyata bagi ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pakan Ikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pakan untuk ikan kolam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan untuk ikan yang dibudidayakan secara intensif di dalam kolam harus bergizi lengkap dan sebaiknya bergizi seimbang. Seluruh kebutuhan hara bagi semua jenis ikan budidaya saat ini belum diketahui, namun kebutuhan hara untuk ikan lele, ikan mas, dan ikan nila biasanya dapat digunakan untuk jenis ikan air tawar lainnya yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan pelet kering bergizi lengkap dibutuhkan untuk ikan tersebut yang dibudidayakan secara intensif. Pakan alami tidak dianjurkan, kecuali rerumputan  (rumput dan bentuk vegetasi segar lainnya), yang mungkin dapat digunakan bersama pakan pelet untuk ikan herbivora seperti grass carp. Perbandingan relatif faktor-faktor utama antara sumber pakan alami dan pakan pelet kering dalam tabel 4. Pakan ikan berbentuk pelet, dalam proses pembuatannya dapat dibuat baik dengan cara kompresi maupun ekstruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4. Perbandingan faktor-faktor utama antara pakan alami dan pakan pelet (Schmittou, H.R., 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 300pt; margin-left: 11.4pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="400"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Faktor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pakan   alami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pakan   pelet&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kandungan   uap air&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi   (±80%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah   (±10%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;kualitas   gizi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kuantitas   gizi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kualitas   limbah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Potensi   polusi lingkungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Potensi   penyebaran penyakit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Efesiensi   pakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 114.5pt;" valign="top" width="153"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Biaya per   keuntungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 88pt;" valign="top" width="117"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 95.5pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Pembuatan pakan pelet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian kualitas dalam memilih bahan penyusun pakan merupakan hal yang penting dalam proses pembuatan pakan pelet. Pemilihan bahan penyusun bagi pakan didasarkan atas pemenuhan kebutuhan gizi dengan harga terendah. Pemilihan didasarkan atas batas-batas maksimum-minimum sesuatu bahan penyusun tertentu yang dapat dimasukkan/dicampurkan ke dalam pakan. Batas-batas maksimum biasanya bersifat spesifik oleh adanya bahan-bahan alami yang toksik yang mungkin terkandung di dalam bahan. Sedangkan batas-batas miinimun biasanya bersifat spesifik oleh adanya fungsi khusus bahan penyusunnya, misalnya stabilitas pelet dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Formulasi pakan ikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formula pakan ikan kolam dalam bentuk pelet kering telah dikembangkan sebagai formulasi tetap dan formulasi harga terendah atau suatu kombinasi keduanya.Pakan formulasi tetap adalah pakan ikan yang dihasilkan dari formula yang disusun dari bahan-bahan penyusun tertentu tanpa banyak mengubah bahan penyusun tersebut meskipun harganya berubah. Tabel 5 merupakan salah satu contoh pakan formulasi tetap. Sedangkan pakan dengan harga terendah adalah pakan yang dihasilkan dari pilihan berbagai jenis bahan penyusun yang secara kolektif harus memenuhi batasan-batasan gizi minimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 5. Model pakan bergizi lengkap (32% protein) untuk ikan lele, mas dan ikan nila yang dibudidayakan dalam kolam (Schmittou, H.R., 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid windowtext 1.0pt;  mso-border-alt:solid windowtext .5pt;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;  mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="width: 300pt; margin-left: 23.4pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="400"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bahan   Penyusun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kg/ton   pakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tepung   ikan (61% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;100&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tepung   kedelai (44 – 48% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;400&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tepung   gandum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;225&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dedak   padi/jagung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;140&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;T. biji   kapuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;52&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;T. biji   lobak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;50&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;minyak   ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Vit. Mix&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1.5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Mineral   mix.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Mono   kalsium fosfat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;As.   Askorbat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;0.5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 185.35pt;" valign="top" width="247"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Total&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 81.8pt;" valign="top" width="109"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;1000 g&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas Pakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan ikan dinilai dari segi kualitas kegizian dan fisiknya. Berikut ini faktor-faktor yang harus diperhatikan/diperiksa jika kita membuat atau menerima pakan:&lt;br /&gt;• Tidak boleh ada kapang – dapat diamati dengan mata dan melalui baunya&lt;br /&gt;• Debu halus atau debu pakan &lt;= 1% - dapat dilihat dengan mata • Stabilitas air yang buruk (10 menit untuk pelet kompresi dan 1 jam untuk pelet ekstruksi) • Tidak keras (pakan berikatan longgar) – dengan jari • Hasil gilingan bahan penyusun pakan kasar – dengan mata • Informasi label pakan  Dengan menggunakan pakan berkualitas dan program pemberian pakan yang baik, untuk sebagian jenis ikan yang sedang tumbuh (pembesaran) dari sekitar 40 sampai 600 g, nisbah konversi pakan (NPK) sebaiknya sekitar 1,5 ± 0,2 (yang tepat ialah NPK yang lebih rendah dan mungkin menjadi kebutuhan yang legal di tahun–tahun mendatang). NPK yang lebih tinggi akan mubazir dan mahal. Dalam batas-batas tertentu, semakin tinggi kualitas pakan, maka: • Semakin rendah NPK-nya • Semakin tinggi laju pertumbuhannya • Semakin tinggi hasil panenannya • Semakin tinggi kesehatan ikannya dan semakin rendah kejadian dan keparahan penyakitnya • Semakin rendah kualitas limbah yang masuk ke dalam lingkungan • Semakin tinggi kualitas airnya • Semakin rendah frekuensi dan jumlah aerasi serta pertukaran airnya • Semakin rendah kemungkinan ikan berbau menyimpang • Semakin tinggi harga pakannya, tetapi semakin rendah biaya produksinya.  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Moreau, Y., A. Hadadi &amp;amp; Emertus. 2005. Influence of Daily Protein Supply on Efficiency of Fishmeal Protein Substitution by Soybean Protein in Baung Juveniles Hemibagrus nemurus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Schmittou, H.R &amp;amp; Emertus. 2004 Principles and Practices of 80:20 Pond Fish Farming. Terjemahan dari : Hastiono, S &amp;amp; Tangendjaja, B.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sudaryono, A., Shin-ichi Teshima &amp;amp; Shunsuke Koshio. 2005. Evalution of Azola Meal as an Alternative to soybean meal in Juvenil Penaeus monodon Diets.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Penulis:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Herry adalah Perekayasa pada Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, devisi pakan. Konsultasi bisnis seputar pakan ikan dan analisa laboratorium, silahkan kontak kami.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-5490823479897176500?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/5490823479897176500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/gizi-dan-kualitas-pakan-pada-pola.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5490823479897176500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/5490823479897176500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/gizi-dan-kualitas-pakan-pada-pola.html' title='GIZI DAN KUALITAS PAKAN PADA POLA BUDIDAYA IKAN BERKELANJUTAN'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqM7NpoPwXI/AAAAAAAAAFI/NV9xGTvv3YY/s72-c/4.Domle.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-544550942631919471</id><published>2009-09-06T10:15:00.004+07:00</published><updated>2009-09-06T10:51:07.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>LELE BANTU PERTUMBUHAN JANIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqMxkbUeUgI/AAAAAAAAAFA/lun_M-LJORw/s1600-h/lele+goreng.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqMxkbUeUgI/AAAAAAAAAFA/lun_M-LJORw/s320/lele+goreng.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378196881889186306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap remeh ikan lele. Makanan yang mudah didapat dan murah ini, selain kaya zat gizi, juga membantu pertumbuhan janin dalam kandungan dan sangat baik bagi jantung karena rendah lemak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan lele (Clarias spp.) merupakan ikan air tawar yang dapat hidup di tempat-tempat kritis, seperti rawa, sungai, sawah, kolam ikan yang subur, kolam ikan yang keruh, dan tempat berlumpur yang kekurangan oksigen. Hal ini dimungkinkan karena ikan lele mempunyai alat pernapasan tambahan, yakni arborecent. Ikan lele dapat pula dipelihara di tambak air payau asal kadar garamnya tidak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan lele termasuk dalam famili Claridae dan sering juga disebut mud fish atau catfish. Di Indonesia, ikan lele dikenal dengan beberapa nama daerah, seperti ikan maut (Sumatera Utara dan Aceh), keling (Sulawesi Selatan), dan cepi (Bugis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan lele lebih dikenal sebagai hewan karnifora karena kegemarannya makan cacing, serangga air, dan udang. Ikan lele senang makan sisa bahan organik yang berprotein dan sisa-sisa dapur. Ikan lele juga memakan organisme busuk, sehingga termasuk dalam binatang scavengers (pemusnah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran lele di Indonesia meliputi Jawa, Sumatera, Bangka, Belitung, Kalimantan, Singkep, dan Sulawesi. Di Indonesia, terdapat lima jenis ikan lele lokal yang sangat terkenal, yakni Clarias batrachus L (lele, kalang, maut, cepa), Clarias leiacanthus Blkr (keli, penang), Clarias nieuhofi CV (lindim, lembat, kaleh), Clarias melanoderma Blkr (duri, wais, wiru), dan Clarias teysmani Blkr (lele kembang, kalang putih). Di antara kelima jenis ini, hanya Clarias batrachus L. yang paling sering dijumpai dan dipelihara karena dagingnya yang lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1980-an, masuklah varietas lele baru yang dikenal sebagai ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang berasal dari Afrika. Lele dumbo memiliki ukuran yang besar, sehingga dikenal sebagai king catfish. Selain itu, dari segi rasa, ikan lele dumbo lebih unggul daripada lele lokal. Meski demikian, beberapa orang masih tetap fanatik dengan lele lokal karena beberapa alasan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000-an, mulai dikenal lele phyton. Lele ini berasal dari Pandeglang, Banten yang merupakan hasil kawin silang antara lele dumbo lokal dan eks Thailand. Sebelumnya, para ilmuwan Indonesia juga berhasil mengembangkan varietas lele sangkuriang yang merupakan pengembangan dari varietas lele dumbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber Zat Gizi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan merupakan bahan makanan penting sebagai sumber zat gizi. Dilihat pada Tabel 1, dapat disimpulkan bahwa ikan air tawar dan payau memiliki protein tinggi, yaitu rata-rata 20 persen. Protein ikan adalah protein yang istimewa karena bukan hanya berfungsi sebagai penambah jumlah protein yang dikonsumsi, tetapi juga sebagai pelengkap mutu protein dalam menu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:7;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 302.25pt;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="403"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr  style="font-family:arial;"&gt;   &lt;td colspan="6" style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tabel 1.&lt;br /&gt;Komposisi beberapa ikan tawar dan payau (Vaas, 1956)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jenis   ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Protein&lt;br /&gt;(%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lemak&lt;br /&gt;(%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mineral&lt;br /&gt;(%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Air&lt;br /&gt;(%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;KH&lt;br /&gt;(%)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;80&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bandeng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;76&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tawes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;9,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5,1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;82&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gabus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;77&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0,2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;17,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2,0&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;75&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: silver none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lele&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;17,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1,2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;76&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="padding: 0in; background: rgb(204, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:arial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;0,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein ikan mengandung semua asam amino esensial yang dalam jumlah yang cukup. Protein ikan mengandung lisin dan metionin yang lebih tinggi dibanding protein susu dan daging. Ikan darat umumnya mengandung protein dengan kadar metionin dan sistin yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Tabel 2 dapat dilihat ikan lele dari genus Ictalaurus punctatus yang banyak terdapat di Amerika Serikat mengandung protein dengan kadar lisin dan leusin lebih tinggi dibanding daging sapi. Leusin sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga kesetimbangan nitrogen pada orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-alt:"ＭＳ 明朝";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Mincho";  panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10px.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 641px; height: 304px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="6" style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tabel 2.&lt;br /&gt;susunan asam amino esensial ikan lele (Ictarus punctatus) dan bahan pangan   hewani lainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: rgb(0, 204, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Asam   amino&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: rgb(0, 204, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Lele&lt;br /&gt;(% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: rgb(0, 204, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Haddock&lt;br /&gt;(% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: rgb(0, 204, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Daging   sapi&lt;br /&gt;(% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: rgb(0, 204, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Beras&lt;br /&gt;(% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: rgb(0, 204, 255) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Standar   FAO&lt;br /&gt;(% protein)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Arginin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;6,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;5,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;6,1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;8,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Histidin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 2,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 1,9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;3,6 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 2,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;- &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Asoleusin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 5,4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Leusin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 9,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 7,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 7,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 7,6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Lisin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 10,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 8,6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 8,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 2,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 5,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Metionin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 1,4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 2,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 2,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 1,4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 3,5*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Fenilalanin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 3,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 3,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 6**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Treonin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 3,6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Valin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 4,7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 5,6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 5,2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 6,4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Triptofan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 0,8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 0,9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 0,1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Total   esensial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 49,9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 46,3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 48,4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 43,2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: gray none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; -&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Nonesensial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 50,1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;53,7 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; 51,6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;56,8 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: lime none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; -&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sumber: Ikan Lele dari Fisheries annual report, Auburn University Agricultural Experiment Station, 1972.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haddock dan daging sapi dari Fish as Food (1962).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beras dari tables of Feed Composition NRCNAS, Washington DC, 1969.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;FAO dari FAO Pattern of Amino Acids, Protein requirements, WHO Technical Series no. 310, 1965&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;**Metionin dan Sistin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Fenilalanin dan tirosin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leusin juga berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot. Sementara lisin sangat dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pertumbuhan. Asam amino lisin menjadi kerangka bagi niasin dan sering dilibatkan dalam pengobatan penyakit herpes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaya Fosfor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari komposisi gizinya ikan lele juga kaya fosfor. Nilai fosfor pada ikan lele lebih tinggi daripada nilai fosfor pada telur yang hanya 100 mg. Peran mineral fosfor menempati urutan kedua setelah kalsium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tubuh, fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat, 80 persen berada pada tulang dan gigi. Fungsi utamanya sebagai pemberi energi dan kekuatan untuk metabolisme lemak dan pati, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyak dibanding saat-saat tidak mengandung karena ibu hamil butuh fosfor lebih banyak untuk tulang janinnya. Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari tulang sang ibu. Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Kebutuhan fosfor akan terpenuhi apabila konsumsi protein juga diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari perbandingan kalium dan natrium yang mencapai 24,5:1, ikan lele dapat digolongkan sebagai makanan sehat untuk jantung dan pembuluh darah. Makanan tergolong makanan sehat untuk jantung dan pembuluh darah bila mengandung rasio kalium terhadap natrium minimal 5:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalium diketahui bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah, terapi darah tinggi, serta membersihkan karbondioksida di dalam darah. Kalium juga bermanfaat untuk memicu kerja otot dan simpul saraf. Kalium yang tinggi juga akan memperlancar pengiriman oksigen ke otak dan membantu memperlancar keseimbangan cairan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rendah Lemak, Tekan Kolesterol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar lemak ikan air tawar dan payau termasuk rendah. Lemak tersebut terdapat pada bagian perut, terutama tubuh bagian bawah dan dalam hati. Lemak ikan sebagian besar berupa lemak sederhana, yakni trigliserida yang bersifat netral dan ada juga yang berbentuk kompleks seperti fosfolipida dan sterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam lemak ikan umumnya berantai karbon lurus dan mempunyai atom karbon antara 14 hingga 24 atom Jumlah asam lemak jenuh antara 17 hingga 21 persen dan asam lemak tidak jenuh antara 79 hingga 83 persen Tingkat asam lemak tidak jenuh yang tinggi membuat ikan air tawar, termasuk ikan lele baik untuk menekan kolesterol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan air tawar seperti lele juga mengandung omega-3, meskipun dengan kadar yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan ikan air laut. Kandungan omega-3 pada ikan lele hasil budi daya (sengaja dipelihara) jauh lebih rendah daripada ikan lele liar. Omega-3 sangat diperlukan tubuh untuk pencegahan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah Asam lemak omega-3 juga berperan sangat penting untuk proses tumbuh kembang sel-sel saraf termasuk sel otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karbohidrat pada ikan terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, yaitu sekitar 0 hingga 1,7 persen yang terdapat dalam bentuk glikogen. Ikan lele dari genus Ictalaurus punctatus tidak mengandung karbohidrat karena kadar lemaknya yang cukup tinggi sebagai sumber energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;Oleh:&lt;br /&gt;Prof. DR. Made Astawan&lt;br /&gt;Ahli Teknologi Pangan dan Gizi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Senior&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7220170308570534138-544550942631919471?l=mina-lestari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mina-lestari.blogspot.com/feeds/544550942631919471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/lele-bantu-pertumbuhan-janin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/544550942631919471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7220170308570534138/posts/default/544550942631919471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mina-lestari.blogspot.com/2009/09/lele-bantu-pertumbuhan-janin.html' title='LELE BANTU PERTUMBUHAN JANIN'/><author><name>H. Sumadji</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11642707130091739153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SiYYmJ-8bQI/AAAAAAAAACQ/cnC1kR8JS0o/S220/h.soemadji.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqMxkbUeUgI/AAAAAAAAAFA/lun_M-LJORw/s72-c/lele+goreng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7220170308570534138.post-7790780218677576167</id><published>2009-09-05T19:56:00.004+07:00</published><updated>2009-09-06T09:37:44.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>CERAHNYA PEMASARAN LELE DAN PEMBUDIDAYAANNYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqJjNOThxRI/AAAAAAAAAEw/L_t0Of2gsF0/s1600-h/CatFish+002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_UDxQG-gKObg/SqJjNOThxRI/AAAAAAAAAEw/L_t0Of2gsF0/s320/CatFish+002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377969983863244050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang ada menunjukkan kebutuhan lele terus meningkat, yang dibarengi kenaikan harga. Pada akhir 2005 harga sekilo lele di tingkat petern
